Connect with us

Sosial

Meski Buta, Sojoyo Bertekad Rawat Istrinya yang Sakit Hingga Akhir Hayat

Diterbitkan

pada

Tepus,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)—Masa senja yang dijalani oleh Tukinem alias Tukinuk (90) dan Sojoyo Teo (90), pasangan suami istri warga Padukuhan Tepus III, Desa Tepus, Kecamatan Tepus cukup memilukan. Bagaimana tidak, diusia senja yang saat ini dijalani pasangan ini harus hidup dengan segala keterbatasan yang ada. Mulai dari keterbatasan fisik mereka yang sudah tidak mampu melakukan aktifitas, kesehatan, hingga keterbatasan perekonomian yang harus dihadapi.

Pasangan ini hanya hidup berdua di dalam rumah yang tergolong sederhana. Sebenarnya mereka memiliki 7 orang anak, namun ternyata untuk perekonomian dan kesejahteraan mereka pun tak jauh berbeda dari kedua orang tuanya. Tukinem dan Sojoyo sendiri saat ini hidup hanya bergantu pada uluran tangan anak-anak dan sejumlah tetangganya yang merasa iba.

Maklum, keduanya sudah tidak dapat melakukan aktifitas layaknya orang biasa. Sojoyo sendiri beberapa tahun terakhir penglihatannya sudah mulai kabur. Ia menderita penyakit mata yakni katarak pada dua matanya sehingga tidak bisa melihat, benda yang ada di sekitarnya pun terlihat samar. Bahkan sering tidak terlihat dan hanya bayangan yang ada. Sementara Tukinem, ia juga sudah tidak dapat beraktifitas seperti sedia kala.

Tubuh rentanya hanya mampu berbaring di tempat tidur kecil ala kadarnya atau yang sering disebut oleh masyarakat Jawa dengan “Lincak”. Alas tidur yang mereka gunakan pun jauh dari kata layak nampaknya. Di lincak itu hanya dialasi dengan kasur seadanya yang cukup tipis, bantal pun juga seadanya.

Berita Lainnya  Contoh Kehidupan Kebhinekaan Dari Gadungsari, Pemuda Gereja Bahu Membahu Bantu Umat Muslim Persiapkan Lebaran

Selama ini ia hanya menghabiskan waktu dengan berbaring, segala aktifitas mulai dari makan hingga lainnya ia lakukan di tempat itu. Mirisnya lagi, dibagian kening atau kepala tukinem ada luka terbuka yang cukup serius. Selama bertahun-tahun luka itu tak pernah diobati, hanya ditutup dengan kain yang sering ia gunakan sebagai tutup kepala. Ternyata, luka tersebut tidak kunjung sembuh justru semakin parah, bau kurang enak keluar dari luka itu, bahkan beberapa waktu lalu saat dicek oleh pihak keluarga terdapat hewan-hewan kecil yang bersarang pada luka tersebut.

Luka di bagian kening itu, diceritakan Prapto salah seorang anak Tukinem dan Sojoyo, luka tersebut dialami ibunya sejak beberapa tahun silam. Kala itu Tukinem jualan ayam goreng. Lalu, saat menyiapkan dagangan keningnya terkena air mendidih. Beberapa kali pengobatan sudah ia lakukan dulunya, tapi tak kunjung sembuh dan terus ada benjolan di kening hingga kemudian benjolan itu pecah dan menjadi luka terbuka.

“Untuk luka yang diamali oleh simbok itu sudah cukup lama. Memang sebelum saya pulang dari Kalimantan cuma ditutup pakai kupluk (kain penutup kepala),” tutur Prapto Slamet.

Luka yang tidak kering dan mengeluarkan bau tidak sedap itu hingga sekarang juga belum tertangani dengan baik. Pasalnya keluarga ini tidak memiliki biaya yang cukup jika untuk berobat. Sehingga hanya ditutup perban dan beberapa kali diganti. Bahkan yang ditutup oerpan sampai di bagian sisi mata.

Berita Lainnya  Pelarangan Mudik, Pengusaha Angkutan Darat Kian Terpukul

“Belum ada biaya kalau mau dibawa ke rumah sakit untuk pengobatan, jadi hanya ditangani seadanya. Diperban dan diganti,” imbuhnya.

