Sosial
Cerita Driver Ojol Menjaga Asa di Tengah Pandemi, Stand By Hingga 24 Jam
Wonosari, (pidjar)–Bermodal masker, sarung tangan, dan hand sanitizer, para driver ojol yang beroperasi di Gunungkidul tetap melaju mengantar pesanan. Tak ada pilihan lain, para driver ojol ini harus tetap berada di jalanan untuk bekerja agar dapurnya tetap ngebul. Sudah setahun lebih pandemi melanda negeri ini, selama itu pula pemerintah membatasi aktifitas masyarakat. Tak sedikit masyarakat mengubah pekerjaannya menjadi Work From Home (WFH). Namun tentu saja hal ini tak bisa dilakukan oleh para driver ojol, yang harus tetap bekerja di jalanan. Mereka terus menjaga asa di tengah pandemi untuk menghidupi keluarganya.
“Di Gunungkidul ini ada sekitar 200 driver ojol yang sekarang mengalami hal yang sama, selama pandemi apalagi saat PPKM Darurat, orderan sangat turun,” cerita salah seorang driver ojol, Yusuf Agung Wibowo saat ditemui pidjar-com-525357.hostingersite.com, Selasa (03/08/2021).
Pria berusia 40 tahun ini menuturkan, ia sudah bergabung menjadi driver ojol sejak tahun 2017 lalu. Selama itu pula jasa pengantaran berbasis online ini menjadi gantungan hidupnya dan keluarganya. Pria yang akrab disapa Ucup ini menceritakan perbandingan pendapatan saat sebelum adanya pandemi dan saat terjadinya pandemi. Menurutnya, rentang waktu orderan yang satu dengan yang lainnya selama pandemi ini berjarak lama sekali.
“Sebelum pandemi, biasanya setelah mengantar pesanan itu ada orderan yang masuk lagi. Tapi sekarang bisa nunggu sampai 3 jam baru ada pesanan lagi,” keluhnya.
Rentang waktu antar orderan yang lama turut memperpanjang waktu pekerjaannya. Hal ini karena ia harus memenuhi target agar mendapatkan peringkat yang bagus. Ia melanjutkan, bahkan ada beberapa temannya yang rela berjaga 24 jam guna menjaga asap di dapur rumah masing-masing tetap ngebul.

“Yang 24 jam itu biasanya istirahat disini (basecamp), kalo ada orderan langsung jalan,” imbuhnya.
Ucup yang juga sebagai ketua Gojek Tamkul Street ini menambahkan, yang paling memberikan dampak bagi para driver ojol adalah liburnya sekolah-sekolah di Gunungkidul. Selama ini, para driver Ojol banyak sekali mendapatkan order dari para pelajar yang akan berangkat sekolah maupun pulang sekolah.
“Dulu pas sebelum pandemi sehari bisa 200 – 300 ribu. Tapi sekarang karena diliburkan, jadi sehari cuma sekitar 150 ribu, itu kotor, belum bensin makan dan lain-lain,” lanjut dia.
Dia menceritakan pengalaman menariknya selama pandemi berlangsung. Tak jarang dirinya dan teman-temannya sering mengantarkan pesanan ke pasien covid19 yang tengah menjalani perawatan di rumah sakit ataupun di tempat isolasi mandiri. Meskipun hal tersebut beresiko, namun hal ini tetap dijalaninya. Tak lupa dirinya dan teman-temannya tetap menggunakan prokes yang ketat.
Keluhan yang sama turut dialami driver ojol lainnya, Margiono (45). Pria asal Kapanewon Paliyan tersebut mengeluhkan dengan turunnya pendapatan saat pandemi.
“Saya berangkat jam 10 pagi, kemudian selesai jam 12 malem. Itupun biasanya cuma dapet 10 orderan. Ya mungkin sekarang daya beli masyarakat sedang turun, jadi kami ikut kena imbasnya,” keluh Margiono.
Selain persoalan turunnya pendapatan, Ucup dan teman-temannya juga mengeluh mengenai belum adanya bantuan dari pemerintah terhadap dirinya dan teman-temannya.
“Kami sering mengantar makanan ke pasien, ke dokter, ke perawat, mereka turut terbantu dengan jasa kami, namun saat ini belum ada bantuan untuk kami”, bebernya.
Menjadi driver ojol memang sangat rentan tertular covid19, mengingat profesinya berinteraksi dengan banyak orang. Guna tetap memastikan dirinya dan teman-temannya aman dari covid19, para driver ojol melakukan penyemprotan desinfektan serta cek suhu di salah satu tempat di Wonosari. Saat berkendara juga tetap memakai masker dan membawa hand sanitizer. Cara tersebut dapat memastikan bahwa tiap driver tetap aman saat bekerja.
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized3 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Peristiwa3 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized4 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized2 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized2 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized2 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
-
Uncategorized2 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
