fbpx
Connect with us

Peristiwa

Cegat Truk Pengangkut Material Tower, Warga Nyaris Bentrok Dengan Kontraktor

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Warga Padukuhan Jeruksari RT 13 RW 24, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari nyaris bentrok dengan pihak kontraktor pembangunan tower pada Jumat (31/08/2018) siang tadi. Konflik ini dipicu adanya truk yang hendak menurunkan material di sekitar lokasi yang rencananya akan dibangun tower sebuah perusahaan telekomunikasi. Warga setempat sendiri memang telah jauh-jauh hari melakukan penolakan. Beruntung saat kejadian, sejumlah aparat dari Polsek Wonosari dan Polres Gunungkidul berhasil mengamankan keadaan sehingga tak sampai ada bentrok fisik diantara kedua belah pihak.

Pantauan pidjar.com, masalah mulai muncul ketika sekitar pukul 10.00 WIB warga melihat truk berisi material pembangunan tower tiba-tiba berdatangan untuk memasok material di sekitar lokasi. Warga yang geram kemudian melakukan aksi penghadangan. Mereka melarang truk-truk untuk menurunkan material tersebut.

Sempat terjadi perdebatan sengit antara kedua belah pihak. Adanya potensi terjadi konflik ini membuat aparat kepolisian berdatangan untuk melakukan pengamanan.

Pertemuan yang berlangsung di sekitar lokasi pembangunan tower itu berlangsung dengan saling klaim pendapat. Masyarakat mengklaim bahwa selama ini tidak ada proses perizinan yang diurus oleh pihak pengembang. Begitupun dengan pihak kontraktor yang mengaku telah mengantongi izin dari Pemkab Gunungkidul untuk melakukan pembangunan tower. Perdebatan akhirnya diakhiri ketika kumandang Adzan Zuhur terdengar.

Berita Lainnya  Dugaan Bancakan Proyek Pengadaan Masker, Aktifis Kirim Surat Aduan ke Presiden Hingga KPK

Salah seorang warga setempat, Heri Santosa mengatakan, aksi yang dilakukan warga ini merupakan bentuk dari konsistensi masyarakat menyikapi rencana pembangunan tower. Masyarakat Jeruksari telah sepakat dan tetap kukuh untuk melakukan penolakan.

“Selama belum ada musyawarah dengan warga kami akan menolak. Seperti hari ini, truk kami larang menimbun material di sekitar lokasi,” kata Heri.

Ditambahkan Heri, kejengkelan warga juga dipicu tidak adanya respon dari kontraktor setelah beberapa bulan lalu warga memberikan penolakan. Pihaknya menilai, kontraktor nekat dan menyepelekan warga setempat.

“Dulu sudah kita pasang portal dan spanduk di 2 titik yaitu di batas wilayah RT 13 tepatnya di sebelah timur Masjid Al Huda RT 12 RW 24 dan di dekat jembatan yang berbatasan dengan tanah milik Kodim 0730/GK. Setelah itu tidak ada respon lagi,” imbuh dia.

Masyarakat, kata Heri, meminta pihak kontraktor mengurus perizinan ulang. Yakni dengan melakukan sosialisasi serta penandatangan izin mulai dari tingkat RT dan RW.

“Dulu itu katanya bukan untuk tower izinnya. Dan warga juga tidak ada yang dikasih tahu, kita minta ada proses ulang. Sebelum itu dilakukan, tidak boleh ada material atau barang pembangunan tower yang masuk ke wilayah kami,” tegas Heri.

Sementara itu, salah dari pihak kontraktor saat dikonfirmasi enggan memberikan komentarnya. Ia memilih irit bicara sembari meninggalkan wartawan.

Berita Lainnya  Rumah Kebakaran Akibat Lupa Matikan Api Usai Masak, Ngatimin Merugi Puluhan Juta

“Tunggu saja besok, kita akan sosialisasi ulang dengan warga,” kata penanggung jawab proyek pembangunan tower, Gandhi.

Sebagaimana diketahui, rencana pembangunan tower sendiri awalnya sudah sempat dibahas pada tahun 2005 silam. Saat itu, tower akan dibangun di tanah milik salah seorang warga. Atas berbagai macam pertimbangan, sebagian besar warga saat itu menolak adanya pendirian tower di wilayahnya.

Kemudian, tahun 2015, pemilik lahan meminta persetujuan kepada 10 orang warga yang memiliki tanah di radius 30 meter dari lahannya. Saat itu, warga mulai terpecah di mana sebagian warga menyetujui pembangunan tower dengan membubuhkan tanda tangan persetujuan sementara warga lainnya tetap menolak.

Waktu terus berjalan, hingga tahun 2018 lantaran tidak ada kata sepakat, tidak ada pergerakan lanjutan dari rencana pendirian tower. Warga pun tetap tenang lantaran mengira pendirian tower tidak dilanjutkan karena tak mendapat izin dari warga setempat.

Namun warga mulai bergejolak ketika 14 April 2018 kemarin, berdatangan truk beserta material pembangunan tower berkeliaran di lokasi yang menjadi sasaran pendirian tower ini. Warga yang tidak pernah menyetujui lantas lantas memasang portal dan spanduk agar truk-truk pengangkut material tersebut tidak bisa masuk.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler