Uncategorized
Derita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
Wonosari, (pidjar.com)–Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitulah gambaran nasib pasutri RAP dan SL, warga Karangtengah, Kapanewon Wonosari. Hasrat hati ingin melahirkan di RSUD Wonosari justru berujung pada petaka. Bayi yang dilahirkan hanya bertahan hidup sekitar 2 jam sedangkan SL ibunya mengalami pendarahan hebat hingga harus mengalami 3 kali operasi. Tak hanya itu, luka bekas operasi sendiri sempat mengalami infeksi hingga berbulan-bulan lamanya.
“Tindakan para petugas medis di RSUD Wonosari tidak profesional atas yang dialami oleh almarhum anak saya dan istri, dan itu sudah saya sampaikan langsung kepada mereka namun tanggapannya sangat mengecewakan,” keluh RAP, ketika ditemui pidjar.com pada Kamis, (15/10/2026) silam.
Diceritakan RAP, awal mula kejadian dugaan tindakan Mal Praktek di RSUD Wonosari adalah kala istrinya SL mengalami pecah ketuban pada 14 Agustus 2026 dinihari. Mengetahui istrinya hendak melahirkan, RAP segera melarikan istrinya ke IGD RSUD Wonosari.
“Setelah observasi di IGD akhirnya pada pagi harinya dipindahkan ke ruang bersalin lalu dikasih obat pacu agar segera proses persalinan secara normal. Dengan dibantu 5 tenaga medis, istri dipaksa melahirkan secara normal padahal sudah tidak mampu mengejan,” urai RAP yang saat kejadian menunggui dalam ruang bersalin.
Dengan formasi 2 tenaga medis mendorong dari atas, 2 orang lain memegangi kaki kanan kiri SL dan seorang lainnya melakukan tindakan menarik jabang bayi agar segera keluar dilakukanlah proses bersalin. Lantaran kondisi SL yang terus menurun dan tidak mampu mengejan, maka dilakukan tindakan pelebaran area agar janin segera keluar. Hasilnya lahirlah jabang bayi berjenis kelamin laki laki. Malang, bayi putra pertama RAP dan SL sendiri hanya bertahan hidup sekitar 2 jam sebelum dinyatakan meninggal dunia.
“Anak saya sempat menangis tapi kemudian bungkam selamanya karena ada penyok diubun-ubun seperti bekas tekanan tangan dan itu saya ada bukti fotonya. Saat tahu kondisi seperti itu rasanya hancur hati ini,” kenangnya.
RAP semamin panik setelah mengetahui kondisi istrinya mengalami pendarahan hebat setelah dijahit pasca melahirkan. Pendarahan itu tak kunjung mereda bahkan setelah dilakukan transfusi darah pun tak kunjung membaik hingga hari berganti.
“Pada hari selanjutnya karena kondisi istri terus pendarahan, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter katanya ada bagian yang belum terjahit sempurna hingga minta ijin untuk dilakukan tindakan pembedahan ulang untuk dijahit kembali,” tambahnya.
Setelah proses persalinan dan tindakan yang mengecewakan, SL harus menjalani rawat inap selama 3 hari. Dalam 3 hari itu RAP melakukan protes keras kepada para petugas medis di RSUD Wonosari dengan menyampaikan berbagai keluhan antara lain perilaku perawat dan bidan yang terkesan asal-asalan bahkan sambil bersenda gurau saat menjahit istrinya hingga akhirnya tidak sempurna. Dia juga menyayangkan dokter spesialis kandungan yang hanya hadir sebentar.
“Dokter hanya datang dan memeriksa saat istri dibawa masuk ruang bersalin, memeriksa sebentar kemudian pergi nggak tahu ke mana. Untuk tindakan dan lainnya yang menangani ya 5 orang petugas itu, entah bidan atau perawat saya kurang tahu. Yang jelas sangat tidak profesional , fakta istri saya berjuang antara hidup dan mati masak mereka menjahit sembari bercanda yang dampaknya terjadi kebocoran,” tuding RAP.
Setelah menjalani penjahitan ulang dan rawat inap 3 hari, tibalah waktu RAP dan SL pulang. Saat hendak pulang, RAP diharuskan menandatangani surat pernyataan yang intinya tidak akan mengadu atau melaporkan segala hal dan tindakan petugas RSUD Wonosari kepada media massa ataupun aparat berwenang.
Dengan terpaksa, akhirnya RAP memilih untuk menandatangani surat tersebut dan SL kemudian dibawa pulang. Namun nasib pahit pasutri ini belum berakhir, sebab selama sebulan penuh SL mengalami bed rest di rumah dengan kondisi lemah.
