fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Datang Bawa Bantuan, Ketua DPRD Tawari Anggota Paskibra Yang Hidup Sebatangkara Jadi Anak Asuh

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Bantuan permakanan dan lainnya silih berganti diterima oleh anggota Paskibra Kabupaten Gunungkidul yang sekarang ini tengah menjalani isolasi mandiri karena terpapar covid19. Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntarinungsih, sejak Sabtu (21/08/2021) lalu aktif mengunjungi pasien covid untuk memberi semangat dsn memastikan kondisi mereka. Dalam kunjungannya, Ketua DPRD juga melakukan pendistribusian bantuan bagi anggota Paskibra yang tengah menjalani isoman. Paket permakanan diberikan untuk membantu pemenuhan makanan para anggota Paskibra selama menjalani isolasi mandiri.

Pada Senin (23/08/2021) siang tadi, Endah bersama dengan timnya mengunjungi Alviansyah Arifki, anggota Paskibra warga Padukuhan Kajar III, Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Wonosari. Suasana haru sendiri sangat terasa saat Ketua DPRD melihat kondisi Alvian yang menjalani isolasi mandiri seorang diri.

Selain hidup seorang diri, Arifki juga harus hidup dengan fasilitas yang seadanya. Bahkan di bangunan rumah sederhana ini, tidak ada kasur maupun tempat tidur. Melihat kondisi tersebut, siang tadi ia mengirimkan kasur beserta tempat tidur kepada Arifki. Sehingga bocah tersebut bisa tidur dengan nyaman dan kondisinya bisa segera pulih.

“Pemantauan secara langsung sangat penting, jadi kita tahu kondisi di lapangan itu seperti apa. Saya harapkan dari OPD terkait dan Puskesmas juga melakukan pemantauan dan penanganan yang tepat dan tepat,” kata Endah Subekti Kuntariningsih, Senin siang.

Tak hanya itu, pihaknya dalam waktu dekat ini juga akan memanggil OPD terkait untuk membahas tentang bantuan bedah rumah bagi Arifki. Sebab setelah dicek, memang rumah yang dihuni oleh Arifki ini masih memerlukan bantuan. Selama ini, belum pernah ada bantuan yang diterima oleh pelajar yang tinggal sendirian itu.

“Akan kami bahas mengenai pengusulan bedah rumah baik menggunakan anggaran APBD Kabupaten Gunungkidul atau melalui CSR,” imbuh dia.

Bantuan yang sejak kemarin diberikan ini merupakan penanganan jangka pendek. Melihat Arifki yang potensial dan berprestasi, Arifki bahkan mendapat tawaran untuk menjadi anak asuh agar pendidikan dan keberlangsungan hidupnya ke depan semakin terjamin.

“Kita juga siapkan penanganan jangka panjang bagaimana nanti sekolahnya bisa tetap terus berlanjut hingga jenjang yang lebih tinggi sehingga kehidupannya bisa maju. Tawaran kami ini sudah saya sampaikan kepada Arifki dan pak Dukuh. Tidak terburu-buru, saya sampaikan agar dipikirkan terlebih dahulu,” kata Endah.

Melihat kondisi Arifki sekarang ini memang membutuhkan dukungan yang luar biasa dari lingkungan dan lainnya. Dia tinggal sendirian di rumah tembok milik kakek neneknya. Akan tetapi rumah ini masih belum sempurna. Daun jendela yang ada hanya tertutup gedhek atau anyaman bambu. Tidak ada perabotan, bahkan tempat tidur pun tidak punya.

Dulunya rumah tersebut memang banyak penghuninya, akan tetapi satu persatu keluarga pelajar tersebut meninggal dunia. Sekitar 2 tahun lalu kakek neneknya meninggal dunia, kemudian 2 bulan yang lalu ayah Arifki menyusul meninggal dunia. Pada saat itu, Alviansyah sedang berada di pondok pesantren kemudian pulang ke rumah dan mendapati ayahnya sudah meninggal tengkurap dengan riwayat stroke.

Sementara ada 2 orang yang merupakan paman serta bibinya sekarnag tidak tinggal di sana karena ada gangguan kejiwaan. Untuk pemenuhan kebutuhan selama ini dia bergantung dengan tetangga, saudara, dan dari pondok pesantren.

“Saya di pesantren sejak kelas 2 SMP. Pulang ya ke sini sendirian, untuk sekolah kadang jalan kaki kadang naik angkutan,” papar Alviansyah.

“Kalau untuk tawaran bu Ketua Dewan tadi masih akan saya pikirkan dulu bagaimana ke depannya keputusan apa yang akan saya ambil,” imbuh dia.

Dukuh setempat, Sugeng mengatakan kondisi kesehatan Alviansyah tetap terus dipantau oleh satgas Padukuhan. Ia bersyukur saat isolasi mandiri ini banyak yang memperhatikan warganya itu, rezeki bantuan silih berganti datang.

“Dia memang sendiri. Ayahnya meninggal belum ada 100 hari, ya Alviansyah ini yang ndenangi bapaknya meninggal. Yang bikin trenyuh itu dia memiliki semangat yang kuat, saya pernah papasan dia pulang sekolah jalan kaki pas hujan deras dan basah kuyup. Kalau sekolah kadang jalan pagi-pagi sudah berangkat, kadang pinjem sepeda ontel temennya,” ucap Sugeng.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler