fbpx
Connect with us

Sosial

Harga Ditentukan Tengkulak, Nelayan Kecil Jadi Korban Permainan Dagang

Diterbitkan

pada tanggal

Girisubo,(pidjar.com)–Permainan dagang terkait harga ikan di Pelabuhan Sadeng, Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo tidak bisa dihindari oleh para nelayan. Pasalnya, saat ini para nelayan tersebut hanya bisa mengikuti harga yang telah ditentukan oleh tengkulak. Bukan tanpa alasan, hal itu lantaran selama proses produksi sendiri, nelayan mengandalkan hutang kepada tengkulak sebagai modal awal melaut.

Salah seorang nelayan di Pelabuan Sadeng, Sunardi mengatakan, sebagian besar nelayan kecil memiliki kendala terhadap ketersediaan modal. Sehingga mereka sering kali harus terlebih dahulu berhutang kepada tengkulak. Uang ini kemudian digunakan untuk modal melaut.

“Hal inilah yang membuat nelayan sulit lepas dari tengkulak karena ada perjanjian bahwa ikan yang didapatkan akan dijual ke pemberi modal,” ujar Sunardi, Jumat (23/08/2019).

Dengan demikian, nelayan tidak bisa berkutik ketika tengkulak telah menentukan harga beli dari hasil tangkapan mereka. Ia mengambil contoh di pasaran harga ikan cakalang mencapai Rp25.000 per kilogram. Sedangkan saat turun dari kapal, tengkulak hanya membeli ikan-ikan tersebut dengan harga Rp11.000 per kilonya.

Berita Lainnya  Tekan Kebocoran Retribusi, Dinas Pariwisata Pasang CCTV di TPR

“Itu saja kalau ikannya utuh, kalau rusak misal perutnya pecah harganya turun menjadi Rp 6 ribu perkilogramnya,” ucap dia.

Ia menyebut, dengan adanya penentuan harga ini, keuntungan hanya didapatkan oleh tengkulak saja. Sebab, nelayan tidak kuasa untuk menentukan harga jual dari hasil tangkapan mereka.

“Nelayan tidak bisa menentukan harga sendiri karena semuanya ditentukan oleh tengkulak yang memberikan modal untuk melaut,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sutoyo, nelayan lain di Pantai Sadeng. Menurut dia, ketergantungan terhadap tengkulak tidak lepas dari besarnya biaya operasional yang dibutuhkan para nelayan untuk melaut. Ia mencontohkan, untuk kapal ukuran 10 GT, sekali melaut membutuhkan 12 jerigen bahan bakar minyak.

“Kalau nelayan sendiri sulit memenuhi karena jarak untuk menangkap bisa mencapai 150 mil karena di sekitar Perairan Sadeng ikannya sudah habis,” terang Sutoyo.

Untuk menyiasati rendahnya harga jual, nelayan harus bekerja esktra dengan mendapatkan tangkapan sebanyak mungkin. Konsekuensinya, nelayan juga harus berada lebih lama berada di laut.

Berita Lainnya  Sukses Kembangkan Kampung Lidah Buaya, Warga Jeruk Legi Kini Punya Puluhan Ribu Tanaman

“Sekali melaut bisa sampai sepuluh hari. Ya kalau hanya dapat satu ton, maka nelayan tidak mendapatkan apa-apa,” ungkapnya.

Dirinya berharap, adanya solusi dari pemerintah terkait hal ini sehingga nelayan bisa mandiri dan tidak tergantung dengan tengkulak. Sebab jika terus-terusan seperti ini, dikhawatirkan nelayan akan sulit meningkatkan taraf hidupnya.

“Ya kalau dengan tengkulak, kita hanya bisa manut karena harga sudah ditentukan dari sana. Bahkan harga yang dipatok cenderung turun, beberapa tahun lalu cakalang kualitas bagus dibeli Rp13.000, tapi sekarang hanya Rp11.000 per kilogram,” pungkas dia.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler