Pemerintahan
Harga Gaplek Tembus Yang Tertinggi Sepanjang Sejarah
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Gunungkidul menjadi salah satu penghasil ketela yang cukup besar. Sebuah hal yang cukup bisa dipahami mengingat secara geografis maupun iklim, lahan-lahan pertanian di Gunungkidul memang lebih cocok untuk ditanami jenis tanaman palawija.
Namun yang selalu menjadi masalah, di tengah melimpahnya hasil panen palawija, khususnya ketela, para petani selalu dihadapkan dengan harga jual yang relatif rendah. Hal semacam ini kemudian membuat para petani menjadi tidak sejahtera.
Pada tahun 2018 ini, para petani ketela mendapatkan kabar yang cukup baik. Untuk pertama kalinya, harga gaplek mencapai yang tertinggi dalam sejarah. Harga tinggi ini sendiri dipicu oleh minimnya hasil produksi dan adanya sebagian petani yang sudah melakukan pengolahan mandiri ketela pohon menjadi tepung.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnubroto menyampaikan, harga gaplek tahun 2018 mengalami kenaikan tertinggi dalam sejarah. Biasanya tingkat petani hanya laku Rp 500 hingga Rp 2500 per kilogram, namun saat ini harga mencapai Rp 3.200 hingga Rp 3.500 per kilogram.
“Ini (harga) tertinggi yang pernah ada, biasanya gak pernah sampai,” katanya saat dihubungi pidjar-com-525357.hostingersite.com, Selasa (02/10/2018) siang.
Ia memaparkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan harga gaplek saat ini melambung tinggi. Diantaranya adakah produksi yang menurun karena adanya musim kemarau panjang yang melanda Gunungkidul pada tahun 2018 ini. Terakhir kali, hujan di Gunungkidul terjadi pada bulan April 2018 sehingga umbi belum membesar.
Menurunnya hasil pertanian ketela pohon ini berdampak pada menurunnya produksi gaplek. Pihaknya memperkirakan, besaran penurunan produksi yang terjadi pada tahun ini mencapai 15% dibandingkan dengan setahun silam.
“Penurunan produksi memang cukup besar,” imbuhnya.

Warga menjemur gaplek miliknya (Foto by google)
Pada tahun lalu produksi ketela pohon di Gunungkidul mencapai 924,751 ton dengan luas panen 49.478 hektare. Sementara prodiksi produksi tahun ini hanya 780.307 ton.
“Musim tanam ketela pada bulan November sampai Desember 2017, setelah itu hujan berhenti bulan April 2018. Praktis kurang air, sehingga umbi kecil. Selain itu, sebagian masyarakat kita sudah mulai mengolah gaplek menjadi tepung mocaf dengan harga jual Rp8.000 sampai Rp 12.000 perkilonya,” urai Bambang.
Sementara itu, seorang pengepul gaplek yang beroperasi di Mijahan, Kecamatan Semanu, Andi Wijaya, menyampaikan, wilayah penghasil ubi kayu terbesar adalah zona Selatan Gunungkidul. Selama ini, ia memang banyak menerima hasil produksi dari kawasan tersebut. Mayoritas petani di selatan memang banyak menggantungkan diri pada tanaman palawija mengingat terbatasnya air.
Hasil pembelian gaplek dari petani-petani Gunungkidul sendiri menurut Andi akan dikirim lagi ke pengepul di Surabaya. Biasanya pihaknya mengirimkannuya dalam jumlah besar menggunakan jalur darat.
“Kalau harga pasar dan di desa-desa Rp 3200an per kilogram saya beli,” ucapnya.
Sementara itu, Ratno Wiyanto, salah seorang petani warga Kecamatan Patuk memaparkan bahwa saat ini, ia memilih untuk tidak menjual hasil pertaniannya. Hasil dari dua petak lahannya diolah oleh istrinya untuk dibuat tepung. Nantinya tepung tersebut menjadi bahan dasar pembuatan makanan lainnya.
“Dibuat makanan kecil atau tiwul,” tutupnya.
-
Uncategorized2 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized2 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya2 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized6 hari yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Uncategorized4 hari yang laluDiduga Bermuatan Solar Ilegal, Truk Tangki Berkapasitas Ribuan Liter Diamankan Polisi
-
Sosial2 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized2 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized3 hari yang laluManajer KDKMP Sudah Ditempatkan di Gunungkidul, Beberapa Kalurahan Belum Punya Gerai
-
Uncategorized2 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized3 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Pemerintahan4 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
