fbpx
Connect with us

Politik

Jelang Penentuan Pilkades Baleharjo, Mantan Kades Klarifikasi Isu Korupsi Balai Desa Megah

Diterbitkan

pada

BDG

Wonosari,(pidjar.com)–Ajang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di tahun 2018 ini mulai memasuki babak-babak penentuan. Pada Minggu (07/10/2018) pagi tadi, puluhan calon kades memaparkan visi misi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang sekiranya akan dikerjakan jika terpilih menjadi kepala desa. Pemaparan visi dan misi ini nantinya diharapkan bisa menjadi salah satu pertimbangan dari masyarakat dalam menjatuhkan pilihan.

Salah satu desa yang menyelenggarakan Pilkades adalah Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari. Dalam pilkades 2018 ini, sebanyak 2 orang calon kepala desa memaparkan visi misi didepan puluhan masyarakat dan panitia di Balai Desa Baleharjo. Satu persatu, para calon kades baik dari nomor urut satu yaitu Agus Sulistiyo A.Md serta calon nomor urut 2 Agus Setiawan. Agus Setiawan sendiri dalam pencalonan ini bertindak sebagai petahana meski telah sejak 2016 silam habis masa jabatannya.

Walaupun ada petahana yang mengincar periode kedua, namun diperkirakan Pilkades Baleharjo ini akan berlangsung seru. Kedua calon disinyalir memiliki kekuatan yang relatif berimbang. Situasi sendiri tidak bisa dipastikan lantaran layaknya desa yang berada di wilayah perkotaan, masyarakat Baleharjo yang sebagian besar merupakan kalangan berpendidikan.

Ditemui usai pemaparan visi dan misi, calon nomor urut 2 Agus Setiawan menyatakan optimis bisa memenangkan persaingan. Hal ini lantaran sejauh ini, dukungan dari masyarakat Baleharjo masih sangat besar.

Namun demikian, Agus mengaku sedikit terganggu dengan isu pembangunan Balai Desa Baleharjo yang saat ini dipenuhi dengan spekulasi di kalangan masyarakat. Agus menegaskan bahwa balai desa yang menghabiskan dana 1,4 miliar tersebut jauh dari korupsi. Meski mengakui ada sedikit masalah setelah pihak ketiga yang dipercaya melakukan pembangunan kabur, namun seluruh permasalahan pada akhirnya bisa ia selesaikan.

Agus memberikan penjelasan bahwa Balai Desa Baleharjo tersebut memang menjadi cita-citanya sejak sebelum menjabat sebagai Kades Baleharjo. Sebelumnya, meski berada di kawasan perkotaan, namun Balai Desa Baleharjo termasuk kuno jika dibandingkan dengan balai desa yang lainnya. Sekian lama tidak ada pembangunan, Agus lantas bercita-cita Baleharjo bisa memiliki balai desa yang megah.

Berita Lainnya  Bayi Kembar Dempet Banjir Perhatian, Wakil Bupati Akan Kunjungi Langsung Ajak Kepala Dinas

“Kita sebenarnya memang mampu kok membangun balai desa yang representatif dan menunjukan gengsi bagi Baleharjo,” ujar Agus, Minggu siang tadi.

Kesempatan untuk memiliki Balai Desa megah sendiri kemudian terbuka lebar setelah desa menerima uang sewa tanah dari lahan eks terminal yang sebelumnya diserahterimakan ke desa. Dari lahan eks terminal tersebut Pemdes Baleharjo mendapatkan dana sebesar 2 miliar. Dana itu lalu dimasukan ke APBDes Baleharjo dan 1,4 miliar diantaranya kemudian dianggarkan untuk pembangunan Balai Desa.

“Semua sudah setuju baik BPD, tokoh masyarakat maupun dari pemerintah desa sendiri. Kami lalu membentuk tim dan memulai proses pembangunan,” lanjut dia.

Namun di tengah jalan, masalah mulai muncul ketika ada pihak yang kemudian menghilang setelah menerima sebagian dari pembayaran pembangunan balai desa. Hal ini kemudian menyebabkan proses pembangunan tersendat.

Ia memaparkan, meski Pemdes Baleharjo pada dasarnya tidak ada sangkut pautnya dalam pembangunan Balai Desa, namun kemudian ia memiliki tekad bahwa balai desa tersebut harus jadi. Akhirnya, proses pembangunan sendiri bisa diselesaikan dan saat ini balai desa lengkap dengan segala kemegahan serta fasilitasnya tersebut bisa dipergunakan masyarakat Baleharjo.

“Jadi saya ini sama sekali tidak korupsi uang pembangunan balai desa. Tidak ada upaya memperkaya diri dari anggaran pembangunan Balai Desa tersebut, justru saya malah tombok. Di pikiran saya yang penting balai desa bisa jadi dan dipergunakan,” paparnya.

Agus Setiawan mengatakan visi yang ia akan terapkan jika nantinya terpilih menjadi kepala desa kembali yakni tetap memperkuat gotong royong yang menjadi ciri khas warga Gunungkidul. Di desa Baleharjo sendiri, selepas masa jabatannya berakhir untuk kekuatan gotong royong dianggapnya mulai memudar. Hal tersebut kurangnya interaksi dan sosialisasi dari pemangku kekuasaan terhadap rakyat.

Padahal menurutnya gotong royong masyarakat di Desa Baleharjo sejak dahulu sangatlah kuat. Dari kekuatan itu nantinya dapat menghasilkan suatu kinerja dan sistem yang luar biasa.

