fbpx
Connect with us

Sosial

Angka Harapan Hidup Semakin Tinggi, Rata-rata Warga Gunungkidul Bertahan Hingga Usia 73 Tahun

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari, (pidjar.com)–Angka harapan hidup (AHH) di Kabupaten Gunungkidul semakin naik di setiap tahunnya. Banyak faktor yang mempengaruhi kenaikan angka harapan hidup tersebut.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Gunungkidul, angka harapan hidup manusia pada tahun 2015 adalah 73,69. Angka ini berangsur naik pada tahun 2016 dengan 73,76 kemudian tahun 2017 adalah 73,82 dan pada tahun 2018 73,92. Artinya setiap bayi yang lahir di tahun 2018 akan bisa bertahan hidup hingga di usia 73 tahun lebih 92 hari.

Secara menyeluruh di DIY, angka harapan hidup di tahun 2018 ialah selama 74,82. Sedangkan untuk perbandingan pada tahun 2018, angka harapan hidup di Kota Yogyakarta 74,450, Kabupaten Kulonprogo 75,120, Kabupaten Sleman 74,69 dan Kabupaten Bantul 73,66.

Kepala BPS Gunungkidul, Sumarwiyanto mengatakan angka harapan hidup di Kabupaten Gunungkidul meskipun terendah nomor dua di tahun 2018 jika dibandingkan dengan kabupaten kota di DIY sudah termasuk tinggi. Data tersebut diperoleh dari angka kematian menurut umur di Kabupaten Gunungkidul yang datanya diperoleh dari tabel catatan registrasi kematian setiap tahunnya.

Berita Lainnya  TMMD Resmi Dibuka, Desa Banaran Bakal Dibangun TNI Selama Sebulan ke Depan

“Intinya manusia di Gunungkidul ini menunjukan kesehatannya cukup bagus, tingkat kematian bayi rendah karena proses persalinan dibantu dokter dan bidan sehingga angka harapan hidup semakin meningkat,” jelas Sumarwiyanto kepada pidjar.com, Kamis (18/07/2019).

Lebih lanjut ia menjelaskan, pelayanan kesehatan di Kabupaten Gunungkidul juga mempengaruhi angka harapan hidup. Pelayanan kesehatan dari tingkat Puskesmas yang baik akan mempengaruhi pula panjang usia. Selain itu, udara yang belum tercemar juga mempengaruhinya.

“Secara umum di DIY memang cukup bagus angka harapan hidupnya, karena masyarakat secara umum memiliki sifat narimo ing pandum, itu juga mempengaruhi psikologis karena tidak ada ambisi yang membuat stres,” ujar Sumarwiyanto.

Sementara itu, Staf Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Kabupaten Gunungkidul, Andi Wicaksono mengatakan angka harapan hidup diperoleh dari survei sosial ekonomi nasional (susenas). Adapun salah satunya dalam wawancara Susenas untuk menentukan angka harapan hidup itu sendiri adalah dengan mewawancarai ibu yang menikah dan di usia 17 hingga 49 tahun ditanyai apakah pernah melahirkan anak yang meninggal saat bayi.

Berita Lainnya  Dan Mantan Presiden SBY Pun Akhirnya Piknik ke Pantai Gunungkidul

“Susenas memang kita lakukan setiap tahun, untuk mengupdate angka harapan hidup,” kata Andi.

Secara kasat mata Andi memberi contoh banyak masyarakat di Gunungkidul yang sudah di usia senja namun masih giat bekerja di sawah. Hal itu merupakan salah satu contoh yang membuktikan bahwa angka harapan hidup di Bumi Handayani masih tergolong tinggi.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler