Connect with us

Sosial

Harga Ditentukan Tengkulak, Nelayan Kecil Jadi Korban Permainan Dagang

Diterbitkan

pada

Girisubo,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Permainan dagang terkait harga ikan di Pelabuhan Sadeng, Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo tidak bisa dihindari oleh para nelayan. Pasalnya, saat ini para nelayan tersebut hanya bisa mengikuti harga yang telah ditentukan oleh tengkulak. Bukan tanpa alasan, hal itu lantaran selama proses produksi sendiri, nelayan mengandalkan hutang kepada tengkulak sebagai modal awal melaut.

Salah seorang nelayan di Pelabuan Sadeng, Sunardi mengatakan, sebagian besar nelayan kecil memiliki kendala terhadap ketersediaan modal. Sehingga mereka sering kali harus terlebih dahulu berhutang kepada tengkulak. Uang ini kemudian digunakan untuk modal melaut.

“Hal inilah yang membuat nelayan sulit lepas dari tengkulak karena ada perjanjian bahwa ikan yang didapatkan akan dijual ke pemberi modal,” ujar Sunardi, Jumat (23/08/2019).

Dengan demikian, nelayan tidak bisa berkutik ketika tengkulak telah menentukan harga beli dari hasil tangkapan mereka. Ia mengambil contoh di pasaran harga ikan cakalang mencapai Rp25.000 per kilogram. Sedangkan saat turun dari kapal, tengkulak hanya membeli ikan-ikan tersebut dengan harga Rp11.000 per kilonya.

Berita Lainnya  Acara Penggalangan Dana Bencana, Pejabat Gunungkidul Hingga Masyarakat Berbaur di Alun-Alun Pemda

“Itu saja kalau ikannya utuh, kalau rusak misal perutnya pecah harganya turun menjadi Rp 6 ribu perkilogramnya,” ucap dia.

Ia menyebut, dengan adanya penentuan harga ini, keuntungan hanya didapatkan oleh tengkulak saja. Sebab, nelayan tidak kuasa untuk menentukan harga jual dari hasil tangkapan mereka.

“Nelayan tidak bisa menentukan harga sendiri karena semuanya ditentukan oleh tengkulak yang memberikan modal untuk melaut,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sutoyo, nelayan lain di Pantai Sadeng. Menurut dia, ketergantungan terhadap tengkulak tidak lepas dari besarnya biaya operasional yang dibutuhkan para nelayan untuk melaut. Ia mencontohkan, untuk kapal ukuran 10 GT, sekali melaut membutuhkan 12 jerigen bahan bakar minyak.

Berita Lainnya  Berkenalan dengan Ekawati Rahayu Putri, Calon Ketum HIPMI DIY yang Visioner

“Kalau nelayan sendiri sulit memenuhi karena jarak untuk menangkap bisa mencapai 150 mil karena di sekitar Perairan Sadeng ikannya sudah habis,” terang Sutoyo.

Untuk menyiasati rendahnya harga jual, nelayan harus bekerja esktra dengan mendapatkan tangkapan sebanyak mungkin. Konsekuensinya, nelayan juga harus berada lebih lama berada di laut.

“Sekali melaut bisa sampai sepuluh hari. Ya kalau hanya dapat satu ton, maka nelayan tidak mendapatkan apa-apa,” ungkapnya.

Dirinya berharap, adanya solusi dari pemerintah terkait hal ini sehingga nelayan bisa mandiri dan tidak tergantung dengan tengkulak. Sebab jika terus-terusan seperti ini, dikhawatirkan nelayan akan sulit meningkatkan taraf hidupnya.

“Ya kalau dengan tengkulak, kita hanya bisa manut karena harga sudah ditentukan dari sana. Bahkan harga yang dipatok cenderung turun, beberapa tahun lalu cakalang kualitas bagus dibeli Rp13.000, tapi sekarang hanya Rp11.000 per kilogram,” pungkas dia.

Berita Lainnya  Video Hajatan Warga Porak-poranda Dilanda Banjir Viral di Media Sosial

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata7 hari yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata1 minggu yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis3 minggu yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Pariwisata3 minggu yang lalu

Libur Sekolah, Obyek-obyek Wisata Mulai Dibanjiri Siswa Study Tour

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)-Libur sekolah tahun 2026 mulai menggerakkan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk juga di Gunungkidul. Saat...

Berita Terpopuler