Sosial
Atasi Bencana Kekeringan Menahun, Ini Program Jangka Pendek dan Panjang PDAM Tirta Handayani
Tepus, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Kekeringan seakan tak pernah lepas dari bumi handayani. Setiap kali musim kemarau, ratusan ribu warga masyarakat terdampak oleh bencana tahunan ini. Sejumlah sektor produksi, seperti misalnya di sektor pertanian mandheg akibat bencana. Sebuah hal yang bisa dipahami lantaran untuk mencukupi kebutuhan air untuk hidup saja, para warga tersebut cukup kesulitan.
Kekeringan yang telah menjadi bencana menahun ini membuat banyak kalangan prihatin. Banyak yang kemudian mempertanyakan kinerja pemerintah maupun PDAM Tirta Handayani dalam upayanya mengantisipasi kekeringan yang terus dirasakan masyarakat ini.
Disinggung mengenai upaya PDAM Tirta Handayani dalam mengantisipasi bencana kekeringan, Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, Isnawan Fibrianto mengatakan bahwa pihaknya telah melaksanakan sejumlah program. Dalam hal ini, terdapat program jangka pendek dan panjang yang tengah digagas PDAM Tirta Handayani dalam upayanya untuk menyuplai air ke masyarkat.
Ia jelaskan lebih lanjut, untuk program jangka pendek, pihaknya tengah merevitalisasi sejumlah titik. Menurut Isnawan, saat ini ada empat titik yang direvitalisasi. Keempatnya ialah sumber Gombang dengan debit 40 liter tiap detik; Bribin 25 liter per detik; Karangrejek 30 liter tiap detik dan Tawarsari 7 liter per detik. Sumber Gombang dan Bribin dengan debit 65 liter per detik ini nantinya akan diproyeksikan untuk mensuplai wilayah Rongkop, Tepus dan sekitarnya.
“Sumber Gombang dan Bribin dapat memasok 5.200 KK atau sekitar 26.000 jiwa,” ujar Isnawan, Rabu (11/09/2019) kemarin.

Sedangkan untuk program jangka panjang, kata Isnawan, pihaknya tengah mengusulkan tujuh titik penambahan sumber air Sub Sistem Bribin dan Baron. Ketujuh titik tersebut saat ini tengah diusulkan ke Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak. Diharapkan nantinya, pengajuan ini segera diproses sehingga bisa ditindaklanjuti.
“Dua titik diantaranya yang kami ajukan ialah Kecamatan Tepus yang tengah kami ajukan ke Balai Besar, mereka akan turun riset. Kalau memang airnya sesuai dengan standar pasti akan kami jadikan sumber,” imbuhnya.
Adapun salah satu wilayah yang terus berkutat dengan kekeringan adalah Kecamatan Tepus. Sebagian warga di kecamatan ini pada setiap musim kemarau hanya bisa mengandalkan pembelian air dari tangki swasta untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga tersebut. Harga per tanki yang mencapai harga Rp. 150.000 tentu bukan harga yang murah.
“Biasanya kami membutuhkan satu tanki satu bulan untuk kebutuhan pokok seperti MCK,” tutur salah satu warga Padukuhan Tepus III, Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Turistyo Abimanyu kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com.
Turistyo menyebut, bencana kekeringan yang terus ia rasakan bersama warga lainnya ini adalah sebuah irani. Hal ini lantaran, jika dilihat dari potensi sungai bawah tanah yang ada di Tepus yang cukup banyak, seharusnya bisa diolah oleh pemerintah guna memenuhi kebutuhan rakyatnya.
“Di sini sebenarnya banyak sekali goa dan dalam goa ada luweng yang mana airnya tidak pernah surut, saya rasa sangat cukup jika dapat dimanfaatkan untuk masyarakat kala musim kemarau,” ucap Turis.
Diceritakan Turis, dirinya pernah suatu waktu menyusuri salah satu goa vertikal di Desa Tepus meski dengan peralatan seadanya. Dalam proses penyusuran goa ia menggunakan tambang dan membawa sebuah gergaji sebagai antisipasi jika ada binatang buas dalam goa. Di kedalaman lebih dari lima puluh meter, gergaji yang ia bawa pun jatuh.
“Kalau memang dalamnya itu bukan air pasti tidak berbunyi blung,” kata Turis.
Namun kala itu, ia tak sempat ambil golok karena di kedalaman lima puluh meter ia sudah tidak bisa bernafas. Kemudian yang menurutnya menjadi ironi, sumber air di Wilayah Tepus tak bisa dimanfaatkan dengan baik.
“Saya yakin banyak titik-titik sepanjang Tepus menuju pantai yang di bawahnya ada airnya, selama ini airnya hanya mengalir ke pantai kalau tidak dimanfaatkan,” ujar dia.
Oleh karenanya, pihaknya berharap, pemerintah ke depannya dapat memberikan fasilitas peralatan untuk bisa menaikkan air dari bawah tanah Tepus agar dapat dinikmati masyarakat. Terutama selama musim kemarau.
“Tentu saja, kami yakin alatnya dan upaya untuk menaikkan air membutuhkan biaya yang tidak murah, namun itulah solusi apabila dibandingkan seumur hidup masyarakat Tepus harus mengandalkan beli air dan droping,” tandasnya.
-
Pemerintahan2 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized2 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Peristiwa2 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Peristiwa2 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized3 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized6 hari yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized1 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized7 hari yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang laluLaka Beruntun Maut 4 Kendaraan di Selang, Seorang Remaja Tewas
