fbpx
Connect with us

Sosial

Bikin Pameran “Morat-marit”, Seniman Gunungkidul Sindir Kondisi dan Kebijakan Pemkab

Diterbitkan

pada

BDG

Wonosari, (pidjar.com)–Puluhan seniman Gunungkidul menggelar pameran bertajuk “Morat-Marit”. Pameran tersebut dilaksanakan sebagai sarana para seniman untuk membicarakan konteks Gunungkidul pada hari ini. Termasuk juga dalam hal ini adalah penyampaian kritik terhadap kebijakan publik Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Koordinator pameran gambar Morat Marit, Dwe Rachmanto, mengungkapkan, secara umum, pameran “Morat-Marit” ini diselenggarakan dalam rangka momen Indonesia Menggambar yang dikelola oleh Forum Drawing Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, pihaknya mengajak semua elemen masyarakat untuk terlibat. Di Gunungkidul sendiri dalam pameran ini melibatkan 20 seniman, 3 komunitas, dan seorang bintang tamu.

“Pameran ini kolektif dan dikelola secara mandiri, jadi seperti perayaan atau selebrasi acara Indonesia Menggambar,” ucapnya, Jumat (03/06/2022).

Ia menambahkan, secara konsep, pameran seni Morat-Marit berpijak pada dua hal yaitu pertama sebagai teknik dalam proses menggambar. Proses menggambar pun dapat dilepaskan begitu saja sehingga tidak tertata dan menggambar dengan maksud memberikan tujuan atau sesuatu yang ingin dicapai.

Berita Lainnya  Pemkab Gunungkidul Tak Akan Lagi Andalkan Dropping Air Dalam Penanganan Kekeringan

“Yang kedua itu kami melihat penataan Gunungkidul yang cukup morat-marit, itu terlihat dari obrolan bersama warga yang kami ikuti selama ini. Seperti ada ketidakpuasan terhadap hadirnya tobong gamping dan sebagainya. Ini jadi refleksi bagi kami ada yang salah dalam perencanaan penataan. Kami percaya karya ruang publik harus banyak bernegosiasi atau berkompromi dengan masyarakat,” ujar dia.

Menurutnya, melalui pameran atau kegiatan semacamnya ini dapat menjadi media para seniman di Gunungkidul untuk saling berjejaring dan membicarakan peristiwa apa saja yang sudah, sedang, dan akan terjadi di Gunungkidul.

“Kami tidak sekedar membikin pameran, selain membicarakan artistik, daya bentuk, dan sebagainya juga membicarakan peristiwa yang berkonteks Gunungkidul,” imbuh Dwe.

Beberapa seniman yang terlibat pun memiliki pandangan yang sama tentang Kabupaten Gunungkidul hari ini dan perlu untuk disikapi. Menurutnya, penyampaian pesan melalui kesenian merupakan cara yang berbudaya dan lebih dapat diterima oleh masyarakat.

Berita Lainnya  Songsong Pemilu, Tingkat Kerawanan di Gunungkidul Terendah

“Kami punya topik obrolan yang sama yaitu mengkritisi kebijakan publik di Gunungkidul. Kebetulan juga dari obrolan bersama ada polemik tobong gamping jadi kenapa tidak ini menjadi titik awal para seniman mulai membicarakan hal yang lebih besar,” jelasnya.

Penyelenggaraan pameran seni rupa juga sebagai bantuk kritik terhadap Dinas Kebudayaan Gunungkidul. Menurutnya, seniman perupa di Gunungkidul seperti anak tiri yang jarang dilibatkan dalam program-program kebudayaan. Padahal, dari pengalamannya mendampingi taman budaya di seluruh Indonesia, salah satu pilar penting dalam pembangunan budaya ialah seni rupa.

“Kami merasa bahwa seniman perupa seperti anak tiri di Gunungkidul. Ini juga termasuk kritik bagi adanya Taman Budaya Gunungkidul (TBG) dengan kemewahan gedungnya, program-programnya. Ternyata tahun ini pun tidak ada program yang melibatkan seniman perupa. Nah ini disayangkan, Gunungkidul punya taman budaya terbesar justru tidak ada program-program yang melibatkan seni rupa,” tegas Dwe.

“Gunungkidul milik kita bersama sebagai aset bersama menjadi kemewahan kita bersama, ya mari membangun bersama. Seniman ada caranya sendiri, mari berlanjut. Kerja-kerja artistik yang kita miliki itu jadi hal penting untuk memberikan pesan atau memperingatkan masyarakat,” pungkasnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler