fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Nama Dirubah, Kecamatan Diharapkan Lebih Leluasa Akses Dana Keistimewaan

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul berharap agar banyak pihak mampu mengakses dana keistimewaan (dana is). Hal tersebut nantinya akan menambah keleluasaan dalam pengembangan seni dan budaya di Gunungkidul.

Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Kamtono mengatakan, dirinya berharap ada keputusan terkait dengan perubahan nama dari kecamatan menjadi kapanewon. Hal tersebut nantinya akan berdampak pada kemudahan dalam mengakses dana keistimewaan. Sehingga kegiatan yang bersinggungan langsung dengan kebudayaan dapat dikembangkan melalui danais.

Dengan keleluasaan yang lebih dari kecamatan dalam mengakses dana is itu, maka dapat berdampak pada dorongan melestarikan kebudayaan di Gunungkidul. Ia mengambil contoh, adanya seni tari tayub di Kecamatan Semin saat ini terkendala beberapa hal salah satunya adalah anggaran.

“Kalau sudah terealisasi (perubahan nama kecamatan) nanti untuk mengakses dana is semakin mudah. Sehingga tradisi-tradisi yang saat ini tergerus mampu kita bangkitkan lagi,” kata Agus, Senin (23/09/2019).

Agus menjelaskan, saat ini pihaknya terus melakukan berbagai upaya dalam pelestarian budaya maupun kesenian yang ada di Gunungkidul. Salah satunya dengan hibah gamelan yang tahun ini diperkirakan akan selesai pengadaannya.

Berita Lainnya  Dana Desa Naik 19 Miliar, Dua Desa Tertinggal Ini Dapat Prioritas

Ia menambahkan, selain perubahan nama kecamatan menjadi Kapanewon namun juga akses Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya untuk dapat mengakses dana Is juga diharapkan dapat segera terealisasi. Sehingga pengembangan kebudayaan tidak hanya diampu oleh dinas kebudayaan saja, melainkan OPD lain yang memiliki kaitan dengan pengembangan kebudayaan di Gunungkidul.

“Kami sedang berusaha untuk tahun depan OPD-OPD yang terkait dengan pekerjaan kebudayaan dapat menjadi pengguna anggaran langsung bukan kuasa pengguna anggaran. Jadi kalau pengguna anggaran langsung dari Surat Keputusan (SK) Gubernur, kalau kuasa pengguna anggaran itu dari dinas yang bersangkutan,” terang Agus.

Ia mencontohkan saat ini Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) menjadi Kuasa Pengguna Anggaran untuk menggarap gedung Taman Budaya. Pihaknya berharap dua OPD lain seperti Dinas Pariwisata dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga dapat memgakses dana is.

Berita Lainnya  Berharga Mahal, Dua Jenis Imunisasi Anyar Belum Bisa Diterapkan ke Anak-anak di Gunungkidul

“Dua OPD itu sangat berkaitan dengan kebudayaan dan pengembangannya. Karena mereka saling berkaitan. Contohnya kegiatan budaya, karena dalam kebudayaan banyak sekali produknya seperti makanan khas atau tradisional, lalu juga ada souvenir-souvernir yang membutuhkan pemasaran,” beber Agus.

Selain itu kegiatan kebudayaan juga bisa disandingkan dengan Pariwisata dan dapat menambah jumlah kunjungan wisatawan di Gunungkidul. Sehingga menurutnya dengan sinergitas ini mampu menciptakan Gunungkidul yang berbudaya di tengah gencarnya pariwisata.

Sebelumnya, Sesepuh Kelompok Tari Tayub Legorini, Gunem mengungkapkan Desa Karangsari, Kecamatan Semin saat ini sudah tidak ada regenerasi penari Tayub. Hal ini membuat pihaknya kerapkali kekurangan penari. Saat hal ini terjadi, maka kemudian ia harus mengambil penari di luar penari tayub.

“Saya pengennya ada yang melanjutkan jadi tetap lestari, sekarang remaja lebih memilih untuk merantau ke Jakarta daripada menjadi penari Tayub” keluhnya.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler