fbpx
Connect with us

Sosial

Pengusaha Limbah Kain Perca Garap Proyek Pengadaan Masker BPBD, Mengaku Dapat Order Melalui Anggota DPRD

Diterbitkan

pada tanggal

Gedangsari,(pidjar.com)–Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul saat ini tengah melaksanakan proyek bantuan sosial pembagian masker. Adapun jumlah masker yang akan dibagikan adalah sebanyak 200.000 masker. Untuk program pembagian masker ini, BPBD Gunungkidul menggelontorkan anggaran sebesar 1 miliar rupiah yang diambilkan dari anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) APBD Gunungkidul. Pembagian ratusan ribu masker ini sendiri dilakukan agar masyarakat Gunungkidul nantinya menggunakan masker manakala beraktifitas guna menangkal penyebaran covid19. Selain itu, program ini juga dilakukan untuk memberikan pendapatan kepada para penjahit di Gunungkidul.

Namun dalam pelaksanaannya, program sosial ini bisa dibilang jauh dari kata sempurna sesuai dengan program awal. Banyak diantara penjahit lokal yang justru tak mendapatkan kue dari program ini. Diketahui, BPBD menunjuk sejumlah rekanan untuk pengadaan ratusan ribu masker ini.

Pidjar.com sendiri mencoba untuk melakukan penelusuran dari rekanan-rekanan yang ditunjuk oleh BPBD Gunungkidul dalam pengadaan masker ini. Salah satu yang cukup janggal adalah penunjukan rekanan pengadaan masker yang berasal dari wiliayah Kecamatan Gedangsari. Rekanan yang ditunjuk BPBD Gunungkidul ini bukan merupakan rekanan yang bergerak di bidang jahit. Yang bersangkutan merupakan pengusaha pengepul limbah perca kain yang biasa dikirim ke Jawa Barat untuk pembuatan kerajinan.

Peta Sebaran Status COVID-19 di Kabupaten Gunungkidul
*Credits: https://bit.ly/statCovGK (updated)

Pantauan pidjar.com di lapangan beberapa hari yang lalu di tempat usaha rekanan yang terletak di Padukuhan Gedangan, Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari memang terlihat banyak tumpukan kain. Namun diketahui kain tersebut merupakan limbah konveksi pabrik yang rencananya akan di kirim ke luar wilayah untuk didaur ulang menjadi beberapa barang.

Berita Lainnya  Tak Terima Diputus Kekasih, Pemuda Nekat Coba Bunuh Diri

Di lokasi tersebut juga terlihat beberapa ibu rumah tangga juga terlihat memilah beberapa kain. Tidak satupun dari mereka yang melakukan aktifitas layaknya penjahit. Salah seorang pekerja menyebut, limbah kain perca itu didapatkan dari sebuah perusahaan tekstil di Jawa Tengah. Para pekerja sendiri bertugas untuk menyortir limbah-limbah kain itu.

“Kain-kain ini dipisahkan untuk memilih panjang dan lebar limbah kain ini karena harga jualnya berbeda. Ini nanti dikirim ke Bandung,” papar salah seorang pekerja.

Sementara itu, salah seorang warga setempat menyebut bahwa sejauh yang ia tahu, di lokasi itu memang bukan usaha yang bergerak di bidang jahit. Setiap harinya di lokasi tersebut adalah sebagai lokasi pengumpulan rosok kain. Usaha tersebut sudah ada sejak bertahun-tahun silam.

“Sempat vakum lumayan lama, tapi sekarang sudah mulai aktifitas lagi,” ucap warga itu.

Kepada pidjar.com, pemilik usaha pengepulan limbah kain perca, Nanang Suryadi membenarkan perihal pihaknya yang mendapatkan penunjukan dari BPBD Gunungkidul terkait pengadaan masker. Adapun ia kebagian jatah untuk pengadaan 10.000 masker. Sejak berlangsungnya pandemi corona ini, dirinya memang bergelut dalam pengerjaan masker.

“Sejak ada Corona ini saya mengerjakan masker, sudah banyak yang tahu,” jelas Nanang.

Lebih lanjut dikatakannya, pengerjaan masker tersebut ia lakukan di Boyolali, Jawa Tengah. Namun begitu dirinya mengaku memiliki penjahit yang bekerja di rumahnya.

Berita Lainnya  Tanpa Inovasi dan Kreatifitas, Bupati Khawatirkan Pariwisata Gunungkidul Akan Semakin Tertinggal Dari Jawa Tengah

“Ada beberapa di rumah, di depan itu,” kelit Nanang ketika disinggung mengenai tidak adanya aktifitas pembuatan masker di rumahnya.

Dirinya mengaku mendapatkan proyek pengadaan masker itu dari salah satu anggota DPRD Gunungkidul, Marsubroto yang juga warga Gedangsari. Dirinya mengaku setiap masker dihargai Rp 5 ribu rupiah dipotong pajak.

“Langsung dari pak Edy (Kepala BPBD), ada kenalan orang sini (Marsubroto),” paparnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Marsubroto membantah bahwa dirinyalah yang memberikan order pengadaan masker kepada Nanang. Marsubroto menyebut bahwa peran dirinya hanyalah memberitahukan kepada Nanang bahwa ada proyek pengadaan masker di BPBD Gunungkidul. Kemudian dirinya menyuruh Nanang untuk sendiri datang ke BPBD Gunungkidul untuk mengajukan permohonan.

“Dia yang datang sendiri ke sana, saya hanya memberitahu,” ujar Marsubroto.

Di sisi lain Kepala BPBD Gunungkidul, Edy Basuki berkomentar, terkait adanya rumah penampungan limbah kain tersebut. Dirinya mengatakan, bahwa banyak pengusaha yang beralih profesi di masa pandemi seperti ini.

“CV nya saja namanya seperti itu. Tetapi usahanya ketika masa seperti ini banyak yang dilakukan. Mereka juga sudah membuat masker sebelum dapat order dari BPBD,” ujar Edy.

Namun begitu, dirinya tidak menanggapi terkait dengan adanya keterlibatan anggota dewan. Dirinya hanya mengatakan bahwa saat ini proyek pengadaan masker telah selesai dan siap didistribusikan.

“Semua sudah masuk tinggal diatribusi tahap 3. Sekitar 100 ribu, kan saya dikejar waktu untuk pengadaan,” pungkas dia.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler