fbpx
Connect with us

Info Ringan

Lima Film Tentang Hacker

Published

on

Jogja,(pidjar.com)–Hacker atau pelaku aktivitas peretasan selalu menjadi bahan yang menarik untuk dibahas. Tak heran jika film tentang hacker mudah laku di pasaran, sebab alur ceritanya selalu menarik, dengan dibumbui genre action atau misteri dalam keseluruhan cerita. Kecanggihan teknologi yang membuat segala sesuatu serbamungkin, menggambarkan seolah-olah tidak ada keamanan dalam akses internet di dunia ini. Mulai dari hak privasi perorangan, hingga mudahnya transaksi jual beli dan pembobolan bank, yang dapat dilakukan hanya dengan modal personal computer (PC). Berikut lima film yang mengusung tema hacker, serta dilengkapi plot apik sekaligus mampu menyajikan keseruan dunia peretasan yang dilansir dari cnn.

Snowden (2016)

Snowden adalah film tentang hacker yang diadaptasi dari kisah nyata mengungkap rahasia CIA terhadap warga AS.  Film arahan sutradara Oliver Stone ini mengangkat kisah nyata yang dialami oleh Edward Snowden, yang mengungkap beberapa ‘dosa besar’ CIA dan NSA, terhadap warga Amerika Serikat (AS). Dengan durasi 134 menit, penonton akan diajak melihat kisah perjuangan Edward Snowden (Joseph Gordon-Levitt) yang dianggap pahlawan, sekaligus dianggap pengkhianat. Snowden merupakan seorang prajurit, yang kemudian memutuskan untuk beralih profesi menjadi ahli komputer intelijen CIA dan NASA. Dan berakhir membocorkan rahasia kedua badan intelijen tersebut kepada salah satu media ternama di AS. Polah Snowden tentunya dengan alasan, usai ia mengetahui bahwa ternyata, mereka menyediakan data waktu nyata yang membantu pilot drone AS dalam meluncurkan serangan mematikan terhadap para tersangka teror di Pakistan. Dengan bantuan jurnalis Ewen MacAskill (Tom Wilkinson), informasi tersebut disebarluaskan kepada pers pada 5 Juni 2013. Snowden juga mengungkapkan beberapa rahasia NSA dan CIA, seperti selama ini mereka selalu memata-matai seluruh kegiatan internet yang dilakukan warganya. Tak hanya warga, bahkan beberapa pemimpin negara juga turut berimbas.

Black Hat (2015)

Film yang ditulis, diproduseri, dan disutradarai oleh Michael Mann ini turut menjadikan Kota Jakarta sebagai salah satu latar tempat film berdurasi 133 menit ini. Black Hat dibintangi oleh Chris Hemsworth sebagai aktor utama memerankan Nicholas Hathaway, seorang hacker profesional yang menjadi tahanan pemerintah AS karena aksi pembobolan bank. Suatu hari, Hathaway direkomendasikan Ceng Da Wai (Wang LeeHom) untuk membantunya dalam upaya penyelesaian kasus peretasan di sistem pembangkit tenaga nuklir di Cina. Akhirnya, Hathaway didapuk Da Wai untuk bekerja sama bersama dengan FBI. Mereka memiliki target utama para sindikat peretas yang teridentifikasi menggunakan malware hasil karya Hathway dan Da Wai sewaktu berkuliah di MIT. Aksi pembongkaran sindikat hacker tersebut semakin sulit, manakala mereka ternyata beraksi tak sendirian. Mereka memiliki berbagai sindikat dan tim yang bekerja di berbagai negara. Pencarian tersebut membawa mereka ke dalam petualangan melintasi negara, mulai dari Los Angeles, Beijing, hingga Jakarta.

Who Am I (2014)

Dalam durasi 105 menit, film ini menceritakan Benjamin (Tom Schilling) dengan model flashback, usai ia menyerahkan diri ke Europol. Di hadapan investigator Hanne Lindberg (Trine Dyrholm), ia mengaku telah melakukan kejahatan siber dan meminta perlindungan polisi karena merasa diburu musuh. Benjamin terus bercerita. Dari sinilah kisah bergulir, mengulas balik ke masa lalu, sejak ia masih kanak-kanak hingga menjadi pemuda nerdy yang kesepian dan kikuk di depan gadis incaran, Marie (Hannah Herzsprung). Dalam kesehariannya, ia akhirnya bertemu dan bergabung menjadi tim dengan Max (Elyas M’Barek), Stephan (Wotan Wilke Möhring) dan Paul (Antoine Monot Jr.). Mereka menghebohkan Jerman, saat berhasil meretas perusahaan ternama, hingga media penyiaran. Aksi mereka kemudian diunggah dalam kanal YouTube, sehingga menjadikan mereka yang tergabung dalam ‘CLAY’ menjadi kelompok peretas yang diburu di Eropa. Tak hanya itu, penonton seakan dibuat menebak-nebak dengan ragam teka-teki yang dihasilkan film ini. Pasalnya, tak hanya tentang aksi peretasan yang hebat, film ini juga menyinggung beberapa penyakit psikologis, yang membuat penonton ikut ‘pusing’.

Eagle Eye (2008)

Film berdurasi 188 menit ini, menceritakan kehidupan dari dua orang manusia berlatar belakang berbeda yang tidak saling mengenal tetapi dipersatukan dalam sebuah telepon misterius. Namun, telepon misterius dari seorang wanita itu ternyata tidak membawa kabar baik, sebab mampu membawa ancaman besar bagi kehidupan mereka. Dikisahkan, Jerry Shaw (Shia LaBeouf) merupakan pemuda alumni Universitas Stanford yang masih menganggur dan tengah mengalami quarter life crisis. Namun suatu hari, tabungannya terisi banyak nominal uang, dan flat tempat tinggalnya mendapatkan banyak kiriman senjata. Keanehan tersebut terjadi usai meninggalnya saudara kandungnya karena kecelakaan. Saudara Jerry merupakan seorang yang ambisius dengan algoritma dan elektronik kuantum. Setelah itu, ia menerima telepon yang menyatakan sebentar lagi FBI akan menangkapnya. Eagle Eye, juga dibintangi oleh artis ternama seperti Rosario Dawson, Michael Chiklis, Anthony Mackie, Ethan Embry, Billy Bob Thornton, dan Anthony Azizi.

Die Hard 4.0: Live Free or Die Hard (2007)

Die Hard adalah film tentang hacker yang menceritakan misi mengungkap misteri peretasan di beberapa fasilitas di AS. Film Die Hard part keempat yang rilis pada 22 Juni 2007 ini memperoleh total penerimaan box office internasional lebih dari 388 juta dolar AS dan menjadikannya film terlaris, sekaligus tertinggi dalam seri Die Hard lainnya. Secara garis besar film yang mengusung genre action-thriller ini menceritakan pertarungan sengit yang disebabkan peretasan di sejumlah fasilitas di Amerika Serikat (AS). Dalam perjalanan kisahnya, McClane dan Farrell bekerja sama untuk memecahkan misteri atas kekacauan yang terjadi. Farrell mengaku kepada McClane bahwa ia telah menulis sebuah algoritma untuk mengetahui kegagalan dan peretas sistem tersebut. Mereka berdua harus melawan tim Gabriel yang mulai bengis dengan berhasil meretas kendali jaringan transportasi dan pasar saham. Posisi Gabriel sangat mengancam stabilitas AS pada saat itu. Durasi film selama 129 menit ini mampu membuat penonton bersorak dan deg-degan menonton adegan laga para aktor pemain kenamaan AS ini.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler