fbpx
Connect with us

Sosial

Berkaca Dari Tragedi Susur Sungai Sempor, Pegiat Outbond Gunungkidul Sinau Bareng

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Tragedi susur Sungai Sempor yang dialami oleh siswa siswi SMP Negeri 1 Turi beberapa waktu lalu menjadi catatan khusus bagi sekolah-sekolah maupun penyedia kegiatan outbound di berbagai wilayah. Edukasi mengenai managemen resiko mulai ditingkatkan agar kegiatan-kegiatan di luar ruangan atau outdoor masih dalam kategori aman dan tidak membahayakan peserta. Jangan sampai kegiatan yang sebenarnya bersifat positif ini, justru meminta korban seperti yang terjadi di Sungai Sempor beberapa waktu silam.

Beberapa waktu lalu, dari pemkab Sleman telah megeluarkan surat edaran berkaitan dengan pembatasan kegiatan di luar ruangan yang memiliki resiko tinggi. Sejumlah kegiatan perkemahan dan lainnya diberhentikan sementara waktu akibat adanya insiden yang menelan korban lantaran kelalaian itu. Tentunya hal ini berdampak pada kegiatan para pemilik usaha outbound.

Seperti yang diungkapkan oleh pegiat outbound, Heri Sulistiyo, dampak dari pembatasan kegiatan yang dilayangkan Pemkab Sleman ini cukup beragam. Salah satunya yakni adanya sejumlah pembatalan jadwal kegiatan. Pada bulan Maret 2020 saja misalnya, ada 3 job yang dibatalkan dan 1 lainnya harus dijadwalkan ulang.

“Kami (provider) kan kerjanya ndak terbatas wilayah to. Kalau ada job di daerah lain kan tetap berangkat tapi adanya kejadian kemarin dan ditambah isu corona, ada yang dibatalkan,” kata Heri Sulistyo, Jumat (06/03/2020).

Lebih lanjut dipaparkannya, menindaklanjuti kondisi seperti ini dan adanya waktu luang karena sejumlah job yang batal, para penyedia jasa outbound menggandeng sejumlah lembaga melakukan kegiatan belajar bareng. Pokok bahasan yang diberikan yakni berkaitan dengan klasifikasi resiko, penyebab reskio, pencegahan resiko hingga tindakan terhadap resiko yang terjadi saat menggelar kegiatan outbond.

Berita Lainnya  Pariwisata Gunungkidul Dinilai Butuh Hotel Berbintang dan Tempat Hiburan Malam

Beberapa kegiatan yang sekarang ini direkomendasikan yakni berkaitan dengan kegiatan yang ringan-ringan saja dengan memperhatikan kondisi cuaca dan lokasi yang terjadi. Misalnya dengan bermain yang mengarah pada keseruan saja tanpa melakukan kegiatan yang menantang.

Pada musim penghujan seperti sekarang ini, memang untuk kegiatan di alam terbuka menjadi catatan khusus. Pasalnya kegiatan tersebut memang rawan bahaya jika mendadak terjadi anomali alam. Misalnya terjadinya banjir bandang, tanah longsor dan yang lainnya. Untuk itu, segala macam persiapan harus mulai dilakukan baik pantauan cuaca hingga teknis keselamatan.

Untuk sementara, pegiat outbond direkomendasikan untuk menawarkan sejumlah kegiatan yang hanya sekedar menambah keakraban maupun kebersamaan.

“Ada beragam yang menjadi catatan khusus. Sebenarnya juga ada beberapa kegiatan yang boleh dilakukan tapi ada upaya antisiapasi dan penanganan,” tambahnya.

“Kita harus menghindari tempat-tempat yang mamang beresiko,” imbuh Heri.

Kegiatan belajar bersama ini menurut Heri dilakukan untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuan yang dimiliki para penyedia layanan outbond. Serta juga mengetahui langkah-langkah yang diperlukan jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan. Terlebih saat kegiatan berada di alam, sehingga dari pegiat harus memiliki kemampuan untuk meminimalisir terjadinya bencana.

“Kami juga mengajak anggota pramuka dan instansi lainnya dalam kegiatan ini. Semakin banyak yang paham akan semakin bagus,” tambahnya.

Beberapa waktu lalu pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga memberikan himbauan terhadap seluruh program ekstrakulikuler yang dinilai berbahaya dihentikan sementara. Kepala Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Gunungkidul, Bahron Rasyid menyebut, penghentian sementara tersebut merupakan upaya untuk Gunungkidul menenangkan diri. Ia menegaskan seluruh ekstrakulikuler di semua jenjang pendidikan tetap diperbolehkan, hanya saja kegiatan ekstrem dihentikan.

Berita Lainnya  Prihatin Sudah 200 Hari Tanpa Hujan, Warga Ngeposari Gelar Sholat Istisqo

“Kegiatan beresiko tinggi seperti susur sungai atau apapun itu kami hentikan sementara,” ucap dia, Rabu (26/02/2020).

Menurutnya, selain untuk cooling down, penghentian ini merupakan bentuk evaluasi dari seluruh rangkaian perencananaan dan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler untuk ke depannya. Sebagai gantinya, seluruh kegiatan yang beresiko tetap akan dilaksanakan dengan memindahkannya di dalam lingkungan sekolah saja.

“Kami akan tingkatkan pembinaan dan penggemblengan para pembina pramuka hingga ke satuan gugus depan,” jelas Bahron.

Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi mendukung adanya penghentian sementara kegiatan ektrakurikuler yang beresiko tinggi. Menurutnya evaluasi kegiatan dan penenangan dengan diberhentikan sementara kegiatan estrim ini sangat perlu dilakukan semua lini dalam kegiatan pramuka.

“Semoga bisa menjadi pelajaran kita semua, upaya colling down sangat perlu untuk menenangkan pikiran,” ujarnya.

Immawan mengungkapkan, masyarakat Gunungkidul memberikan keprihatinan yang mendalam terkait musibah yang menimpa ratusan pelajar SMP di Turi saat melakukan kegiatan susur sungai. Ia berharap musibah ini bisa dijadikan pengalaman agar kegiatan yang menantang dapat dijamin keamanannya dengan SOP.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler