fbpx
Connect with us

Sosial

Korban Anthraks Terus Bertambah, Puluhan Warga Dari 4 Kecamatan Dinyatakan Positif

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Korban positif antraks di Kabupaten Gunungkidul kembali bertambah. Hingga saat ini, tercatat sudah sedikitnya 30 orang yang dinyatakan positif anthraks. Dari jumlah tersebut, sebagian besar dari para penderita terserang di bagian kulit.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Gunungkidul, Kelik Yuniantoro menjelaskan, awalnya, pemerintah berdasarkan hasil laboratorium yang telah keluar, telah menyatakan adanya 27 orang yang positif terjangkit anthraks. Namun kemudian dalam perkembangan waktu, jumlah korban kemudian bertambah 3 orang. Tambahan penderita ini sendiri cukup mengejutkan lantaran lokasinya menyebar dan tidak hanya di Kecamatan Ponjong saja.

“Tambahan 3 orang yang sudah dinyatakan positif merupakan warga Kecamatan Semin, Semanu serta Saptosari. Hari ini dari Dinas Kesehatan melaporkan dalam rakor. Dengan adanya tambahan tersebut, total ada 30 orang warga yang positif terjangkit anthraks,” kata Kelik, Selasa (28/01/2020).

Kelik menjelaskan, untuk penderita anthraks warga Saptosari dan Semanu sendiri berprofesi sebagai petani. Pemerintah menduga, mereka terpapar bakteri Bacilus Anthracis saat mengelola pupuk kandang untuk bahan pertanian lantaran saat ini tengah memasuki musim tanam.

“Baru dicari riwayatnya bisa kena (anthraks). Untuk yang positif dari warga Semin kemarin karena banyak berinteraksi dengan sapi karena profesinya sebagai tukang jagal (sembelih hewan),” ucapnya.

Saat ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul telah menangani para korban yang terpapar anthraks tersebut. Pemerintah menyebut, puluhan warga positif antraks itu kondisinya saat ini semakin membaik.

“Kena manusia kemungkinan pertama daya tahan tubuh lemah, perilaku hidup sehat. Kalau di kandang seharusnya memakai sepatu bot, kaos tangan dan harus lebih berhati-hati,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawati menambahkan, pihaknya terus melakukan pemantauan selama 2×60 hari di lokasi pertama yang menjadi awal mula munculnya anthraks, yakni Padukuhan Ngrejek Timur, sejak 28 Desember 2019 lalu. Hal serupa juga dilakukan di wilayah Kecamatan Semin.

“Semin karena baru, mulai awal lagi (pemantauan lingkungan 2X60 hari). Cuma satu memantau di seputaran dia, memantau dari mana,” ucap Dewi.

Namun begitu Dewi enggan menjelaskan secara gamblang terkait dengan kasus anthraks ini. Sebab dari hasil rapat koordinasi, informasi berkaitan dengan anthraks diserahkan kepada Diskominfo Gunungkidul.

“Untuk lebih jelasnya langsung ke Kepala Dinas Kominfo,” imbuhnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler