Connect with us

Sosial

“Remaja Masa Kini Anti Nikah Dini”, Sebuah Ikhtiar Tekan Stunting

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan yang menjadi fokus penanganan pemerintah baik tingkat kalurahan, kabupaten, bahkan nasional. Sebab selama ini kadus stunting masih sangat tinggi, misalnya saja angka nasional pada tahun 2019 lalu masih berada diangka 27,7 persen.

Presiden Joko Widodo sendiri menargetkan angka prevalensi stunting terus mebgalami penurunan. Targetnya pada tahun 2024 silam, angka stunting nasional berada pada 14 persen. Sejumlah upaya program penuntasan masalah stunting dilakukan oleh pemerintah.

Belum lama ini Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kemkominfo, Dr. Wiryanta, MA. PhD., mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat di kehidupan sehari-hari. Kemudian juga berpartisipasi dalam penurunan angka prevalensi stunting menjadi fokus konsentrasi pemerintah guna menyambut bonus demografi dan Indonesia Emas di tahun 2045. Hal tersebut disampaikan dalam acara Kepoin Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) “Remaja Masa Kini, Anti Nikah Dini”.

Berita Lainnya  Insiden Tewasnya Pembalap Muda Saat Gelaran Road Race di Lanud Gading, Begini Klarifikasi Panitia

Melalui situs genbest.id dan media sosial @genbestid, GenBest juga menyediakan berbagai informasi seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak, sanitasi, maupun reproduksi remaja dalam bentuk artikel, infografis, dan videografis.

“Tujuannya untuk memberikan sosialisasi pencegahan kepada remaja, sebagai calon orang tua yang akan melahirkan generasi bangsa,” terang Wiryanta.

Di Gunungkidul sendiri, angka stunting dan pernikahan masih sangat tinggi. Maka dari itu pemerintah mengalokasikan anggaran untuk berbagai program kegiatan untuk menekan stunting, terutama berupaya menekan pernikahan dini. Baik calon manten dan pihak keluarga juga diberikan pemahaman.

Anggota Tim KIE Bangga Kencana BKKBN, Eka Sulistia Ediningsih mengungkapkan faktor tertinggi prevalensi stunting adalah masih tingginya pernikahan dini yang dilakukan oleh anak-anak di daerah. Dimana pada faktor tersebut, menyumbang 55 persen angka stunting banyak orang tua yang menikahkan anaknya dengan maksud melepas tanggung jawab ekonomi pada anaknya.

Berita Lainnya  BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi Pantai Selatan, Nelayan Masih Nekat Melaut

“Menikahkan anak pada usia yang masih sangat dini sebenarnya bukan solusi memecahkan permasalahan ekonomi, ini justru menimbulkan permasalahan yang mana perekonomian pasangan muda ini tidak stabil dan melahirkan kemiskinan baru,” papar Eka Sulistia pada acara Kepoin Genbest

Selain faktor ekonomi, juga berkaitan dengan kurangnya informasi yang positif atau kesulitan menyaring informasi, tekanan lingkungan, dan tradisi. Menurutnya, pencegahan stunting sangat penting dilakukan untuk mempersiapkan Generasi Emas Indonesia di tahun 2045. Dimana membentuk calon pemimpin bangsa ini harus generasi emas yang sehat dan produktif.

“Pencegahan stunting harus dilakukan semua kalangan. Mulai dari calon pengantin, keluarga dan lingkungan,” jelasnya.

Eka menghimbau agar remaja yang mengikuti Forum Sosialisasi Genbest agar informasi yang diperoleh dapat disebarluaskan agar lebih banyak orang yang sadar akan bahaya stunting.

Berita Lainnya  Warga Takut, Jenazah Lansia 95 Tahun Sempat Terkatung-katung Hingga Siang Hari

Hal senada juga diungkapkan oleh GKR Bendara mengungkapkan keputusan menikah harus diambil dengan matang, selain dilatarbelakangi dengan faktor ekonomi juga kesiapan kesehatan jasmani rohani. Kesiapan organ reproduksi, mpengelolaan emosional dan lain sebagainya.

“Stop pernikahan dini. Paling tidak diusia 20 tahun, kita menginginkan generasi saat ini bisa menjadi generasi emas 2045 dan mampu memimpin bangsa. Ayo kita tentukan dan pelajari pra-nikah untuk mencegah anak kita mengalami stunting,” ujar Gusti Bendara.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata1 minggu yang lalu

Pria Asal Karangmojo Ditemukan Meninggal di Lereng Tanjakan Bulak Bogor Rongkop

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Rongkop,(pidjar.com)– Seorang pria berinisial DM (34), warga Padukuhan Kelor, Kalurahan Kelor, Kapanewon Karangmojo, ditemukan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan...

Pariwisata3 minggu yang lalu

Onsen Resort Kaliurang, Tawarkan Pengalaman Menginap Bernuansa Jepang di Lereng Merapi

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Jogja ,(pidjar.com)– Menghadirkan perpaduan suasana pegunungan dengan nuansa Jepang, Onsen Resort Kaliurang menawarkan pengalaman menginap yang menyasar keluarga, pasangan,...

Pariwisata2 bulan yang lalu

Kejuaraan Sepatu Roda Bupati Gunungkidul Cup III Digelar di Pantai, 458 Atlet dari 7 Provinsi Berebut Juara

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Tanjungsari, (pidjar.com)- Kejuaraan Open Sepatu Roda Bupati Gunungkidul Cup III 2026 hadir dengan konsep berbeda. Untuk pertama kalinya, lintasan...

Pariwisata3 bulan yang lalu

Pony Park Dibanjiri Wisatawan, Hadirkan Puluhan Satwa Lucu nan Unik

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Jogja,(pidjar.com) – Destinasi wisata edukasi satwa terbaru, Pony Park, resmi dibuka di Kabupaten Klaten. Kehadiran Pony Park mendapat sambutan...

Pariwisata4 bulan yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Berita Terpopuler