fbpx
Connect with us

Sosial

Catatan Revalidasi Geopark Gunungsewu, Pengelola Goa Pindul Dinilai Tak Perhatikan Konservasi

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–General Manager (GM), Geopark Gunungsewu, Budi Martono menyebut geosite yang dijadikan kawasan wisata, Goa Pindul saat ini masih belum memperhatikan konservasi. Pihaknya khawatir dengan tidak adanya konservasi di kawasan tersebut nantinya akan berdampak pada kerusakan alam.

“Goa Pindul secara pengelolaan belum memperhatikan konservasinya,” kata Budi saat mengikuti kegiatan di Bangsal Sewoko Projo, Kamis (25/07/2019) kemarin.

Nantinya, lanjut Budi dengan tidak diperhatikannya konservasi di kawasan geosite tersebut akan semakin menjauhkan Goa Pindul sebagai kawasan wisata geotourism. Geotourism sendiri merupakan konsep wisata dengan cara menjual pemandangan bentang alam yang dimiliki.

“Harus hati-hati dalam konservasinya, contoh goa pindul, pindul itu sebenarnya bukan geotourism di geopark tetapi kita akan melakukan pendekatan kalau kasus pindul seperti itu diteruskan nantinya akan rusak,” ucap Budi.

Lanjut Budi, dirinya mencontohkan kawasan geosite yang saat ini telah memperhatkan konservasi adalah obyek wisata Kali Suci. Menurutnya dengan adanya kebijakan dari pengelola yang telah konsisten telah membatasi jumlah wisatawan menjadi salah satu contoh menjaga alam lingkungan.

Berita Lainnya  Harga Gaplek Tembus Yang Tertinggi Sepanjang Sejarah

“Konsep geopark tidak berhenti sampai disini pariwisata yang dikelalola harus memperhatikan konservasinya, pengelolaan sampah, dan pemberdayaan masyarakatnya. Tetapi saya yakin pengelola Goa pindul bisa melakukan konservasi, karena jika sampai rusak pasti mereka kehilangan wisatawan,” imbuhnya.

Walaupun masih belum sempurna dalam pengelolaan geopark dirinya yakin Geopark Gunungsewu masih akan mengantongi Green Card dari UNESCO, walaupun dengan beberapa catatan. Adapun catatan tersebut diantaranya masih kurangnya promosi berupa booklet di pusat informasi Ngingrong, lalu disekolah-sekolah dan rumah makan.

“Hal tersebut masalah kecil namun itu adalah bentuk sosialisasi,” ungkapnya.

Pihaknya akan memberikan rekomendasi kepada bupati Gunungkidul untuk segera ditindak lanjuti oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait mengenai beberapa temuan tersebut. Diharapkan, segala kekurangan yang ada lambat laun segera teratasi dan menjadi hal positif bagi kemajuan Gunungkidul.

Sementara itu BUpati Gunungkidul, Badingah berharap setelah dilakukan revalidasi selama 3 hari ini Geopark Gunungsewu mendapatkan green card. Pihaknya juga telah mengusahakan secara optimal.

“Konsep geopark sudah kita lakukan edukasi ada, pelestarian lingkungan ada, pertumbuhan ekonomi juga sudah dirasakan pertumbuhannya,” katanya.

Saat disinggung mengenai belum pahamnya masyarakat terkait dengan konservasi alam, ia menuturkan hal tersebut akan dibenahi perlahan-lahan. Dirinya sangat optimis masyarakat Gunungkidul bisa saling bergotongroyong menjaga alam dan lingkungan.

Berita Lainnya  Sukses Manfaatkan Secuil Ladang, Ibu-ibu Ini Kini Tak Perlu Lagi Belanja ke Pasar

“Nanti sambil jalan kita benahi tentunya sebagaimana yang kita harapkan juga sulit. Apalagi untuk pindul saat mulainya sudah seperti itu, ya nanti akan kita benahi perlahan-lahan,” katanya.

Terpisah, satu diantara Assesor dari UNESCO, Arthur Agostinho De Abreu mengatakan kawasan Geopark Gunungsewu sangat fantastik dirinya bisa merasakan udara segar seperti parfum dan mendapatkan pengalaman dari penduduk sekitar.

“Ketika kami datang ke Yogyakarta Internasional Airport kenapa tidak diberikan referensi ke Geopark Gunungsewu karena ini sangat penting untuk mereka merasakan fantastiknya geopark gunungsewu. akar masyarakat luar seperti kami bisa merasakan udara yang segar seperti parfum, dan mereka bisa melihat pemandangan alam dan mereka bisa merasakan bagaimana orang-orang disini hidup itu pengalaman yang fantastic, itulah yang kami inginkan,” pungkasnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler