Uncategorized
Petunra Gunungkidul Kolaborasikan Edukasi Publik dengan Pameran Batik Karya Siswa
Wonosari, (pidjar.com)– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) kembali menggelar Pertunjukan Rakyat (Petunra) sebagai sarana hiburan sekaligus edukasi bagi masyarakat. Dalam kegiatan kali ini, Petunra dikolaborasikan dengan pameran potensi batik karya siswa sekolah dan pelaku usaha untuk memperingati Hari Batik sekaligus Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul, Kamis, (08/10/2026).
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Gunungkidul, Didik Handoko, mengatakan Petunra merupakan agenda rutin pemerintah daerah yang tidak hanya bertujuan memberikan hiburan kepada masyarakat, tetapi juga menyampaikan pesan edukasi yang relevan dengan perkembangan daerah dan program-program pemerintah.
“Petunra ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan Pemkab Gunungkidul melalui Diskominfo. Bukan hanya sekadar hiburan bagi masyarakat, tetapi dalam pertunjukan tersebut ada poin-poin edukasi yang diberikan sesuai dengan perkembangan daerah dan program-program pemerintah yang disisipkan dalam pertunjukan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Petunra kali ini melibatkan berbagai pihak, termasuk menghadirkan gelar potensi batik dari Gunungkidul yang melibatkan siswa sekolah yang merupakan binaan dari pihak ketiga.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kreativitas sekaligus melestarikan budaya lokal.
“Ini bertepatan dengan peringatan Hari Batik dan Hari Jadi Gunungkidul, maka kami kolaborasikan,” ucapnya.

Petunra dirancang sebagai wahana interaksi, ruang ekspresi, sekaligus sarana komunikasi publik antara pemerintah daerah dan masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi komunikasi untuk mendukung program prioritas Bupati Gunungkidul, yakni Gunungkidul Berdikari dan Bocah Pinter.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan memahami bahwa kreativitas dan kemandirian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, baik di rumah maupun sekolah. Dengan demikian, semangat berdikari dapat tumbuh sejak dini melalui pengembangan potensi dan keterampilan yang dimiliki.
Pameran batik dalam kegiatan ini menghadirkan 14 meja peragaan yang dikelola oleh perwakilan dari 11 sekolah. Para siswa berkesempatan mempraktikkan secara langsung proses pembuatan batik, mulai dari teknik batik cap, batik tulis, hingga pewarnaan. Pelaksanaan kegiatan tersebut juga mendapat pendampingan dari mitra organisasi, di antaranya Dompet Dhuafa.
Mengusung tema Gayeng Guyub Sidomukti, pameran ini diharapkan dapat memperkuat komunikasi publik, menjaga kelestarian budaya, sekaligus mendorong generasi muda untuk terus berkarya dengan mengangkat potensi dan kearifan lokal.
Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menilai partisipasi aktif sekolah dalam mengembangkan batik menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kemandirian berbasis kearifan lokal. Menurutnya, keterlibatan siswa dalam proses kreatif dapat menjadi fondasi untuk membangun generasi yang inovatif dan mampu mengembangkan potensi daerah.
Bupati menegaskan bahwa batik tidak sekadar warisan budaya dalam bentuk kain dan motif, tetapi juga menjadi media transfer pengetahuan, keterampilan, ketelitian, serta kesabaran kepada generasi muda.
“Saat anak-anak belajar membatik, mereka diajarkan ketelitian, kesabaran, dan rasa menghargai proses. Kita ingin generasi Gunungkidul tumbuh menjadi pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap bangga dan mengakar pada budayanya,” tuturnya.
Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap keberagaman motif batik karya siswa yang memiliki filosofi kehidupan dan merepresentasikan identitas lingkungan sekolah masing-masing.
Salah satu motif yang ditampilkan adalah motif Daun Klumpit, yang terinspirasi dari keberadaan pohon klumpit berukuran besar di lingkungan sekolah. Pohon tersebut memiliki fungsi sebagai tempat berteduh, penahan air tanah, sekaligus penjaga ekosistem.
Ada pula motif Daun Pepaya yang menggambarkan dinamika awal berdirinya sekolah dengan berbagai keterbatasan dan keprihatinan. Rasa pahit daun pepaya dimaknai sebagai obat yang dapat menguatkan dan menyehatkan, sehingga menjadi simbol perjalanan sekolah dalam menghadapi tantangan hingga berkembang.
Melihat potensi tersebut, Bupati menginstruksikan agar motif batik khas sekolah segera didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Langkah ini dinilai penting untuk memberikan perlindungan hukum terhadap karya siswa sekaligus mencegah penggunaan atau pengakuan oleh pihak lain tanpa izin.
Selain perlindungan HKI, Pemkab Gunungkidul juga mendorong sinergi dengan Dinas Perindustrian untuk mendampingi pengelolaan dan pemasaran produk batik sekolah. Produk tersebut diharapkan tidak hanya digunakan sebagai seragam internal, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai tambah melalui penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun pengelolaan melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sekolah.
Melalui kolaborasi Petunra dan pameran batik ini, pemerintah daerah berharap pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan pendidikan karakter, kreativitas, serta kemandirian ekonomi generasi muda di Kabupaten Gunungkidul.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized1 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized2 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluMulai Oktober, Tujuh TPR Wisata Gunungkidul Terapkan Pembayaran Retribusi Cashless
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
-
event2 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