Salah seorang tetangga keluarga ini, Sugiyah mengatakan, jika untuk makan sehari-hari pun hanya menggandalkan bantuan dari tetangga sekitar. Selama ini tangan-tangan dermawan yang memberikan bantuan terhadapa pasangan ini diberikan melalui orang terdekat mereka.

“Kadang kalau ada bantuan saya yang masak, saya kasih mateng mereka berdua makan di jam jam makan saya antar makanan,” kata tetangga korban yang sehari-hari mengurus keduanya, Sugiyah dan beberapa tetangga lain yang sedang berada di rumah dua lansia ini.

Aktifitas kedua lansia ini seperti makan, minum, mandi, buang air membutuhkan bantuan orang sekitarnya. Tak jarang jika tidak ada orang yang menyambangi apapun hanya dilakukan di tempat tidur yang sangat sederhana ini. Jika tak ada yang menemani, setiap malamnya kedua lansia ini hanya tinggal berdua. Kemudian siang harinya entah Sugiyah, tetangga lain atau anaknya ada yang menyambangi untuk mengurus keperluan keduanya.

Berita Lainnya  Terdeteksinya Komunitas LGBT di Gunungkidul, Dari Medsos Hingga Anggota Yang Terinfeksi HIV/AIDS

“Kalau makan saya, untuk ngurus mandi dan buang air anaknya,” tutur Sugiyah.

Saat ditemui Pidjar.com di rumahnya, kedua lansia ini agak sulit untuk diajak berkomunikasi. Keduanya hanya terbaring di atas lincak, suaranya tak selantang dulu saat masih muda. Kulit keduanya terlihat keriput, rambutnya pun juga sudah putih semua. Sering kali pembicaraan keduanya tak sesaui dengan apa yang ditanyakan oleh orang di sekitarnya. Kendati demikian perhatian Sojoyo pada istrinya tak pernah berubah sejak dulu, ia masih saja perhatian dan berusaha selalu ada bagi istrinya yang terbaring di tempat tidur.

Seperti misalnya “Maem yo? Tak cepake yo? (Makan ya, saya siapin ya),” kata Sojoyo sambil meraba raba meja yang tidak jauh dari lincak tempat tidurnya, berniat akan menyiapkan makan untuk istrinya. 

Sebisa mungkin dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh Sojoyo, ia ingin melayani sang istri. Meskipun tak maksimal dan sering dibantu dengan orang yang ada disekitarnya.

“Yen iso tak openi ngasi aku mati, (kalau bisa istri saya akan saya jaga hingga saya meninggal),” ujar Sojoyo. 

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata5 jam yang lalu

Libur Sekolah, Obyek-obyek Wisata Mulai Dibanjiri Siswa Study Tour

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)-Libur sekolah tahun 2026 mulai menggerakkan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk juga di Gunungkidul. Saat...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Camping Syahdu di Pantai Watukodok

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)– Gunungkidul memamg menjadi gudangnya wisata alam di DIY. Bagaimana tidak, gugusan pantai selatan Kabupaten Gunungkidul menyuguhkan panorama pesisir...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Mulai Pertengahan Mei Mendatang, TPR Baron Direncanakan Hanya Layani Pembayaran Retribusi Non-Tunai

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)– Pemerintah Kabulaten Gunungkidul terus berbenah dalam memperkuat tata kelola retribusi yang lebih transparan, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Optimalisasi TKP Senopati, Pemkot Siapkan Pangkalan Becak dan Andong untuk Mudahkan Wisatawan

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4   Jogja,(pidjar.com)– Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta bergerak cepat menyiapkan penataan baru di kawasan Tempat...

Pariwisata2 bulan yang lalu

Wisatawan Pantai Krakal Keluhkan Bawa Tikar Sendiri Tetap Dipungut Uang Sewa, Ini Respon Dinas

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)– Gunungkidul saat ini menjadi primadona bagi wisatawan luar daerah untuk mengisi waktu libur panjang mereka. Dalam setiap momen...

Berita Terpopuler