fbpx
Connect with us

Sosial

Sektor Perkebunan dan Hortikultura Mulai Dilirik, Petani Milenial Kembangkan Budidaya Jeruk di Gunungkidul

Published

on

Saptosari,(pidjar.com)–Beragam jenis buah-buahan mulai dikembangkan oleh para petani di Kabupaten Gunungkidul. Salah satunya adalah buah jenis jeruk, sejumlah petani milenial mulai melakukan budidaya buah ini untuk konsumsi pribadi ataupun dijual di pasaran.

Kepala Seksi Produksi Perkebunan dan Hortikultura, Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Sugiyanto mengatakan petani individual dibeberapa kapanewon mulai mengembangkan tanaman jeruk di lahan yang mereka miliki. Sebagai contohnya di Kapanewon Girisubo, Kapanewon Rongkop, dan Kapanewon Saptosari ada beberapa petani yang mengembangkan tanaman buah tersebut.

“Ada beberapa jenis diantaranya jeruk besar (gulung) dan jeruk keprok siam yang biasa dipasaran itu, baru-baru ini di Saptosari juga ada Sunkis,” kata Sugiyanto, Senin (21/06/2021).

Adapun di Gunungkidul populasi jeruk masih sedikit. Tahun 2020 lalh jeruk besar ada 1.240 batang, jeruk keprok siam 4.559 batang. Sehingga panenan yang didapat oleh petani belum bisa memenuhi permintaan pasar. Bulan-bulan seperti sekarang, para petani ini mulai bersiap untuk panen jeruk besar, kemudian Agustus September lanjut panenan jeruk keprok siam.

“Rerata harganya 10.000 sampai 15.000 rupiah per kilo gramnya. Tergantung dengan ukuran dan kualitasnya juga,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dengan dikembangkannya komoditas jeruk, menambah keanekaragaman buah dari Gunungkidul seperti durian, mangga, kelengkeng, alpukat, pisang, dan jambu kristal. Taraf kesejahteraan dengan bergantung pada sektor perkebunan dan hortikultura pun semakin meningkat seiring dengan inovasi dan upaya yang dilakukan oleh para petani.

Sugiyanto menambahkan untuk kesulitan yang dihadapi oleh para petani jeruk sendiri memang berkaitan dengan pengairan. Dimana lokasi-lokasi ini merupakan wilayah yang dianggap sulit air.

“Kondisi kita yang kalau kemarau sulit mendapatkan air bersih ini menjadi kendala petani. Padahal tanaman ini harus cukup air, sementara beberapa daerah kan justru rawan kekeringan,” imbuhnya.

Belum adanya kelompok tani yang minat untuk menanam jeruk menjadi kendala pemerintah untuk turut memfasilitasi misalnya bantuan pengairan dan peralatan. Sebab pemerintah hanya bisa membantu kelompok bukan individual.

“Harapannya dengan adanya embrio petani mandiri di beberapa kapanewon ini bisa mendorong kelompok tani ikut mengembangkan dan budidaya jeruk. Sehingga ekonomi melalui sektor hortikultura dan perkebunan meningkat, kreatifitas petani milenial juga beragam,” tutupnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler