Pemerintahan
Hanya Sepertiga Kendaraan Angkutan di Gunungkidul Yang Lakukan Uji KIR
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Kesadaran masyarakat Gunungkidul pemilik kendaraaan roda empat untuk melakukan uji KIR berkala untuk angkutannya sangat rendah. Dari 13 ribu pemilik kendaraan di Gunungkidul, hanya ada 3 ribu saja yang aktif melakukan uji KIR.
Kepala UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan Gunungkidul, Daru Sasongko memaparkan, rendahnya angka uji KIR yang dilakukan masyarakat ini memang rendahnya kesadaran. Banyak yang menganggap apabila kendaraan angkutan mereka jarang dibawa ke kota, maka tidak ada urgensi untuk pelaksanaan uji KIR.
“Banyak juga kendaraan yang hanya digunakan untuk mengangkut hasil panen, selain itu juga banyak dari pemilik kendaraan yang sudah berusia tua, sehingga abai terhadap hal ini,” ujar Daru kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, Selasa (30/06/2020).
Berbagai upaya sendiri telah dilakukan guna menggugah kesadaran masyarakat. Fungsi dari uji KIR sendiri cukup penting lantaran sebagai salah satu parameter utama penentuan kelaikan kendaraan angkutan. Dengan mengetahui kelaikan kendaraan, diharapkan bisa meminimalisir terjadinya kecelakaan, terutama yang disebabkan oleh faktor teknis pada kendaraan.
“Salah satunya juga kita galakkan terus operasi yustisia di jalan umum bersama kepolisian, tapi juga tidak membuahkan hasil karena kendaraan yang tidak uji KIR tidak lewat,” katanya.
Pihaknya sebetulnya telah mengajukan kepada Pemkab Gunungkidul untuk dilakukan pemutihan uji KIR. Hal ini menurutnya akan cukup ampuh dalam kemudian menggugah kesadaran maupun minat masyarakat dalam melakukan uji KIR. Namun karena keterbatasan anggaran, upaya ini belum bisa dilakukan.
“Sementara hanya 1/3 kendaraan di Gunungkidul yang rajin diuji KIR,” imbuh dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Gunungkidul, Wahyu Nugroho memaparkan, terdapat penurunan separuh target pendapatan dari pelayanan pengujian kendaraan bermotor. Pada tahun 2020 ini pihaknya menargetkan pendapatan sebesar Rp. 462.430.000 dari sektor ini. Namun demikian karena layanan ditutup, pihaknya hanya menargetkan Rp. 235.867.500,- saja.
“Karena pelayanan juga tutup tiga bulan, dan sekarang sehari maksimal hanya bisa melayani 25 unit saja,” ujar Wahyu.
Akibatnya Gunungkidul kehilangan PAD sebanyak 51% dari sektor ini. Jika dikalkulasi, jumlah penurunan target sebanyak Rp. 230.462.5000,-.
“Kami memang tidak berani pasang target tinggi di masa pandemi ini,” pungkasnya.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