“Sempat kontrol ke RSUD sekali namun tidak ada solusi. Lalu kita beralih ke Puskesmas Wonosari II, hasil pemeriksaan medis menyatakan hasil jahitan dokter RSUD Wonosari infeksi hingga akhirnya bernanah dan diberikan rujukan untuk periksa ke rumah sakit lain,” lanjut RAP.
Lalu dibawalah SL ke RS Panti Rahayu. Di rumah sakit ini, SL mendapatkan tindakan hingga pembersihan luka bekas melahirkan sebulan sebelumnya. Setelah luka mengering dan kondisi fisik memungkinkan, baru pada bulan Oktober 2026 ini SL menjalani operasi ulang di RS Panti Rahayu untuk mengangkat sisa benang jahit di rahimnya.
“Praktis sebulan penuh istri saya tidak bisa bangun dari ranjang setelah melahirkan di RSUD Wonosari, jangankan bangun sedangkan duduk sendiri saja tidak bisa. Baru setelah operasi ulang di RS Panti Rahayu ini kondisi istri membaik dan bisa kembali beraktifitas meski belum pulih 100%. Ternyata beda jauh penanganan medis di rumah sakit negeri dengan swasta,” katanya.
Dengan kejadian ini RAP dan SL berharap mereka menjadi korban terakhir dari ketidak profesionalan para petugas medis RSUD Wonosari.
Sementara itu, Direktur RSUD Wonosari, Dyah Prasetyorini, memberikan penjelasan mengenai penanganan pasien tersebut. Dyah mengatakan pasien datang dengan keluhan kejang-kejang dan keluar air ketuban. Saat itu, usia kehamilan SL sendiri baru 34 minggu.
“Sehingga dari 34 minggu, dari hasil klarifikasi yaitu satu, akan dipertahankan kehamilannya,” ujar Dyah.
Dia menjelaskan, dalam upaya mempertahankan kehamilan tersebut, rumah sakit memberikan sejumlah tindakan dan terapi. Namun, dalam perkembangannya, kondisi kehamilan tidak memungkinkan untuk dipertahankan.
Dyah menyebut pasien seharusnya menjalani empat sesi terapi. Akan tetapi, baru satu sesi yang dijalani ketika pembukaan persalinan sudah lengkap sehingga bayi harus dilahirkan.
Usai berhasil dilahirkan, bayi sempat merintih. Dia menjelaskan usia kehamilan 34 minggu membuat paru-paru bayi belum matang secara sempurna.
“Pada saat itu juga ada dokter anak yang menangani dan kurang lebih selama dua jam kemudian janin ini meninggal,” katanya.
Terkait keluhan keluarga mengenai perilaku petugas medis selama proses persalinan, Dyah menyatakan pihaknya akan melakukan klarifikasi.
“Dan kami mohon maaf kalau selama dirawat di RSUD Wonosari memang ada perilaku kami yang kurang berkenan. Namun, satu hal yang perlu kita sampaikan bahwa apa yang sudah kami lakukan sudah sesuai dengan prosedur yang ada,” ujarnya.
Dyah menegaskan pihak rumah sakit telah berupaya memberikan penanganan terbaik kepada pasien sejak awal kedatangan hingga diperbolehkan pulang.
Dia juga menyebut terdapat rekam medis selama pasien menjalani perawatan. Berdasarkan keterangan perawat dan bidan yang disampaikan kepadanya, kondisi jahitan pasien saat itu dinyatakan baik.
“Dari awal kontrol sekali sampai kembali pulang ada rekam medisnya. Dari perawat dan bidan menyampaikan kondisi saat itu bahwa jahitannya bagus,” pungkasnya.
-
Uncategorized4 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
event3 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized3 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Sosial2 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Pemerintahan2 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Pariwisata3 minggu yang laluOnsen Resort Kaliurang, Tawarkan Pengalaman Menginap Bernuansa Jepang di Lereng Merapi
-
Uncategorized1 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized3 minggu yang laluSempat Terdengar Mendengkur, Pria 30 Tahun di Siraman Justru Ditemukan Tak Bernyawa
-
Pemerintahan3 minggu yang laluKekeringan Meluas, 92.055 Jiwa di Gunungkidul Terdampak Krisis Air Bersih
-
Uncategorized4 minggu yang laluPelaku Pencurian Pompa Sibel dan Kabel Pengairan di Ngawis Berhasil Dibekuk Polisi
-
Pemerintahan3 minggu yang lalu5 Kampung Nelayan Merah Putih Dibangun di Gunungkidul, Ditarget Rampung Desember
