Budaya
Gapura Lar Badak, Gapura Penuh Filosofi Yang Hampir Punah Karena Modernisasi
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Keberadaan Gapura Lar Badak di Kabupaten Gunungkidul sejak beberapa tahun ini tergeser dengan gapura yang lebih modern dan praktis. Hal ini menjadi kekhawatiran pemerintah kabupaten dan dewan kebudayaan. Untuk itu, kemudian digencarkan sosialisasi dan memberi edukasi mengenai Gapura Lar Badak yang menjadi ciri khas Yogyakarta.
Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul, CB Supriyanto mengatakan, Gapura Lar Badak merupakan gapura peninggalan nenek moyang yang biasanya dibangun di kawasan perbatasan sebagai tanda pembatas antar wilayah. Gapura ini memiliki banyak sekali filosofi. Namun siring dengan modernisasi yang terjadi, khususnya sekitar 15 tahun terakhir ini, keberadaan gapura jenis ini mulai tersingkirkan.
Masyarakat tak lagi membangun Gapura Lar Badak melainkan membeli gapura yang siap pasang. Hal ini bisa dilihat sangat sedikit gapura jenis ini yang sekarang dapat ditemui. Mayoritas gapura yang masih berdiri hanya di sebagian kawasan perbatasan maupun pintu masuk kantor instansi pemerintahan. Sedangkan di rumah-rumah yang dulu biasanya didirikan gapura lar badak sekarang diganti dengan gapura modern.
“Tergantikan mungkin karena gapura modern ini tidak harus membuat secara manual, tidak membutuhkan waktu lama saat pemasangan. Selain itu juga karena kurangnya pemahaman akan filosofi,” kaya CB Supriyanto.
Belakangan ini, Dewan Kebudayaan berkoordinasi dengan Kundha Kabudayan untuk memberi edukasi dan pemahaman pada masyarakat mengenai Gapura Lar Badak. Dengan pemahaman ini, diharapkan masyarakat dapat ikut melestarikan gapura ini. Cara ini ternyata ampuh dilakukan, perlahan menurut CB Supriyanto, masyarakat mulai tergerak untuk membangun gapura jenis ini.
“Iya ada sosialisasi yang dilakukan, ini upaya pelestarian icon yang dimiliki,” paparnya.
Adapun Lar diartikan swiwi atau sayap, ada di bagian kanan dan kiri jalan/ pintu masuk. Urai CB, Badak itu binatang kuat (dari Amerika) dengan usia lebih dari 40 tahun. Kemudian Bunga Melati yang melambangkan kesucian, bunga melati memiliki lima kelopak yang berkaitan dengan pendidikan. Lima kelopak diartikan bahwa Yogyakarta sejak dahulu memang sudah direncanakan menjadi kota pelajar yang memiliki lima jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi.
Pada Gapura Lar Badak ‘sempurna’, pada tiang terdepan (lebih tinggi) atau belakang (lebih pendek) di bagian bawah melati sebenarnya terdapat tiga tingkatan persegi empat. Hal tersebut menunjukkan bahwa budaya berasal dari tiga hal yakni cipta, rasa dan karsa.
Sedangkan penghubung antara tiang yang tinggi dan yang lebih rendah pada sisi atas sayap terdapat variasi lengkungan. Dilihat dari tinggi tiang yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi menggambarkan makna sebuah cita-cita.
Cita-cita yang disusun atau direncanakan harus naik ke tingkatan lebih baik atau tinggi menuju bunga melati yang melambangkan kesucian. Tiang atau pilar digambarkan pemimpin makanya lebih besar dan kuat, kokoh mampu mengayomi. Serta adanya lubang pada sayap berjumlah tujuh menunjukkan bahwa untuk menuju sesuatu yang baik itu perlu melalui sebuah perjalanan/ laku. Dimana laku tersebut harus penuh keterbukaan dan transparansi.
Lantas pada bagian bangunan pondasi bagian bawah merupakan rakyat. Manunggal atau menyatunya peminpin dengan raykat dimanifestasikan dari pertemuan antara pondasi dan tiang. Pemimpin dan yang dipimpin harus tegak dan jujur.
Sementara itu, Sekretaris Kundha Kabudayan Sabarisman mengatakan, dari dinas melalui bidang telah melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk turut melestarikan Gapura Lar Badak. Dengan demikian icon atau ciri khas yang bersejarah ini tetap diketahui oleh generasi mendatang.
“Untuk bangunan yang dulu sudah ada tidak perlu dirusak, tetapi untuk bangunan gapuro yang baru dihimbau untuk menggunakan gapuro lar badak,” terang Sabarisman.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
