Budaya
Kenang Bondan Nusantara, Rembulan Wungu akan Pentas di TBY
Jogja,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)– Gelar Karya Maestro Taman Budaya Yogyakarta kembali hadir tahun ini. Mengusung sosok seniman kethoprak Bondan Nusantara, pentas tersebut menjadi sebuah pagelaran besar yang akan dimainkan oleh aktor 3 generasi pada 11 Juni 2024 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
Almarhum Bondan Nusantara merupakan sosok penulis, sutradara dan praktisi kethoprak yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk kethoprak. Bondan Nusantara juga merupakan seorang wartawan majalah dan Koran Bernas.
Seniman dan budayawan Yogyakarta, Bambang Paningron mengatakan, tema pementasan dari naskah Bondan Nusantara yang berjudul Rembulan Wungu. Pentas Ketoprak Rembulan Wungu disutradarai oleh Tejo Suyanto menampilkan aktor dari 3 generasi antara lain Widayat, Hargi Sundari, Sugiman, Dwi Nurseto, Eko Asmoro, Riyatmi, Dalijo Angkring hingga Dina Trinil.
“Bondan Nusantara identik dengan kethoprak karena seluruh hidupnya dicurahkan karena dari 70 tahun kehidupan, sepanjang itu pula ia berkethoprak,” katanya dalam konferensi pers di TBY, Jum’at (7/6/2024).
Menurut Bambang, pertunjukan tersebut adalah sebuah kewajaran bahwa TBY memberikan penghargaan dalam wujud pergelaran khusus pada Bondan. Meski penghargaan ini tentu belum cukup karena perjalanan begitu panjang.
“Beliau memunculkan tim pengembangan kethoprak, potensi anak-anak muda terlihat dan saat ini sangat banyak jumlahnya. Kami ingin mengenang sebagai sosok pejuang kebudayaan, peradaban DIY pada umumnya,” tandasnya.
Rembulan Wungu dipilih dari ratusan naskah Bondan Nusantara dan dibuat pada 2002 silam. Naskah ini bercerita latar Kerajaan Mataram saat masih di Pleret dan kesewenang-wenangan raja Amangkurat saat itu. Naskah itu bercerita tentang bagaimana melanggengkan kekuasaan dan bumbu romansa perempuan menjadi bagian yang akan diceritakan.
“Naskah ini klasik, ada isi dan nilai yang ingin kami munculkan. Ada tiga generasi pemain mulai senior, middle dan anak muda yang hampir semuanya murid Bondan Nusantara,” imbuh Bambang.
Pada kesempatan yang sama, Koes Yuliadi menjelaskan, kethoprak tak hanya hiburan tradisional tapi bisa memancing pemikiran kritis pada masa saat ini.
“Bagaimana melihat konteks politik saat ini dikaitkan dengan cerita pada masa lalu, saya kira menjadi bagian penting untuk disampaikan,” lanjutnya.
Sutradara, Tejo Suyanto menyebut, dalam pagelaran nanti ia sangat yakin pentas berjalan maksimal karena para pemain sudah sangat menyatu dengan kethoprak.
“Tak hanya senior, para pemain muda juga memiliki jam terbang luar biasa sehingga akan menciptakan kolaborasi baik, ” pungkasnya.(Ken)
-
Uncategorized1 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized2 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya1 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial1 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized2 hari yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Uncategorized1 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized1 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized2 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized4 hari yang laluDua Oknum Kejaksaan di Gunungkidul Diduga Terlibat Skandal Asusila
