fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Tingkat Kemiskinan Tinggi, Kalurahan Ini Masih Masuk Kategori Rawan Pangan

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Setidaknya ada 8 kalurahan di kabupaten Gunungkidul tercatat masuk dalam kelompok kalurahan rentan pangan. Selain itu, juga masih terdapat 1 kalurahan dengan predikat rawan pangan. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Partanian dan Pangan Gunungkidul bersama dengan lintas OPD berupaya untuk segera mengentaskan status tersebut. Program-program yang dapat menunjang ketahanan pangan sejak tahun 2020 lalu dilaksanakan oleh pemerintah dan diharapkan tahun 2022 mendatang dapat segera tuntas.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Fajar Ridwan mengungkapkan, berdasarkan survei Food Security Vulnerability Atlas (FSVA) yang dilakukan beberapa waktu lalu, dari 144 kalurahan di Gunungkidul, masih terdapat 8 kalurahan potensi rentan pangan dan 1 kalurahan rawan pangan.

Adapun data yang tercatat saat ini, sebagai kalurahan rentan pangan sendiri meliputi Songbanyu, Kalurahan Girisubo; Kalurahan Ngawis, Kapanewon Karangmojo; Girisuko, Kapanewon Panggang; Melikan, Kapanewon Rongkop; Tepus, Kapanewon Tepus; Wonosari, Kapanewon Wonosari; Kepek, Kapanewon Saptosari; dan Dadapayu, Kapanewon Semanu.

“Untuk kalurahan (desa) rawan pangan sekarang tinggal 1 yaitu di Kalurahan Tegalrejo, Kapanewon Gedangsari. Tingkat kemiskinan di wilayah ini yang menjadikan Tegalrejo masih termasuk desa rawan pangan,” kata Fajar Ridwan, Rabu (30/06/2021).

“Ini merupakan data tahun 2020 yang masih kami analisa, harapannya tahun ini Tegalrejo sudah tidak masuk kategori rawan pangan,”imbuhnya.

Menurutnya wilayah tersebut dikatakan rentan lantaran pemanfaatan pangan dengan indikator rasio jumlah rumah tangga tanpa air bersih terhadap jumlah rumah tangga. Artinya, apabila tidak tercover dari wilayah lain, maka akan terjadi permasalahan.

“Sehingga kerentanan pangan tidak hanya tugas dari Dinas Pertanian dan Pangan saja tetapi berbagai instansi. Tetapi jika dari wilayah lain bisa mencukupi, maka indikator itu akan tereliminasi,” paparnya.

Selain itu, indikator lainnya yakni, rasio jumlah penduduk per tenaga kesehatan terhadap kepadatan penduduk. Kemudian juga berkaitan dengan jumlah penduduk dan ketersediaan lahan pangan.

“Didominasi dari akses pangan mulai dari tingkat kemiskinan kemudian sarana prasarana kesehatan yang masih kurang,” imbuh dia.

Pemerintah sendiri mendorong masyarakat untuk lebih aktif dan kreatif dalam memanfaatkan potensi apa yang dimiliki. Misalnya mendorong ketahanan pangan di wilayah tersebut dengan beragam gmkegiatan pertanian, perkebunan dan hortikultura.

Dengan begitu ada aktifitas produksi tanaman pangan dan jenis lain. Jika sekiranya dapat dijual tentu bisa dijual untuk kebutuhan lainnya. Seperti contohnya pengembangan melon, kacang tanah, budidaya itik petelur, dan peternakan kambing. Pemanfaatan lahan pekarangan dan lainnya.

“Ketahanan pangan tentu sangat penting. Apalagi Gunungkidul sekarang ini sektor pertaniannya sedang melonjak,” jelasnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler