fbpx
Connect with us

Budaya

Tolak Malapetaka, Warga Jelok Larung Sesaji di Kali Oya

Diterbitkan

pada tanggal

Patuk, (pidjar.com)–Minggu (14/07/2019) siang tadi, masyarakat mengelilingi rumah milik Dukuh Jelok, Galeh Agung Satriya dengan membawa sejumlah gunungan serta ubo rampe. Warga berdatangan seusai melakukan kenduri di Balai Padukuhan Jelok, Desa Beji. Kebersamaan antar masing-masing warga pada kesempatan ini terlihat sangat erat. Sepucuk nasi uduk dengan abon serta secuil ayam ingkung diwadai pada anaman janur kuning. Makanan itu kemudian dibawa oleh arak-arakan warga menuju Kali Oya yang berjarak tak jauh dari rumah Dukuh. Sesaji itu memang sengaja disisihkan dari makanan yang dibawa warga untuk dikendurikan di Balai Padukuhan sesaat sebelum kirab dimulai.

Sesampainya di Kali Oya, masyarakat berkerumun, dipimpin doa oleh Kamidi yang merupakan sesepuh padukuhan. Bersama-sama mereka memanjatkan doa agar malapetaka tidak menghampiri kehidupan di Padukuhan Jelok.

“Itu untuk syarat yang biasa dibawa untuk melarung seluruh mara bahaya kendala yang akan bisa saja mengancam masyarakat satu tahun ke depan. Dilarung ke Kali Oya agar mengalir menjauhi warga kami,” jelas Kamidi.

Setelah sesaji dilarung, tiga gunungan yang dibawa warga berupa hasil bumi diletakkan di pinggir Kali Oya. Kamidi kembali memimpin doa keselamatan dan panjatan agar hasil panen padi masyarakat Jelok satu tahun ke depan melimpah. Setelah itu, satu ikat padi yang diletakkan paling atas gunungan diserahkan kepada istri Dukuh Jelok sebagai simbol bahwa bibit terbaik padi di musim ini akan disimpan dengan baik.

Berita Lainnya  Syukuri Panen Melimpah dan Mohon Keselamatan, Nelayan Baron Larung Gunungan dan Kepala Kerbau

“Bu Dukuh Puput, tolong disimpan dengan baik, jangan sampai diacak-acak ayam atau burung,” pesan Kamidi.

Setelah itu, ia mengajak masyarakat bersiap-siap untuk mengambil ubo rampe pada gunungan. Namun, ada syaratnya. Sebelum lagu lir-ilir dinyanyikan dan diiringi lagu, masyarakat tidak boleh mengambilnya.

“Nanti tidak berkah gunungannya,” ucap Kamidi.

Dengan tertib di tengah antusiasme yang begitu tinggi, warga kemudian berjejer di sekitar gununngan. Suasana kemudian begitu berbeda saat masyarakat langsung memperebutkan berbagai jenis makanan, sayuran serta buah yang ada dalam gunungan begitu lagu lir-ilir selesai dilantunkan. Tradisi ini memang sangat lazim digelar oleh masyarakat di Gunungkidul sebagai wujud rasa syukur.

Panitia Merti Dusun Jelok, Sukriyanto mengatakan, acara seperti ini baru digelar selama sembilan tahun belakangan ini. Namun untuk acara larungan, memang sudah sejak dulu ada.

Berita Lainnya  Gelar Ritual Ujub Syukur Satu Suro, Masyarakat Gunungkidul Larung Sesaji  di Tengah Laut

“Untuk merti dusun sejak tahun 2010 ini memang kami kemas bekerjasama dengan sejumlah seniman dan mahasiswa ISI maupun KKN UGM,” beber Sukriyanto.

Menurutnya kemasan acara dengan menampilkan kirab budaya akan menjadi daya tarik tersendiri. Terlebih di tahun ini, sore nanti akan ada penampilan keroncong pinggir kali.

“Ada grup keroncong kondang Kidung Etnosia yang akan pentas di pinggir Kali Oya dan penampilan grup keroncong lainnya,” jelasnya.

Ia optimis Merti Dusun Jelok akan terus dipupuk oleh generasi muda-mudi Padukuhan Jelok di masa depan. Terlebih air di Kali Oya sebagai sungai terbesar di Kabupaten Gunungkidul tak pernah sekalipun mengering.

“Sehingga wujud syukur ini memang seyogyanya harus selalu diuri-uri selamanya,” tutupnya.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler