fbpx
Connect with us

Olahraga

Atlet Semanu Jadi Raja Sprint Peparnas Papua, Raih 3 Medali Sekaligus

Published

on

Semanu, (pidjar.com)–Atlet Paralimpiade asal Gunungkidul yang mewakili kontingen DIY dalam Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVI Papua menorehkan sejumlah hasil yang membanggakan. Salah satu atlet difabel Gunungkidul yang paling sukses adalah, Danu Kuswantoro (30) warga Padukuhan Semuluh Kidul, Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu. Danu berhasil menyabet dua medali emas dan satu medali perunggu sekaligus pada cabang olahraga atletik balap kursi roda.

Saat dihubungi melalui sambungan telepon, pria yang akrab di sapa Danu itu mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung dirinya di ajang Peparnas XVI Papua saat ini. Di tengah keterbatasan yang ia miliki, ia membuktikan bahwasanya dirinya masih bisa berkarya dan berprestasi membanggakan keluarga dan daerah asalnya. Meskipun melalui jalan yang panjang dan menghadapi berbagai kendala, perjuangannya terbayarkan dengan peroleh medali yang ia dapat. Tak tanggung-tanggung tiga medali berhasil ia peroleh dari nomor-nomor pertandingan atletik balap kursi roda.

Danu yang mengalami tuna daksa itu menceritakan awalnya kegemarannya di bidang olahraga. Hal tersebut dimulai saat ia masih menjadi pelajar di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) pada tahun 2012 sampai 2013 silam. Olahraga yang ia geluti awalnya ialah badminton kursi roda dan balap kursi roda pada saat itu. Namun kegemarannya itu harus berhenti beberapa tahun karena berbagai hal.

“Sempat berhenti 2 atau 3 tahun, pertama dulu olahraga badminton dan balap kursi roda,” ucapnya melalui telepon, Senin (15/11/2021).

Pada tahun 2016, ia merasa terpanggil kembali menggeluti dunia atletik. Ia kemudian memutuskan kembali ke dunia atletik bersamaan dengan adanya kejuaraan daerah pada waktu itu. Ia mengungkapkan jika setelah mantap menggeluti dunia atletik, rangkaian latihan ia lakukan untuk menyiapkan dirinya berkompetisi di kancah daerah. Namun aktivitas latihannya terganggu dengan adanya pandemi covid19 pada 2020 lalu karena aktivitas tempat latihannya turut dibatasi.

“Saya hanya latihan mandiri di rumah, setelah boleh melakukan di tempat latihan, saya ngelaju dari Semanu ke Mandala Krida untuk latihan,” sambung Danu.

Latihan selama dua tahun ia jalani agar dapat membuktikan prestasi dirinya. Proses seleksi agar dapat mewakili DIY yang sangat berat pun ia ikuti untuk dapat berkompetisi di tingkat nasional.

“Latihan hampir dua tahun, pertama itu di tes sprint kursi roda masuk kualifikasi atau tidak. Setiap 2 sampai 3 bulan sekali dilakukan tes lagi apakah ada perkembangan atau tidak. Alhamdulillah kemudian bisa mewakili DIY,” jelas dia.

Dalam kompetisi di Peparnas Papua, Danu mengakui bahwa lawan-lawan yang harus ia hadapi memang cukup kuat, khususnya kontingen dari DKI dan Sumatera Utara. Danu sendiri berkompetisi di cabang olahraga atletik balap kursi roda di nomor 200 meter, 400 meter, dan 800 meter. Latihan keras yang ia jalani selama ini membuahkan hasil. Dari ketiga nomor yang ia pertandingkan, semuanya berhasil meraih medali. Dua medali emas dan satu medali perunggu adalah bukti keunggulan mutlak Danu.

“Nomor 200 meter dapat medali emas, nomor 400 meter dapat perunggu, dan nomor 800 meter dapat emas lagi,” ucapnya gembira.

Atas keberhasilannya memperoleh medali, ia berharap pemangku kebijakan dapat lebih memperhatikan fasilitas olahraga di Gunungkidul. Ia menyampaikan selama ini untuk melakukan latihan, ia harus pergi ke Yogyakarta yang mempunyai fasilitas tempat latihan olahraga yang memadai. Ia yakin jika nantinya ada fasilitas olahraga di Gunungkidul untuk latihan, prestasi demi prestasi akan ditorehkan oleh putra-putri Gunungkidul di kancah nasional.

“Harapannya segera ada fasilitas olahraga yang mendukung. Kendala latihan selama ini paling kerasa soal jarak, kalau latihan harus nglaju ke Mandala Krida,” terangnya.

Ia juga mengajak teman-teman yang memiliki keterbatasan agar lebih menggali potensi dirinya dan tidak terlarut-larut dalam keadaan. Ia membuktikan jika dengan keterbatasannya dapat mengharumkan daerah asalnya.

“Tentunya bisa menambah wawasan dan pengalaman teman-teman difabel, kedepan teman-teman difabel harapannya makin terbuka untuk ikut berprestasi,” tutup Danu.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler