Sosial
Budidaya Porang di Gunungkidul, Minim Minat Meski Potensi Besar
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Porang menjadi salah satu tanaman yang memiliki potensi besar dalam sektor pertanian. Di daerah lain, sudah banyak petani yang melakukan budidaya tanaman tersebut. Namun di Gunungkidul sendiri, masih belum banyak petani yang pindah haluan untuk budidaya porang. Salah satu petani yang sejak beberapa bulan lalu bergelut dengan porang adalah Iriyanto warga Karangwuni, Kapanewon Rongkop yang mulai membudidayakan porang.
Pria tersebut memanfaatkan lahan seluas 1.000 meter persegi untuk budidaya porang. Adapun sejak November 2020 lalu mulai menanam bibit porang dengan biaya sekitar Rp 13.500.000. Setelah 6 bulan ditanam, petani tersebut sudah bisa melakukan panen dengan hasil sekitar 2 ton umbi.
“Untuk penanganannya sama seperti tanaman pangan lain. Hanya saja tidak terlalu membutuhkan air dalam jumlah banyak. Ya perlu disiram tapi tidak setiap hari,” kata Husni, anak dari Iriyanto, Minggu (28/08/2021).
Lebih lanjut ia mengungkapkan, tanah di Kalurahan Karangwuni sangat cocok untuk tanaman porang karena berjenis tanah merah. Kemudian untuk pupuk yang dimanfaatkan lebih baik menggunakan pupuk kandang seperti kotoran kambing ataupun sapi. Sebab jika menggunakan pupuk kandang dari kotoran ayam sudah tercampur dengan zat kimia.
“Serangan hama nyaris tidak ada, tikus pun juga tidak ada. Saat panen pertama itu rerata 1 pohon menghasilkan 1 kilogram umbi porang,” jelas dia.

Saat ini lahan tersebut ada sekitar 4.000 lebih batang pohon porang yang mana akan dipanen pada September dan bulan Juli 2022 mendatang. Perkiraanya, ia akan bisa memanen umbi lebih banyak dari panen pertama. Menurutnya lahan porang tidak bisa digunakan untuk tanaman lain sehingga memang dikhususkan budidaya tanaman tersebut.
“Harga umbi porang Rp 10.000 per kg. Kalau sudah diolah menjadi turunannya bisa sampai Rp 55.000 per kg,” imbuh dia.
Adapun untuk pemasarannya sekarang ini masih membidik di wilayah Indonesia sebab untuk peminatnya lumayan tinggi. Sedangkan ke depan jika produksinya sudah memenuhi minimal sekali panen 5 ton, baru mulai akan membidik pasar luar negeri yaitu Jepang.
Jika nantinya produksi tinggi, tidak menutup kemungkinan keluarga ini akan melakukan perluasan lahan serta menggandeng petani-petani lainnya.
Husni menambahkan, untuk kendala yang dihadapi dalam proses produksi menurutnya tidak ada. Hanya saja memang minat petani di Kabupaten Gunungkidul masih belum banyak. Mereka beranggapan porang merupakan tanaman jenis baru dan belum diketahui secara luas oleh masyarakat Gunungkidul.
“Ya masih perlu pemberian pemahaman yang lebih jika porang memiliki potensi yang besar untuk sektor pertanian serta kesejahteraan petani,” ujarnya.
-
Pemerintahan4 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized4 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Peristiwa4 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Peristiwa4 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized3 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized3 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
-
Uncategorized3 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized4 minggu yang laluTNI Bangun 9 Jembatan Garuda di Gunungkidul, Hubungkan Kawasan Terpencil
-
Uncategorized3 minggu yang laluLansia Asal Ponjong Ditemukan Gantung Diri di Kandang
-
Uncategorized2 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
