fbpx
Connect with us

Sosial

Di Balik Geliat Pengusaha Sablon di Gunungkidul, Penampilan Sangar Rejeki Lancar

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Peluang usaha rumahan terus dibaca oleh para pengusaha maupun anak muda seiring berkembangnya trend di kalangan anak muda di Gunungkidul. Dewasa ini, dunia fashion mendapatkan tempat di kalangan masyarakat. Hal ini terbukti dari geliat bisnis sablon kaos di Gunungkidul. Tidak hanya di pusat kota ternyata, namun bisnis kaos sablon ini juga telah merambah ke wilayah perbatasan dan pesisir. Perkembangannya pun luar biasa, di Gunungkidul saat ini telah ada puluhan pemilik usaha sablon.

Yang sangat menarik, mayoritas dari para pengusaha ini adalah anak-anak muda yang ternyata memiliki insting serta pengetahuan fashion yang luas. Saat ini, para penyablon kaos ini memiliki sebuah komunitas dengan anggota yang cukup banyak lantaran mencakup di DIY yaitu Komunitas Sablon Jogja (KSJ). Dalam forum inilah mereka berbagi segala pengetahuan terkait teknik-teknik sablon kaos hingga pemasarannya.

Salah satu pegiat sablon Gunungkidul, Bayu Candra mengatakan, sejak tahun 2015 lalu geliat dunia fashion khususnya sablon terus mengalami peningkatan yang signifikan. Saat ini khusus di Gunungkidul, pihaknya mengampu sekitar 30 anggota yang tergabung dalam KSJ.

“Hampir secara keseluruhan mereka sangat aktif dalam berbagai kegiatan yang ada,” ucap Bayu, Senin (26/11/2018) siang.

Ia menambahkan, para penyablon kaos di Gunungkidul memang cukup unik. Jika dilihat dari penampilan, mereka memang agak sedikit aneh lantaran kebanyakan dari mereka berdandan ala kadarnya dan cenderung nyentrik.

Namun tak perlu ragu, di balik penampilan tersebut, justru tersimpan sebuah kreatifitas serta kualitas dalam setiap hasil kerja mereka.

“Ya beginilah kalau anak sablon tampilannya. Kalau untuk kualitas kami upayakan yang terbaik karena konsumen adalah raja, pelayanan tetap harus oke dong,” ujar pemilik brand Rumah Langit Teesmaker ini.

Trend-trend di luar tentu diikuti oleh masing-masing vendor. Ada yang bergerak pada pesanan komunitas motor, maupun kumpulan ibu-ibu senam dan beberapa seragam lainnya. Berkembangnya dunia pariwisata juga berdampak bagus, di mana beberapa vendor bergerak ke arah wisata. Hal itu untuk memberikan ciri khas tersendiri dan menunjukkan bahwa Gunungkidul juga memiliki oleh-oleh fashion sablon asli daerah.

Kualitas barang terus dilakukan perbaikan seiring pengetahuan dari masing-masing vendor. Meski berasal dari daerah pegunungan namun hasil dari anak daerah ini dapat disaingkan dengan mereka yang telah bergelut di bidang sablon cukup lama maupun brand ternama. Beragam jenis sablon juga mulai dikenal mulai dari kelas standar hingga yang kelas tinggi. Peminatnya pun juga luar biasa.

“Kami buka peluang ini karena perpikirnya dulu daripada jauh-jauh ke Jogja atau Klaten, terus perlahan ada modal jadi ya bikin usaha sendiri. Dan ternyata dibaca oleh pemuda lainnya, dampaknya luar biasa sekali sekarang,” imbuh dia.

Pengetahuan yang luas mengenai dunia sablon ternyata tidak hanya dinikmati sendiri, ternyata KSJ Gunungkidul memiliki kegiatan rutin. Bagi anak muda atau desa-desa yang ingin mengembangkan sayap pemberdayaan di bidang sablon dapat mengundang komunitas ini untuk memberikan pelatihan. Kualitas terus ditingkatkan pula dengan browsing ataupun mengikuti dari pegiat sablon handal lainnya.

Komunitas ini, Minggu (25/11/2018) kemarin menggelar acara rutin yakni Kopdar dengan anggota komunitas lingkup DIY di Balai Padukuhan Tawarsari, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari. Dalam kesempatan ini, beberapa narasumber dihadirkan untuk memberikan pengetahuan lainnya. Bidang management diberikan agar segala sesuatunya dapat diatur sebagaimana mestinya.

“Misalnya ada problem ya satu sama lainnya sharing, atau kalau ada ide terus dituangkan dalam forum kayak gitu sih kalau kami kumpul,” tambah dia.

Sementara itu, salah satu pengusaha kaos sablon muda lainnya, Daniel mengatakan jika ia lebih memilih usaha ini agar Gunungkidul memiliki ciri khas tersendiri selain oleh-oleh olahan makanan atau terkenal dengan batik walang. Kaos bersablon dan logo tulisan Gunungkidul ini diharapkan mampu menjadi oleh-oleh dan kebanggaan baik warga lokal maupun wisatawan.

“Kan simpel to, tapi kualitas tetap kami utamakan. Kalau saya gerak ke arah wisata jadi berkesinambungan,” terangnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler