Sosial
Harga Bawang Putih Terus Melambung Tinggi, Kenaikan Diperkirakan Terjadi Hingga Lebaran
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Harga komoditas bawang putih di Pasar Argosari kian melonjak. Kenaikan harga bawang sendiri terjadi sejak dua minggu belakangan ini. Menjadi cukup mendapatkan perhatian lantaran kenaikan yang terjadi saat ini sudah mencapai sekitar 50%. Kenaikan bawang disebabkan oleh kebutuhan masyarakat yang melonjak menjelang Ramadhan sementara hampir semua distribusi mengandalkan pasokan dari luar daerah.
Salah seorang pedagang kebutuhan pokok di Pasar Argosari, Suprihatin mengatakan, sejumlah kebutuhan pokok di pasaran memang mulai mengalami kenaikan harga. Namun untuk saat ini, yang mengalami kenaikan cukup tinggi ada di komoditas bawang putih. Harga bawang sendiri sekitar 2 minggu yang lalu berkisar pada harga Rp 32.000. Namun untuk saat ini, harga komoditi ini melambung hingga mencapai Rp 45.000 untuk bawang putih dengan kualitas biasa. Sementara untuk bawang putih dengan kualitas lebih baik, harganya mencapai Rp 50.000.
“Kalau yang kelihatan naik drastis ya bawang putih. Untuk bawang merah stabil di harga Rp. 40. 000,- per kilogramnya,” jelas Suprihatin kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, Kamis (25/04/2019) siang.
Menurutnya, atas kenaikan drastis ini, cukup banyak pembeli yang protes. Namun demikian, ia sendiri tak bisa berbuat apa-apa mengingat harga dari distributor sendiri memang sudah naik.
“Ya mau bagaimana lagi karena mereka (pembeli) juga butuh,” beber dia.

Kepala Bidang Perdagangan, Disperindag Kabupaten Gunungkidul, Yanuarti menambahkan, kenaikan harga yang terjadi, khususnya pada komoditi bawang putih ini adalah fenomena biasa yang terjadi terutama saat mendekati bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Bahkan pihaknya memperkirakan, kenaikan harga ini akan terus terjadi hingga Lebaran mendatang.
“Ini lantaran faktor permintaan saja, biasanya kenaikan terjadi sampai lebaran. Ya hal yang wajar mau puasa banyak masyarakat yang membutuhkan bawang lebih banyak,” tutur Yuniarti.
Sementara itu, Kepala Bidang Holtikultura, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Budi Sudatanto memaparkan, untuk kebutuhan bawang putih, Kabupaten Gunungkidul saat ini masih mengandalkan suplai dari luar daerah. Sesuai dengan karakteristik tanamannya, bawang putih memang tidak terlalu cocok ditanam di lahan Gunungkidul. Biasanya, tanaman bawang putih tumbuh subur di wilayah yang memiliki karakteristik dataran tinggi.
Meski demikian, untuk mencegah ketergantungan dengan pasokan dari luar, pihak Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul terus mencoba dan mendorong masyarakat agar mengembangkan penanaman bawang putih di lahan mereka. Namun demikian, dengan kelemahan yang ada, pihaknya baru mendorong untuk penanaman dengan tujuan konsumsi pribadi saja.
“Kami pernah mencoba menanam bawang untuk dataran rendah, sebenarnya lebih unggul dari pada bawang impor namanya bawang lumbu putih. Lebih tajam baunya tapi kecil-kecil sehingga di lapangan kurang kompetitif, jadi kalah dengan bawang import,” ujar Budi.
Hingga kini, dikatakan Budi masih ada masyarakat Gunungkidul yang menanam bawang jenis lumbu putih ini, namun hanya untuk konsumsi pribadi. Okeh karena itu, di tengah harga bawang putih yang kian melonjak di pasar, pihaknya saat ini sedang mendorong petani Kabupaten Gunungkidul untuk mengembangkan bawang lumbu putih.
“Kepala Dinas sudah menganggarkan, saya cari benih yang cocok untuk dataran rendah tapi memang tidak ada. Saya rapat di NTB kita dapat alokasi anggaran pengembangan bawang putih 35 hektare, namun demikian saat itu diklarifikasi benih lumbu putih tidak memadai untuk penanaman 35 hektare sehingga program swasembada dari Kementan tidak jadi dijalankan di Gunungkidul,” jelasnya.
Saat itu, ada tiga opsi yang ditawarkan oleh Kementan untuk mendapatkan benih bawang putih. Ketiga opsi tersebut iala impor dari Cina, Mesir dan India.
“Namun ketiga benih tersebut hanya cocok ditanam di dataran tinggi akhirnya kami batalkan. Kami mengupayakan petani bawang lumbu putih ini dari Kementan untuk memberi anggaran untuk penanaman bawang 60 kilogram,” jelasnya.
Ia memantau, petani di Kabupaten Gunungkidul yang masih menanami bawang jenis lumbu putih ada di Desa Logandeng.
“Kami klarifikasi kelompok yang menanam bawang tersebut, ternyata cuma ada 35 kilogram, kami dampingi dalam penanaman dan pemberian pupuk kami usahakan pupuknya organik,” jelasnya. (Ulfah Nurul Azizah)
-
Info Ringan6 hari yang laluResep Lamian Kuah Daging Sapi
-
Peristiwa2 hari yang laluTragis, Pelajar SMP di Semanu Ditemukan Meninggal G4ntung D1r1 di Pohon Jambu Mete
-
Info Ringan2 hari yang laluResep Soto Tangkar
-
Peristiwa4 minggu yang laluUang Pembangunan Masjid Al Uswah Senilai Rp 13 Juta Raib
-
Uncategorized2 minggu yang laluLomba Rebahan Pertama di Indonesia Digelar di JCM, Siapkan Hadiah Rp5 Juta
-
Budaya3 minggu yang laluWujudkan Kedaulatan Budaya, Kampung Gambiran Yogyakarta Semai Biji Pohon Gambir
-
Uncategorized4 minggu yang laluMotor Pelajar Raib Saat Jam Sekolah, Polisi Bekuk Pelaku di Alun-Alun Wonosari
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Transformasi Birokrasi di Era Pemerintahan Digital, Diskominfo Luncurkan Inovasi Sadulur
-
Peristiwa4 minggu yang laluLansia di Rongkop Ditemukan Tewas Gantung Diri di Dalam Rumah
-
Uncategorized3 minggu yang laluMuncul Titik-titik Amblasan Baru, BPBD Gunungkidul Gandeng Universitas Diponegoro Teliti Struktur Tanah di Tileng
-
Pemerintahan3 minggu yang laluAntisipasi Kasus Kekerasan Layaknya di Kota Yogyakarta, Pemkab Gunungkidul Perketat Pengawasan di Daycare
-
Uncategorized2 minggu yang laluSewindu Mengabdi untuk Pendidikan, SMA Muhammadiyah Al Mujahidin Catatkan 1.000 Prestasi