Berita Lainnya  Ancaman Kekeringan Yang Semakin Parah, Pemkab Gunungkidul Tambah Anggaran Kebencanaan

“Dapat dilihat masyarakat sini berbeda-beda. Gotong royong itu sangat diperlukan. Kami juga mengangkat bidang sosial dan budaya, itu tidak bisa ditinggalkan. Tidak dipungkiri perkembangan teknologi menggerus gotong royong, sosial dan budaya,” ucap Agus Setiawan.

Kondisi semacam ini perlu dihindarkan tentunya. Dimisalkan, sekarang ini masyarakat selalu sibuk dan bergantung dengan gadget masing-masing hingga lupa berinteraksi, sosialisasi bahkan dengan budaya yang ada. Dengan gotong royong yang diwajibkan paling tidak untuk sementara waktu ada interaksi dengan orang lain dan meninggalkan handphone masing-masing.

“Apa yang mendorong saya untuk maju kembali. Masih ada banyak program yang belum terealisasi atau terselesaikan. Saya masih ingin berjuang menjadikan Desa Baleharjo yang kuat dan dikenal bukan karena di pusat kota tapi karena kekuatan gotong royong masyarakatnya,” tambah dia.

Calon Kades Baleharjo nomor urut 1 Agus Sulistyo A.Md saat memaparkan visi dan misinya

Sementara itu, calon kades Baleharjo nomor urut 1, Agus Sulistyo, AMd juga memaparkan mengenai visinya jika nantinya terpilih menjadi kepala desa Baleharjo. Ia memiliki visi untuk membangun masyarakat yang mandiri dengan gotong royong dan kebersamaan sehingga tercapai masyarakat yang rukun dan damai.

“Potensi yang ada di Baleharjo sebenarnya banyak akan tetapi belum tergali secara keseluruhan. Itu yang membulatkan tekad saya untuk mengabdi bagi tanah kelahiran saya,” kata Agus Sulistyo.

Selain potensi yang belum tergali, ia menganggap pembangunan melalui alokasi dana desa yang dilakukan saat ini masih belum maksimal. Hal ini membuat ada banyak program yang belum tergarap. Hal semacam ini tentunya sangat merugikan bagi masyarakat Baleharjo yang tidak terampu terhadap program pembangunan.

Jika nantinya terpilih menjadi kepala desa, ia akan menjalankan program-program yang telah terkonsep di benaknya akan ia realisasikan demi kemajuan dan kebersamaan warga masyarakatnya.

Kinerjanya nanti tentu menjunjung asas transparansi dan membentuk pemerintahan yang akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan. Ia menyadari, Baleharjo merupakan salah satu desa yang berada di pusat kota. Penduduknya pun beragam baik dalam hal keyakinan, karakter dan lainnya. Maka dari situlah ia memiliki jurus yang dianggapnya ampuh untuk merangkul semua kalangan sehingga keberagaman yang ada tersebut justru menjadi kekuatan.

Berita Lainnya  Masih Ada Sejumlah KPPS Tolak Rapid, Begini Solusi KPU

“Beragam memang penduduknya mulai dari karakter, keyakinan, dan golongan. Pengalaman saya jadi Ketua RT menjadikan saya dapat mengenal lebih dekat warga saya. Kedekatan emosional, mengetahui karakteristik ada permasalahan yang ada itu sangat penting,” tambah Agus Sulistiyo.

Adapun dua calon kades yang berlatar belakang sebagai pengusaha tersebut beberapa waktu lalu juga telah melakukan deklarasi damai. Di mana masing-masing pihak telah siap untuk menang maupun kalah. Kepada calon yang kalah nantinya akan menerima dengan lapang dada dan tetap mendukung kinerja serta program dari calon yang menang dan nantinya menjabat sebagai Kepala Desa Baleharjo. Pada intinya keduanya sepakat akan mengabdi bagi masyarakat dan mengembangkan desa yang ada.

Kedua Calon Kades Baleharjo, Agus Sulistyo (kiri) dan Agus Setiawan (kanan)

Terpisah Ketua Panitia Pilkades Baleharjo, Tumijo mengungkapkan penyampaian visi misi calon kepala desa pagi tadi berjalan lancar. Tidak ada perdebatan atau gesekan dari masing-masing pendukung. Adapun klasifikasi calon kepala desa yakni yang benar-benar ingin mengabdi kepada masyarakat, bukan kepentingan pribadi. Segala macam program harus dilandasi dengan kebutuhan dan memperhitungkan kondisi masyarakatnya.

“Kami tidak bisa mutusi tentunya. Dikembalikan kemasyarakat yang benting mereka sudah tahu visi misi dari masing-masing kita pengawalan dan penyelenggaraan saja,” terang Tumijo.

Di desa Baleharjo sendiri terdapat 5 TPS yang tersebar di setiap padukuhan. Terdapat sekitar 4.600 pemilik hak suara yang dapat ikut dalam gelaran demokrasi di tingkat desa ini. Rencananya setelah pemaparan visi misi ini, Senin besok akan dilanjutkan kampanye dari calon nomor urut 1 dan Selasa mendatang disusul calon nomor urut 2 diperbolehkan melakukan kampanye. Penjadwalan kampanye terbuka secara bergilir ini sebagai upaya antisipasi gesekan.

“Mulai jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB untuk kampanye terbuka terserah mau digunakan atau tidak. Kalau kampaye tertutup malam harinya. Dibandingkan tahun sebelumnya sekarang lebih sedikit calonnya hanya 2 calon,” tutup dia.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler