fbpx
Connect with us

Sosial

Kasak-kusuk Warga Terkait Pembangunan GOR Desa Bernilai Miliaran

Published

on

Tanjungsari,(pidjar.com)–Proyek pembangunan Gedung Olahraga (GOR) di Padukuhan Gatak 1, Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari menuai pertanyaan warga. Sejumlah kejanggalan dirasakan warga dalam penggarapan proyek yang menelan dana yang cukup fantastis, sebesar 751 juta.

Kepada pidjar.com, salah seorang warga setempat, Sgy menuturkan, beberapa waktu terakhir ini, kasak-kusuk mulai santer terdengar di kalangan masyarakat berkaitan dengan pembangunan GOR yang digagas pemerintah desa itu. Keresahan warga sendiri terjadi lantaran warga melihat pada akhir proses pembangunan, bangunan GOR sendiri tidak seperti yang diharapkan. Di mana, GOR itu meski sudah berdiri, namun dianggap belum selesai.

Sgy sendiri awalnya menyangka, bahwa dengan anggaran ratusan juta yang digelontorkan Pemerintah Desa Ngestirejo, GOR tersebut sudah terselesaikan dan mungkin bisa langsung dimanfaatkan. Pasalnya pada papan pekerjaan yang terpasang, hanya tertulis anggaran 751 juta rupiah untuk pembangunan GOR. Tidak tertera bahwa pembangunan ini merupakan tahap pertama. Sejumlah warga kemudian bertanya-tanya mengenai kejelasan dari pembangunan tersebut, apakah akan langsung dilanjutkan atau bagaimana.

“Mosok anggaran segitu banyak hanya jadi bangunan seperti itu. Banyak yang belum selesai dan terkesan gimana ya, ndak sesuai dengan besaran anggaran yang dikeluarkanlah,” kata Sgy, Jumat (13/03/2020).

Santer beredar kabar jika pembangunan tersebut ada sejumlah penyimpangan. Pasalnya dalam pantauan di lokasi yang dilakukan oleh warga, terdapat sejumlah material yang tidak rapi penggarapannya. Bahkan, ada pondasi baru yang sudah mengalami kerusakan atau patah meski baru seumur jagung.

“Tahunya warga ya dengan anggaran segitu langsung jadi to. Tapi ternyata malah pekerjaannya ndak maksimal seperti itu. Apalagi ini kabarnya masih harus digelontorkan anggaran lagi untuk menyelesaikan. Entah kapan selesainya,” tambahnya.

Sementara itu, warga Padukuhan Gatak 2, Sum mempertanyakan pertimbangan dari Pemdes Ngestirejo untuk membangun GOR. Selain harus menyedot anggaran lebih dari 700 juta dan diperkirakan bertambah, keberadaan GOR ia sebut belum terlalu penting bagi masyarakat. Dengan profesi yang mayoritas merupakan petani, pembangunan GOR dianggap belum perlu. Dengan anggaran sebesar itu, akan jauh lebih berguna apabila pemerintah desa membangun jalan usaha tani maupun program-program pemberdayaan lainnya.

Berita Lainnya  Jadi Mayoritas Pelaku Bunuh Diri, Lansia Harus Dapatkan Perhatian Khusus

“Kayaknya kok nggak efektif ya,” keluhnya.

Saat dikonfirmasi, Sekretaris Desa Ngestirejo, Purwanti menjelaskan bahwa untuk pembangunan GOR Ngestirejo tersebut, pihaknya melakukan 2 tahap. Anggaran yang disiapkan sendiri adalah sekitar 1,1 miliar rupiah yang diambil dari dana desa. Pada tahap pertama, Pemerintah Desa Ngestirejo telah mengeluarkan anggaran sebesar 751 juta. Sementara untuk tahap 2 yang dilaksanakan pada tahun 2020 ini, anggaran yang disediakan sekitar 400 juta rupiah.

“Jadi ada tahapannya. Untuk fisik memang dua tahapan,” ujar dia.

Adapun RAB pembangunan GOR itu direncanakan sebesar 751 juta rupiah. Dalam proses pembangunannya dan pelaksanaan lainnya, kemudian proyek tersebut dilelang dan kemudian dimenangkan oleh CV ABD Mutiara Tama dengan nilai pembangunan 554 juta rupiah. Namun di tengah jalan, kemudian dilakukan adendum untuk proses tersebut dengan anggaran berubah menjadi 609 juta rupiah.

“Kami pilih kontraktor yang sekiranya paling murah tapi untuk spesifikasinya tetap sesuai dengan yang kami butuhkan. Kemudian jatuhlah pilihan ke ABD Mutiara Tama itu,” tambahnya.

Anggaran 751 juta itu menurut Purwanti tidak hanya digunakan untuk pembangunan fisik saja. Melainkan juga digunakan untuk melakukan perataan tanah. Ia menyebut, kondisi awal lahan tersebut merupakan ladang terassiring dengan 3 tingkatan. Lahan itu lantas diratakan menggunakan alat berat.

Berita Lainnya  Rayakan Kelulusan,Puluhan Siswa SMK Kesehatan Ramai-ramai Basuh Kaki Orang Tua

“Jadi 751 juta rupiah itu satu DPA untuk pembangunan maupun perataan dan pembersihan lokasi. Dari pembangunan itu juga masih ada Silpa sekitar 22 juta rupiah,” tambahnya.

Disinggung mengenai kerusakan pada pondasi yang sudah terjadi, ia mengungkapkan jika itu masih menjadi ranah kontraktor. Di mana dalam masa pemeliharaan masih menjadi tanggungan kontraktor. Beberapa waktu lalu, bangunan itu telah diserahterimakan, kemudian tim melakukan evaluasi ditemukan adanya pondasi yang patah dan baja yang belum sempurna dalam pengecatan.

Dari desa sendiri kemudian bersurat ke kontraktor untuk segera melakukan perbaikan. Dari koordinasi awal, menurut Purwanti, pondasi depan yang patah itu disebabkan lantaran struktur tanah yang kepadatannya kurang, sehingga tergerus air dan menyebabkan kepatahan.

“Sudah kami sampaikan melalui surat. Kemudian sampai sekarang belum ada pembenahan. Untuk tahap 2 sendiri baru bisa dimulai jika masa pemeliharaan telah selesai,” urainya.

Pembangunan GOR sendiri diinisasi oleh adanya usulan dari kalangan pemuda. Dalam prosesnya, usulan ini akhirnya dikabulkan sehingga diputuskan untuk membangun GOR. GOR ini nantinya akan menjadi salah satu aset yang dikelola BUMDes.

“Ada pertimbangan kami jika anggaran dialokasikan untuk pembangunan cor rabat ataupun infrastruktur lainnya,” tutup dia.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler