Uncategorized
Kekeringan Masih Melanda Gunungkidul, Droping Air Berlanjut hingga Desember
Wonosari, (pidjar.com) – Musim kemarau yang masih berdampak terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Gunungkidul membuat pemerintah terus melakukan penyaluran bantuan air bersih kepada masyarakat. Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah dalam beberapa waktu terakhir, kondisi tersebut belum mampu mengatasi persoalan kekurangan air bersih. Intensitas hujan yang masih rendah dan belum merata membuat kebutuhan air masyarakat masih cukup tinggi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, mengatakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul mencatat dampak kekeringan sepanjang 2026 telah menjangkau 76 kalurahan, 397 padukuhan, dan 795 RT. Jumlah warga terdampak mencapai 32.867 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 105.511 jiwa.
Hingga awal November ini permintaan bantuan air bersih masih cukup tinggi. Terutama di wilayah utara, meskipun sejumlah wilayah selatan juga masih membutuhkan distribusi air.
“Untuk kebutuhan air bersih masyarakat masih cukup tinggi, terutama di wilayah utara. Wilayah selatan juga masih ada permintaan. Sehingga droping air masih terus dilakukan oleh pemerintah melalui BPBD, sementara bantuan dari CSR juga masih banyak yang masuk,” ungkap Edy.
Ia menjelaskan, penyaluran bantuan air bersih diperkirakan masih akan berlangsung hingga Desember 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama masa peralihan musim, sebelum sumber-sumber air kembali mencukupi.
“Hujan yang terjadi masih awal, itu pun hanya gerimis dan tidak merata sehingga belum bisa digunakan,” tambahnya.
Berdasarkan data rekapitulasi BPBD hingga 29 Oktober 2026, wilayah dengan dampak kekeringan terbesar berada di Kapanewon Tepus dengan 5 kalurahan, 61 padukuhan, 154 RT, 7.421 KK, dan 24.879 jiwa. Disusul Kapanewon Panggang dengan 6 kalurahan, 21 padukuhan, 73 RT, 3.401 KK, dan 13.891 jiwa. Sementara Kapanewon Gedangsari tercatat sebanyak 6 kalurahan, 41 padukuhan, 3 RT, 4.832 KK, dan 13.350 jiwa.
Edy menambahkan, penyaluran bantuan air bersih dilakukan melalui sejumlah sumber pendanaan dan dukungan berbagai pihak. Dari anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) yang dikelola BPBD, tercatat telah disalurkan sebanyak 292 tangki atau rit ke sejumlah kapanewon.
Adapun wilayah penerima meliputi Gedangsari 20 rit, Karangmojo 16 rit, Ngawen 24 rit, Nglipar 24 rit, Panggang 8 rit, Patuk 16 rit, Ponjong 32 rit, Purwosari 8 rit, Rongkop 16 rit, Saptosari 28 rit, Semin 44 rit, Tanjungsari 12 rit, dan Tepus 44 rit.
Sementara itu, penyaluran melalui BTT yang dikelola pihak ketiga tercatat mencapai 1.671 rit hingga 29 Oktober 2026. Distribusi tersebut menjangkau 16 kapanewon dengan jumlah terbanyak di Purwosari sebanyak 347 rit, Panggang 220 rit, Patuk 217 rit, Saptosari 130 rit, dan Tanjungsari 124 rit.
Dukungan penanganan kekeringan juga datang melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai instansi pemerintah, lembaga, organisasi, perusahaan, komunitas, hingga masyarakat. Tercatat sebanyak 38 pihak telah menyalurkan bantuan air bersih melalui BPBD dengan total mencapai 1.331 rit hingga 29 Oktober 2026.
Sementara itu, Panewu Gedangsari, Eko Krisdiyanto mengatakan kekeringan memang masih dirasakan oleh masyarakat sisi utara Gunungkidul. Untuk itu pihaknya masih terus berkoordinasi dengan BPBD dan pihak-pihak lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan air bersih.
“Masih kesulitan air, tapi bersyukur ntuk sementara kebutuhan masyarakat cukup karena kami bekerja sama dengan BPBD, PMI, dan banyak pihak ketiga yang menyumbangkan air langsung ke masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, hujan yang beberapa kali turun belum memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan air. Pasalnya, hujan yang terjadi sejauh ini masih sebatas gerimis sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Meski bantuan distribusi air masih mencukupi untuk sementara waktu, ada juga masyarakat tetap memilih membeli air tangki secara mandiri. Harga air tangki di wilayah Gedangsari bervariasi, mulai dari Rp250 ribu, Rp300 ribu, hingga Rp350 ribu, bergantung pada lokasi dan medan yang harus ditempuh.
“Harga air tangki disini mahal karena air diambil dari sumber air di wilayah Playen yang berjarak sekitar 10 kilometer dari kapanewon Gedangsari jadi harganya tinggi. Tapi sejauh ini untuk bantuan air masih terus masuk,” pungkasnya.
-
Uncategorized2 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized3 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya2 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized1 minggu yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Uncategorized7 hari yang laluDiduga Bermuatan Solar Ilegal, Truk Tangki Berkapasitas Ribuan Liter Diamankan Polisi
-
Uncategorized6 hari yang laluManajer KDKMP Sudah Ditempatkan di Gunungkidul, Beberapa Kalurahan Belum Punya Gerai
-
Sosial2 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized2 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized2 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized3 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized1 minggu yang laluSerangan Binatang Liar Ancam Ternak di Wilayah Selatan Gunungkidul, Warga Diminta Waspada
