Sosial
Diduga Akibat Pembuangan Limbah Pabrik Tahu, Sungai di Siraman Tercemar dan Berbau
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Sungai di wilayah Desa Siraman mulai tercemar limbah yang diduga dari pabrik tahu. Akibatnya, tak hanya terjadi penurunan kualitas air, mulai tercium bau tak sedap yang muncul dan menggangu warga setempat. Selain itu, tercemarnya sungai juga menyebabkan rusaknya ekosistem dan berimbas pada menurunnya populasi ikan di sungai di sekitar sungai.
Sekretaris Desa (Sekdes) Siraman, Tri Mulatsari mengatakan, saat ini bau tak sedap memang muncul dari kawasan sungai di desanya. Hal itu diduga lantaran adanya pabrik tahu yang membuang limbahnya ke sungai secara asal-asalan. Namun menurutnya, limbah itu tidak hanya berasal dari wilayahnya, melainkan juga dari wilayah lain.
“Ada limbah lain yang datangnya dari Desa Kepek,” kata Tri, Jumat (01/03/2019).
Ia menambahkan, pihak desa juga telah mengambil langkah terkait adanya pencemaran lingkungan. Bahkan belum lama ini, pihaknya telah membuka komunikasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gunungkidul terkait dengan limbah dari produksi tahu.
“Dulunya, Sungai Besole biasa dipakai untuk mencuci baju atau memandikan sapi, sekarang tidak bisa. Sekarang keadaannya tidak ada ikan yang ada di sungai,” imbuhnya.

Untuk diketahui, di Desa Siraman dan Desa Kepek memang warganya punya beberapa usaha industri rumahan yaitu tahu dan tempe. Namun demikian, para pembuat tempe dan tahu kurang memperhatikan dampak pencemaran lingkungan dari limbah yang dibuang ke sungai.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Penataan DLH Gunungkidul, Johan Wijayanto menyatakan, limbah hasil tahu seharusnya dikelola dengan baik. Meskipun, nantinya limbah tersebut bisa dibuang ke sungai namun harus melewati beberapa proses terlebih dahulu.
“Limbah hasil olahan tahu yang boleh dibuang ke sungai adalah limbah yang sudah dikelola, ibaratnya sudah bening limbahnya,” ucap Johan.
Lebih lanjut Johan mengungkapkan, pihaknya siap menerima apabila ada warga yang melaporkan soal pencemaran lingkungan. Lantaran, ada aturan soal pengaduan yakni Perturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P22 tahun 2017 tentang Tata Cara Pengelolaan Pengaduan Dugaan Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup.
“Soal aduan harus menjelaskan soal lokasi, dampak pencemaran, berapa lama, sumbernya dari mana, dan harus ada identitas resmi bagi yang melapor,” kata dia.
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized4 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized3 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized4 minggu yang laluDua SPPG di Gunungkidul Belum Kantongi SLHS
-
Uncategorized2 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized2 hari yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized2 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized2 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
-
Uncategorized2 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
