fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Resiko Tinggi Saat Melaut, Nelayan Harapkan Asuransi dari Pemerintah

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Tahun 2020 dipastikan tidak ada program penyediaan asuransi bagi nelayan di Kabupaten Gunungkidul. Hal tersebut lantaran adanya sejumlah faktor dari pemerintah pusat, namun demikian dari pemerintah mendorong para pengusaha dan nelayan untuk mengikuti asuransi secara mandiri.

Menjadi seorang nelayan memang membutuhkan tekad yang kuat. Pasalnya pekerjaan ini tidaklah mudah, ada resiko besar yang dihadapi setiap kali melaut. Bagaimana tidak, mereka harus bersahabat dengan ombak besar, belum lagi jika terjadi sesuatu resikonya jauh lebih besar.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul, Rujimanto mengatakan, resiko yang dihadapi saat melaut sangatlah tinggi. Sehingga asuransi sangatlah dibutuhkan bagi nelayan, terlebih asuransi yang disubsidi oleh pemerintah itu sangatlah dibutuhkan. Di lapangan sendiri, para nelayan sering kali dihadapkan dengan kendala dan kejadian yang tidak terduga.

“Resiko kami itu besar sehingga untuk asuransi itu memang dibutuhkan,” papar Rujimanto, Minggu (16/08/2020).

Adapun di nelayan yang tergabung dalam himpunan yakni 750 nelayan kapal. Jika ditambah dengan mereka yang didarat sekitar 2000 lebih anggota himpunan ini. Tahun lalu sebenarnya ada asuransi yang diterima oleh para nelayan. Namun untuk tahun ini tidak ada program asuransi subsidi dari pemerintah.

Sebagian kecil nelayan yang masuk dalam kategori mampu, mereka mendaftarkan dirinya untuk mengikuti asurasi. Paling tidak jika terjadi sesuatu saat melaut ada ganti rugi dari asuransi yang diberikan kepada pihak keluarga.

“Kalau yang mandiri itu hanya sebagian kecil dan tertentu saja. Harapan kami ya pemerintah menyediakan program asuransi subsidi, jadi kita lebih diperhatikan. Selain resiko besar sebenarnya nelayan juga berkontribusi dalam pendapatan asli daerah (PAD) jumlahnya pun juga lumayan,” imbuh dia.

“Selain asuransi kita juga berharap pemerintah memperhatikan dan memberikan bantuan alat tangkap srhingga hasil.yang didapat juga maksimal,” tambahnya.

Menurut dia, untuk mengurus asuransi secara mandiri tidak mudah dan membutuhkan waktu lama. Hal ini yang menjadikan para nelayan terkadang urung untuk mengurus asuransi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Krisna Berlian mengatakan sebenarnya tahun lalu sebagian besar nelayan Gunungkidul telab mengikuti asuransi yang disubsidi oleh pemerintah. Namun program tersebut telah berakhir, tahun ini nelayan dianjurkan untuk mengikuti asurasi mandiri.

“Kita dorong mereka untuk ikut asuransi mandiri. Kalau beberapa waktu lalu belum ada ya yang ikut program mandiri,” jelasnya.

Program asuransi sendiri sangat dibutuhkan. Menurut krisna pekerjaan sebagai nelayan di laut sangatlah beresiko. Berkaca pada beberapa kejadian, sering terjadi kecelakaan laut di hampir sepanjang perairan Gunungkidul.

Beberapa diantsranya adanya perubahan cuaca, gelombang yang tiba-tiba tinggi, atau adanya faktor lain. Bahkan tak jarang, akibat kecelakaan di laut itu mengakibatkan adanya korban. Ada yang luka-luka atau bahkan sampai hilang.

“Kita lakukan pendekatan agar mereka paham mrngrnai asuransi. Kalaupun dari pemerintah ada program dari kami kemudian lakukan pendataan untuk kemudian diajukan ke kementerian kelautan dan perikanan,” pungkas Krisna.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler