fbpx
Connect with us

Sosial

Berawal dari Alat Pres Tambal Ban untuk Produksi Emping Ketela, Maridi Berjuang Hidupi Keluarga dari Atas Kursi Roda

Published

on

Panggang,(pidjar.com)–Keterbatasan fisik yang dialami oleh Maridi warga Padukuhan Karang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang tidak menyurutkan semangatnya untuk bangkit dan tetap bisa menghidupi keluarganya. Laki-laki 40 tahun tersebut sekarang tidak bisa berjalan layaknya dulu, dikarenakan pasca jatuh dari pohon dia mengalami lumpuh. Untuk tetap bisa mendapatkan penghasilan, ia harus berusaha keras ditengah keterbatasan yang ia miliki.

Maridi menceritakan, nasib apes yang ia alami 11 tahun silam. Kala itu, sepulang dari bekerja di Madrasah, wajar saja saat itu ia merupakan pegawai Tata Usaha (TU).  Seperti biasa usai menunaikan kewajibannya di sekolah, ia pulang ke rumah. Kemudian bersama tetangganya pergi ke ladang untuk merumput pakan ternak. Sebuah pohon jenis mahoni sekitar 7 meter ia panjat. Di tengah-tengah ketinggian, ternyata dahan yang digunakan sebagai tumpuan justru patah karena lapuk dan tidak kuat menahan beban.

Seketika itu pula, tubuh Maridi terjatuh dari ketinggian. Benturan keras yang terjadi sempat membuatnya tidak sadarkan diri dan kakinya tidak bisa digerakkan seperti biasa. Titik 0 kala itu benar-benar ia rasakan. Untuk memulihkan kondisi, keluarga sempat membawanya berobat ke berbagai jenis pengobatan medis maupun alternatif.

Namun ternyata segala macam pengobatan belum bisa memulihkan kondisinya seperti biasa. Dengan kondisi kaki lumpuh, selama bertahun-tahun ia hanya bisa tergeletak di kasur. Aktivitasnya harus dibantu oleh keluarga, ia juga tidak bisa bekerja sebagai karyawan TU di Madrasah yang sebelumnya ia tempati.

Lagi-lagi ia merasakan kondisi yang benar-benar di bawah. Sampai pada akhirnya bantuan dari donatur ia terima. Seiring dengan mulai membaiknya kondisi fisik, meski tidak bisa berjalan lagi ia kemudian berpikir keras untuk dapat bangkit dan memberikan nafkah bagi istri dan anak-anaknya.

“Saya kemudian mikir apakah sepanjang hidup akan mengandalkan bantuan orang lain. Kan kasihan istri, anak, dan keluarga saya juga kalau seperti itu,” kata Maridi, Kamis (15/10/2020).

Ia menyadari dengan keterbatasan tubuhnya tentu tidak bisa bekerja secara normal. Waktu itu Hana (istrinya) mencoba membuat nasi kuning dan dititipkan di sekolahan untuk mempertahankan ekonomi keluarga. Sekitar tahun 2013 itu, di tengah kondisi Maridi yang masih tergolek di kasur ia mendapatkan ide untuk membuat emping dari ketela.

Ia kemudian meminta bantuan keluarganya untuk membantu mempersiapkan peralatan. Ternyata, alat yang dia gunakan untuk produksi emping ketela cukup sederhana. Kebetulan ia diberi alat press tambal ban.

“Alat itu pemberian Pak Tuyadi yang sekarang jadi lurah Girikarto. Meski awalnya hanya alat pres tambal ban tapi sudah dimodifikasi menjadi alat untuk pengolah emping ketela,” imbuhnya sembari mengenang perjuangannya.

Dari situ ia mulai bangkit dan memproduksi emping ketela. Tentu suatu hal yang sulit dilakukan oleh Maridi yang mengalami keterbatasan fisik, ia harus berusaha sebisa mungkin untuk miring menggunakan kedua tangannya.

“Saya buat emping ketela itu sambil terbaring miring di kasur. Tubuh saya bahkab sampai lecet-lecet,” paparnya.

Saat itu, dagangannya dititipkan ke beberapa orang dan warung. Uang pertama setelah ia mengalami kondisi seperti ini, yang ia terima adalah Rp 20.000. Itu menjadi awal kebangkitannya. Semangatnya untuk bisa mendapatkan uang bagi keluarganya semakin membara, ia juga semakin semangat untuk untuk bisa mencapai yang lebih lagi.

Pundi-pundi rupiah dengan produk kecil-kecilan yang usahanya sangat luar biasa ini perlahan mulai berkembang dan tumbuh.

“Sekitar 2 tahun ini saya bisa duduk, kenal dengan sana sini. Ikut pelatihan kewirausahaan dan Alhamdulillah saya sudah bisa mengendarai kendaraan lagi. Meski tidak seperti dulu, kendaraanya dimodifikasi agar sesuai dengan kondusu saya yang sekarang,” imbuh dia.

Saat ini, rumah produksinya mulai meningkat. Olahan yang ada juga mulai bervariasi sepetti renginang, ceriping, keripik daun ketela, dan jenis lainnya. Ia tidak sendiri, Hana istrinya dan ibunya selalu mendampingi dan mensuportnya untuk terus bangkit.

Makanan ringan produksinya itu dijual antra Rp 2500 sampai Rp 7500 perbungkusnya. Sebagian besar dijual ke kawasan pantai di Gunungkidul. Sebelum pandemi melanda, dirinya mampu mengantongi Rp 2.500.000 perbulannya. Namun saat pandemi melanda kunjungan wisata pun turun, berpengaruh terhadap hasil produk yang diberi nama ‘Cap Kursi Roda’.

“Pandemi ini dampaknya luar biasa. Omset yang saya terima turun drastis hanya sekitar Rp 300.000 perbulannya. Nama Cap Kursi Roda sendiri saya ambil dari kisah saya, bukan maksud dikasihani tapi ini menggambarkan saya,” imbuh dia.

“Mudah-mudahan bisa menjadi penyemangat bagi semua orang atau mereka yang seperti saya. Di tengah keterbatasan yang ada masih bisa berkarya untuk mendapatkan uang dan tidak bergantung ke orang lain. Kalau niat itu ada pasti bisa,” tutupnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler