fbpx
Connect with us

Uncategorized

Cerita Sang Pahlawan Hutan Konservasi Suratimin, Ubah Desa Semoyo Yang Tandus Hingga Dapat Penghargaan Kalpataru

Published

on

Patuk,(pidjar.com)–Wilayah Gunungkidul dikenal sebagai wilayah tandus, gersang dan wilayah minus. Dengan kondisi perbukitan karst, kekeringan menjadi suatu hal yang sangat lekat dengan warga Gunungkidul. Namun seiring berkembangnya zaman, kini sebagian masyarakat mulai melakukan sejumlah upaya untuk merubah hal tersebut. Salah satunya adalah melalui pelestarian air dengan mengeliatkan kembali keberadaan hutan rakyat. Seperti yang dilakukan warga Padukuhan Salak, Desa Semoyo, Kecamatan Patuk. Apa yang dilakukan oleh warga Desa Semoyo memang sangat fenomenal. Bahkan prestasi ini diakui secara nasional melalui penghargaan Kalpataru dari pemerintah pusat.

Salah seorang warga yang menggagas konservasi hutan rakyat, Suratimin Sukro Utomo menceritakan, pada tahun 2004 silam, wilayah Semoyo merupakan wilayah gersang. Bahkan saat musim kemarau tiba, wilayah tersebut terasa sangat panas.

“Gunungkidul khususnya (desa) Semoyo dikenal dengan wilayah gersang. Dulu desa kami gersang sekali. Saat kemarau daerahnya sangat panas,” kata Suratimin, Sabtu (26/01/2019).

Suratimin yang baru pulang dari merantau di wilayah Kalimantan dan Papua merasa prihatin dengan keadaan tersebut. Ia lantas mengumpulkan warga untuk membentuk kelompok tani. Awalnya, ada sekitar 20 warga yang menjadi anggota kelompok tani bernama Masyarakat Peduli Petani (MPP). Nama ini belakangan berubah menjadi Serikat Petani Pembaharu (SPP). Melalui kelompok ini kemudian menjadi wadah para petani untuk belajar. Salah satu programnya mengembalikan hutan rakyat yang ada di dusun Salak.

Titik balik mulai terjadi pasca gempa bumi 2006. Saat itu muncul 21 titik mata air di wilayah Semoyo. Warga pun kemudian berinisiatif ubtuk melakukan penanaman pohon di sekitar sumber mata air tersebut. Tujuannya adalah untuk melestarikan sumber air tersebut agar bisa digunakan oleh warga.

“Ada lima tanaman hutan utama yang ditanam, mulai dari akasia, jati, mahoni, sonokeling, dan sengon laut. Kita juga mengajak warga untuk menanam air saat musim hujan. Caranya, membuat banyak lubang di ladang agar air bisa meresap di tanah,” kata dia.

Kegiatan tersebut terus berlanjut setiap tahunnya. Hingga kini wilayah Semoyo pun mendapatlan hasil berupa tak lagi ada kasus kekurangan air saat musim kemarau. Persediaan air di 21 titik sumber mata air masih bisa terus dimanfaatkan.

“Wilayah ini juga menjadi kawasan konservasi dan wisata. Tak hanya itu, warga mengembangkan aktivitas dengan memanfaatkan sampah dedaunan menjadi pupuk organik. Pupuk organik ini berkembang hingga memproduksi pestisida organik,” ungkap dia.

Warga juga diberikan edukasi lewat radio komunitas, namanya radio Radekka atau radio kawasan konservasi. Hal ini lantaran penggunaan radio lebih bisa diterima warga bisa didengarkan sembari aktivitas bertani atau mengurus ternak. Selain itu, di wilayah tersebut juga ada Sekolah Pertanian Rakyat (SPR) dan Sekolah Anak Petani (SAP).

“Hutan lestari secara perekonomian memang tak langsung berdampak.Tapi setidaknya bisa menjadi tabungan warga saat situasi terdesak dengan menebang kayu untuk memenuhi kebutuhan. Nilai jual akan lebih tinggi kalau kayu hasil tebang diolah jadi mebel atau kerajinan dulu,”ucapnya.

Saat ini berbagai jenis tanaman hutan ditanam di kawasan hutan rakyat seluas 475 hektar. Di sisi lain, luasan Desa Semoyo sekitar 575 hektar.

Kegigihan warga Semoyo sendiri berbuah manis. Pada tahun 2013 silam, Desa Semoyo berhasil berhasil mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kalpataru sendiri adalah penghargaan tertinggi yang diberikan negara kepada perorangan atau kelompok yang dinilai berjasa dalam melestarikan lingkungan. Tak hanya itu, penghargaan kader konservasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga diperoleh pada tahun 2016 lalu.

“Pemerintah nitip pesan agar langkah seperti yang kami lakukan terus berlanjut. Tapi, pemerintah juga seharusnya tidak membiarkan warga bergerak sendiri dalam menjaga lingkungannya,” ujarnya.

Menurut dia, hutan tersebut bisa menyerap emisi karbondioksida. Berdasarkan hitungan Suratimin, hutan di tempatnya bisa menghasilkan 32 ton karbon per hektar per tahun. Jika dihitung kasar, hutan rakyat di Desa Semoyo bisa menghasilkan 15.200 ton karbon per tahun.

Penghitungan karbon oleh warga Semoyo menjadi salah satu rujukan, terbukti 27 negara yang belajar menghitung karbon pada 2016. Tahun 2017, tujuh perwakilan negara di Asia belajar menghitung karbon di Desa Semoyo, mulai dari Cina, Thailand, India, Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina, dan Malaysia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler