fbpx
Connect with us

Sosial

Cerita Pilu di Balik Amarah Bocah SMP Yang Ngamuk Bawa Sabit ke Sekolah, Sejak Kecil Ditinggal Orang Tua

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Di balik aksi konyol yang dilakukan oleh G (13), siswa sebuah SMP negeri di Kecamatan Ngawen yang membawa sabit ke sekolah, rupanya tersimpan cerita pilu di belakangnya. Bagaimana tidak, bocah dengan perawakan tinggi kurus itu ternyata tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungnya. Sejak ia masih bayi, G sudah ditinggalkan dan akhirnya diurus oleh kakek buyutnya.

Diceritakan oleh TS (65) kakek buyut GR, sejak kecil G memang sudah ditinggal oleh ibunya pergi merantau ke Jakarta sebagai Asisten Rumah Tangga (ART). G kemudian hidup bersama kakek dan nenek buyutnya beserta adiknya yang masih duduk di SD, di Desa Jurang Jero, Kecamatan Ngawen. Sementara kakeknya tinggal di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Hidup jauh dari orang tua dan tinggal bersama lansia membuat G selama ini harus mandiri.

“Dia biasa membantu saya ke ladang, mencari rumput untuk kambingnya. Biasa juga mengantar pupuk kandang dari rumah ke ladang,” kata TS, Rabu (12/09/2019) kemarin.

Menurut kakek buyutnya itu, keseharian G sendiri tidak berbeda dengan remaja lainnya. Ibunya hanya sesekali pulang dan bertemu kedua anaknya.

Berita Lainnya  Menikmati Sensasi Olahan Daging Kambing Khas Sate Tobong, Rasa Nikmat dan Anti Prengus

“Sejak masih bayi bersama saya. Orangnya itu kesehariannya biasa saja,” ucap pria yang rambutnya sudah mulai memutih ini.

G sendiri dapat dikatakan menjadi korban broken home. Selain ditinggal bekerja sejak kecil oleh ibunya, G juga belum pernah sekalipun bertemu dengan ayahnya. Hal itu tentu membuat dirinya kekurangan kasih sayang dari orang tua.

Sementara itu, Kapolsek Ngawen, AKP Kasiwon mengatakan, melihat perilaku G yang terbilang nekat membawa sabit ke sekolah merupakan bentuk pemberontakan dirinya yang masih remaja berbeda dengan remaja lainnya.

“Saya kebetulan belajar psikologi pendidikan, jadi tahu sedikit tentang psikologi. Kenakalan seperti itu karena bentuk pembrontakan dirinya pada situasi dirinya yang berbeda dengan teman sebayanya,” ucapnya.

Dia mengatakan, pasca peristiwa itu, ia langsung memerintahkan Bhabinkamtibmas untuk menyelesaikan persoalan. Hari ini juga dilakukan mediasi antara sekolah dan keluarga pelaku, di Mapolsek Ngawen. Keduanya pun membuat surat pernyataan terkait masalah ini.

Berita Lainnya  Melanglang Buana Hingga Luar Negeri, Lampu Hias Asli Gunungkidul Ini Justru Tak Dilirik di Tanah Sendiri

“Sudah selesai, saya tadi juga berpesan kepada anak tersebut untuk tidak mengulangi dan kembali ke sekolah,” ucapnya.

Kepala Sekolah SMP tempat G bersekolah, Sriyana menjelaskan, sampai saat ini GR masih berstatus sebagai siswanya. Pihak sekolah juga tidak akan mengeluarkan GR dan selalu memberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah.

“Kami tidak menyalahkan anak, karena usia remaja biasa seperti itu. Apabila anak pengen sekolah lagi ndak apa-apa, kalau ingin pindah kami memfasilitasi akan menghubungi ke sekolah lain,” ucap Sriyana

“Tetap anak didik kami dan tidak mengundurkan diri ataupun kami keluarkan,” imbuh dia.

G sendiri saat dimintai tanggapan apakah masih ingin bersekolah lagi, dirinya mengaku Kamis (12/09/2019) ini akan kembali bersekolah.

“Iya besuk,” katanya singkat.

Saat ditanya mengenai cita-citanya saat dewasa, G pun tidak menjawab, mengaku bingung. Yang pasti dirinya akan tetap bersekolah sampai SMK.

“Ingin melanjutkan SMA, tapi SMK ding,” ucapnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler