fbpx
Connect with us

Sosial

Musim Ungkrung, Hutan-hutan Jati Setiap Hari Kini Ramai Dijubeli Warga

Published

on

Paliyan,(pidjar.com)–Sejak beberapa waktu terakhir, sejumlah kawasan, khususnya di hutan jati setiap sorenya ramai oleh warga masyarakat. Warga yang tak sedikit pula berasal dari lokasi yang cukup jauh tersebut sibuk berburu ungkrung atau ulat jati. Rasa yang gurih serta harga keekonomian yang cukup mahal membuat banyak warga yang bahkan rela meninggalkan pekerjaan demi untuk berburu ungkrung jati.

Mereka rela menghabiskan waktu seharian agar dapat mengantongi ungkrung sebanyak-banyaknya baik nantinya untuk lauk maupun untuk dijual. Tak heran saat ini, pemandangan riuhnya sejumlah hutan jati di Kecamatan Playen atau Paliyan menjadi cukup biasa.

Dengan tekun, warga mengorek dedaunan yang berada di bawah pepohonan. Atau bahkan tak sedikit pula yang nekat memanjat pohon-pohon jati yang ada. Di wilayah hutan Jati Banyusoca misalnya, sejumlah warga setiap hari berdatangan di hutan jati tersebut. Tak hanya didominasi warga setempat, banyak pula yang datang dari Kecamatan Saptosari dan bahkan dari Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

Seperti diungkapkan Agung, warga Desa Banaran, Kecamatan Playen. Ia mencari ungkrung jati sejak pagi hari di ladang tak jauh dari rumahnya. Biasanya, ia mulai mencari pohon jati dengan kondisi daun habis dimakan ulat (trigis). Menurutnya, di lokasi semacam inilah biasanya banyak ditemukan ungkrung ataupun ulat.

“Lumayan buat lauk. Kalau dapatnya banyak ya jadi camilan wedangan kalau ada teman yang datang,” katanya, Senin (17/12/2018).

Sebagai penikmat tahunan, dia pun rela menghabiskan waktu seharian di ladang. Sambil membawa toples, ungkrung maupun ulatnya yang sudah mudel (mau beralih dari ulat ke ungkrung) diangkutnya. Dia mencari ungkrung tidak sendirian tetapi ditemani oleh sejumlah warga tetangganya.

“Kalau untuk hari hari ini banyak dapatnya. Sedang musim-musimnya,” jelasnya.

Ungkapan senada disampaikan Tedi Bayu Saputra, warga Desa Giring, Kecamatan Paliyan. Sejak beberapa hari terakhir ia juga memilih berburu ungkrung. Masa libur sekolah saat ini membuatnya lebih leluasa untuk berburu makanan ekstrim ini.

“Ya dari pada tidak ada kegiatan, pilih pergi ke hutan jati ini untuk mencari ulat,” kata pelajar SMK tersebut.

Dalam sehari dirinya mampu memperoleh hasil buruan hampir satu kilogram. Selain untuk dikonsumsi sendiri, dirinya juga berburu untuk dijual kepada tetangga sekitar yang memesan. Harganya pun cukup tinggi. Per kilogramnya, ia bisa mengantongi Rp 80 ribu.

“Dimakan sendiri juga enak, apa lagi kalau dijual laku bisa buat tambah uang saku,” imbuh dia.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler