fbpx
Connect with us

Sosial

Rumah Selesai Direhab Polisi, Janda Miskin Ini Kini Tak Lagi Takut Hujan dan Angin Malam

Diterbitkan

pada

BDG

Paliyan,(pidjar.com)–Kehidupan penuh derita Mbah Latiyem (77), warga Padukuhan Trowono B, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan di gubuk reyot yang jauh dari kata layak huni mungkin tinggal masa lalu. Sejak Rabu (10/01/2018) kemarin, Latiyem resmi bisa menghuni rumahnya yang telah direhab total oleh anggota kepolisian dari alumni (Dikmaba Sembilan Delapan ) DSD/ (Sepolwan Dua Puluhsatu) SDS Jogja – Jateng bersama Polres Gunungkidul dan TNI serta kelompok penggiat sosial lainnya. Tak ada lagi atap bocor ataupun dinding berlubang di rumah anyar Latiyem. Pun demikian dengan bagian lantai yang dulu hanya beralaskan tanah, saat ini sudah dibuatkan lantai semen oleh para personel bedah rumah.

Penyerahan kunci sendiri dilakukan oleh Ketua DSD/SDS Jogja – Jateng, Iptu Teguh Dwi Santoso SH, S.Kep, MM dan Ketua DSD/SDS Gunungkidul, Aiptu Sugiyanto.

Kepada pidjar.com, Iptu Teguh yang juga menjabat sebagai Kasubbag Bin Ops Bag Ops Polres Gunungkidul memaparkan bahwa program bedah rumah ini merupakan bagian dari program Polisi Peduli Sosial yang memang saat ini sedang digiatkan oleh Kapolres Gunungkidul, AKBP Ahmad Fuadi. Beberapa waktu pihaknya mendengar perihal nasib malang yang harus dialamil oleh Latiyem di masa senjanya. Berangkat atas kepedulian tersebut, ia bersama kelompok DSD/SDS yang merupakan alumni Dikmaba PK Polri 97/98 kemudian berusaha menggalang bantuan untuk Mbah Latiyem. Di luar dugaan, program penggalangan dukungan tersebut mendapatkan sambutan yang luar biasa. Bahkan Kapolres Gunungkidul, AKBP Ahmad Fuadi menurut Teguh sangat antusias dengan terjun langsung memulai proses pembangunan.

Berita Lainnya  Ratusan Nelayan Masih Belum Miliki Asuransi, Dinas Diminta Proaktif Jemput Bola

“Proses penggalangan bantuan sendiri sangat lancar berkat dukungan dari semua pihak, terima kasih untuk semua pihak yang membantu terutama kepada Kapolres Gunungkidul yang juga sangat berperan aktif dalam kegiatan sosial ini,” papar Teguh, Kamis (11/01/2018) siang.

Menurut Teguh, rehab yang dilakukan di rumah Mbah Latiyem dilakukan secara keseluruhan. Hampir sebagian besar bagian rumah diganti dengan yang baru termasuk dinding dan atap yang terpantau mengalami kerusakan paling parah. Ketika disinggung mengenai biaya dari rehab yang dilakukan tersebut, Teguh terkesan enggan menjelaskan lebih lanjut. Mantan Wakapolsek Playen yang terkenal lantaran penuh inovasi dan peduli terhadap kegiatan sosial ini justru lebih memilih membahas mengenai program-program sosial yang hendak dilakukan oleh DSD/SDS serta Polres Gunungkidul.

Berita Lainnya  Budaya Baju Baru Saat Rayakan Lebaran, Para Penjahit Harus Berpacu Dengan Waktu

“Sudah selayaknya kita sebagai manusia harus memiliki jiwa sosial dan peka terhadap masalah-masalah sosial yang ada di sekitar kita, termasuk juga anggota polisi. Semoga apa yang kami lakukan ini bisa membantu Mbah Latiyem dalam kehidupannya ke depan,” urainya.

Ia membeberkan bahwa ke depan pihaknya akan lebih serius dalam berkutat di kegiatan sosial di samping tugas menjaga keamanan sebagai anggota Polri. Menurut Teguh, terutama di Gunungkidul memang cukup banyak masalah sosial terutama yang berkaitan dengan kemiskinan yang membutuhkan perhatian lebih.

“Kita sangat berharap bisa berkolaborasi dengan seluruh penggiat sosial yang ada di Gunungkidul sehingga bisa membantu warga masyarakat yang menderita dan membutuhkan perhatian. Iini sebenarnya juga menjadi bagian dari tugas polisi sesuai dengan program promoter Kapolri,” beber dia.

Berita Lainnya  Kisruh PTSL di Watusigar, Dari Potensi Sertifikat Ganda Hingga Tanah Negara Bersertifikat Pribadi

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Latiyem menjadi potret kerasnya kehidupan yang harus dijalani oleh manula-manula miskin di Gunungkidul. Di usia senjanya, janda tua ini harus hidup dengan segala keterbatasannya. Sebelum mendapatkan bantuan, Latiyem harus rela hidup di rumah yang reot dengan kerusakan hampir di seluruh bagian rumahnya. Dinding bambu tua yang menjadi penghalang tak lagi berfungsi maksimal lantaran banyak bolong di sejumlah bagian. Alhasil hawa dingin malam yang menusuk kulit pun harus dirasakan kulit renta Latiyem. Pun demikian dengan bagian atap yang sudah bocor di sana-sini, sehingga derita makin terasa saat hujan tiba.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler