Sosial
Diapit Dua Aliran Sungai, Ratusan Warga di Kawasan Ini Selalu Terisolir Ketika Musim Penghujan Tiba
Playen,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pernah mendengar nama Kedungwanglu? Daerah ini berada di Kalurahan Banyusoca, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul. Saat musim penghujan seperti sekarang ini, Padukuhan Kedungwanglu menjadi daerah langganan terisolir. Hal ini karena wilayah tersebut dikepung oleh dua sungai yang debit airnya selalu meningkat.
Tokoh pemuda Kedungwanglu, Ahsan Nasir mengungkapkan, sudah sejak dulu jika musim penghujan tiba, ratusan warga di padukuhan ini terisolir. Hal tersebut dikarenakan aliran air di Sungai Oya dan Prambutan yang mengapit Kedungwanglu meluap dan menutup crossway, akses jalan tercepat yang sering digunakan oleh warga.
“Crossway ini dulunya dibangun warga dengan ketinggian tertentu. Kemudian ada program pemerintah dan ketinggian kembali dinaikkan, akan tetapi debit airnya saat musim hujan terus meningkat sehingga jalannya tertutup air,” ucap Ahsan Nasir, Senin (22/11/2021).
Jika hujan deras terjadi dalam waktu yang lama, ketinggian air bisa sampai 2 meter. Sehingga kemudian, crossway yang biasa dilalui sama sekali tidak terlihat. Hal ini menjadikan kawasan tersebut selalu terisolir selama beberapa waktu sampai debit air benar-benar menurun. Paling cepat terjadi sekitar 2 jam, tapi jika hujan terus menerus akan lebih lama.
Padukuhan Kedungwanglu ini merupakan daerah paling barat, jika tidak melewati crossway, maka perjalanan untuk keluar masuk Kedungwanglu harus menyusuri jalan dengan medan yang berat, menyusuri perbukitan dengan jalan kaki dan berputar dengan jarak yang sangat jauh.

Di daerah tersebut terdapat beberapa RT dengan jumlah Kepala Keluarga mencapai ratusan. Menurutnya, di Padukuhan ini hanya ada 2 RT saja yang tidak menjadi langganan terisolir, sebab letaknya berada kawasan di luar sehingga tidak terdampak luapan air tersebut.
Cerita lainnya diungkapkan oleh Laili, warga setempat lainnya. Ia sempat melihat pengalaman warga setempat yang cukup memprihatinkan. Ketika musim penghujan dan kondisi air sedang tinggi, ada warga sakit yang harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit. Warga kemudian harus nekat bertaruh nyawa melintasi crossway yang sedang banjir. Mereka harus membawa pasien sakit tersebut menggunakan tandu yang mereka buat.
Belum lagi jika anak sekolah. Hal ini tentunya menjadi kekhawatiran orang tua. Saat debit air naik para anak yang hendak masuk atau keluar harus tertahan dulu hingga air benar-benar surut.
Warga berharap agar pemerintah memperhatikan nasib mereka dengan membangun jembatan yang lebih representatif untuk dilalui, utamanya pada musim penghujan.
“Kita berharap ada solusi permanen dari pemerintah berkaitan dengan nasib kami,” tutup Laili.
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized4 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Peristiwa4 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Peristiwa4 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized4 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized2 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized2 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized2 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
-
Uncategorized2 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized3 minggu yang laluTNI Bangun 9 Jembatan Garuda di Gunungkidul, Hubungkan Kawasan Terpencil
-
Uncategorized2 minggu yang laluLansia Asal Ponjong Ditemukan Gantung Diri di Kandang
