fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Pasien Isolasi Dipulangkan dan Dirujuk, RSUD Saptosari Kembali Kosong

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Penggunaan RSUD Saptosari sebagai lokasi karantina bagi orang tanpa gejala nampaknya akan dikaji ulang. Saat ini RSUD yang terletak dikecamatan Saptosari tersebut kembali kosong. Belasan orang tanpa gejala yang sebelumnya diisolasi dan hasil swab testnya negatif telah dikembalikan ke rumahnya masing-masing. Sedangkan pasien yang swab testnya positif langsung dirujuk ke RSUD Wonosari.

Mengingat di rumah sakit tersebut fasilitas ruang isolasi nya lebih memadai termasuk juga sumber daya manusianya yang menangani pasien positif Covid 19 ini. Harapannya dengan perawatan di RSUD Wonosari yang fasilitasnya lebih memadai, maka pasien-pasien positif korona tersebut segera sembuh.

Sebelumnya, setidaknya ada 19 orang warga dari berbagai kecamatan yang diisolasi di RSUD Saptosari. Mereka adalah warga yang dinyatakan positif melalui rapid test usai kontak langsung dengan pasien positif Covid19 Wonosari. Mereka adalah hasil contact tracking dari pasien positif Covid19 asal Kecamatan Wonosari.

“Hasil swabnya sudah keluar semua. Yang positif dirujuk ke RSUD Wonosari, sedangkan yang negatif dipulangkan,” ujar Kepla Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawati, Jumat (08/05/2020).

Ia mengungkapkan, sebetulnya hasil uji swab semua pasien tidak keluar bersama. Sehingga para pasien pun juga tidak bersama keluarnya. Namun hari ini, rumah sakit tersebut dipastikan telah kosong.

“Ada 17 OTG (orang tanpa gejala) yang dinyatakan reaktif melalui rapid test mereka. Namun mereka tidak diisolasi di RSUD Saptosari dan diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah mereka masing-masing. 17 orang tersebut masih menunggu hasil uji swab masing-masing,” ujarnya.

Ketua II Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid19 Kabupaten Gunungkidul, Immawan Wahyudi mengatakan, saat ini pihaknya berupaya untuk memaksimalkan terlebih dahulu model yang dilakukan masyarakat dengan karantina mandiri. Karena karantina tersebut benar-benar berbasis kearifan masyarakat.

“Ada tiga desa yang beri contoh baik ini yaitu Karangasem, Selang dan Panggang,”paparnya.

Warga masyarakat bukan hanya menerima apa adanya terhadap warga lain yang rapid testnya reaktif dengan tulus hati. Tetapi mereka juga gotong royong menanggung konsumsi selama warganya sedang dikarantina. Di samping sepenuhnya didukung oleh Pemdes dan warga secara umum, anak muda di desa itu yang jadi penggeraknya.

“Ini benar-benar Gunungkidul banget,” ujarnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler