fbpx
Connect with us

Sosial

Cinta Bersemi di Usia Senja, Kakek 88 Tahun Resmi Nikahi Nenek Berusia 75 Tahun

Published

on

Semin,(pidjar.com)–Kamis (27/06/2019) kemarin nampaknya menjadi hari yang tak terlupakan bagi pasangan Kiman Mitro Wiyono dan Sutinah warga Desa Bendung, Kecamatan Semin. Pasalnya di hari tersebut pasangan lanjut usia ini melancarkan ijab qobul pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Semin. Raut bahagia pun terpancar dari wajah masing-masing usai melangsungkan ijab qobul melalui masa senja mereka bersama-sama.

Ya, Kiman Mitro Wiyono dan Sutinah bukanlah pasangan muda atau paruh baya yang tengah dimabuk asmara. Keduanya melangsungkan pernikahan di usia yang sudah sangat lanjut. Mitro sendiri saat ini berusia 88 tahun yang sehari-harinya tinggal di Padukuhan Widoro Lor, Desa Bendung, Kecamatan Semin. Sementara Sutinah adalah perempuan kelahiran tahun 1947 asli Padukuhan Pencil, Desa Bendung, Kecamatan Semin. Jarak rumah keduanya tidaklah terlalu jauh, hanya sekitar ratusan meter saja.

Pernikahan ini berawal dari Mitro dan Sutinah yang berstatus janda dan duda ini sering kali bertemu. Usia lanjut tak membuat lantas benih perasaan cinta tak bisa mekar di hati keduanya. Sutinah sendiri sehari-hari memang sering kali lewat di depan rumah Mitro saat hendak pergi ke rumah saudaranya. Kedua kakek dan nenek ini memang sudah kenal cukup lama, maklum rumahnya hanya berdekatan dan sering kali bertemu.

Hingga pada pekan lalu, Sutinah datang ke rumah Mitro untuk meminta kayu bakar. Janda yang ditinggal meninggal suaminya 2 tahun silam kemudian mengatakan jika menyuruh Mitro untuk ke rumahnya. Lantaran anak angkat Sutinah sedang tidak berada di rumah. Lepas sholat Isya, Mitro yang sebenarnya tumbuh perasaan kemudian pergi ke Padukuhan Pencil di mana Sutinah tinggal.

“Lha ken ngalor (Pencil) nggih kulo gagah ngalor bar isya niko. Duko terus katah tonggo sik moro ten griyo, timbang ciloko kulo nggih siap ijab. Nyuwun tulung pak RT/RW lan dukuh (Saya diminta ke rumah Sutinah setelah habis isya. Saya tidak tahu di rumah kemudian ada banyak orang, daripada celaka, lebih baik saya siap nikah. Minta tolong kepada Ketua RT/RW dan Kepala Dukuh),” kata Mitro di samping Sutinah saat ditemui di rumahnya.

Persiapan demi persiapan dilakukan dibantu oleh tokoh masyarakat setempat dan masyarakat. Hingga pada akhirnya Kamis (27/06/2019) kemarin dilangsungkan ijab qobul di KUA Semin, tetangga dan keluarga dari masing-masing pihak pun menyaksikan ijab qobul yang terlontar dari bibir Mitro.

Dengan mas kawin uang tunai sebesar 150 ribu rupiah, di hadapan banyak orang keduanya dinyatakan sah dan menjadi pasangan resmi. Kendati demikian untuk surat-surat pernikahan lainnya masih dalam proses oleh pihak KUA.

“Seneng sakniki mpun sah dados setunggal (senang sekarang sudah sah jadi satu),” tambahnya.

Mitro sendiri merupakan seorang duda yang tak memiliki anak. Di usianya yang sidah cukup tua, ia hanya tinggal sendiri sembari mengerjakan pembuatan meja dan kursi kayu di rumahnya untuk menghasilkan uang. Ia sudah 3 kali menikah, namun tak memiliki keturunan hingga kedua istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Sementara Sutinah adalah seorang janda yang ditinggal suaminya meninggal 2 tahun lalu. Sama seperti Mitro, Sutinah juga tak memiliki anak dari buah pernikahannya terdahulu. Setiap harinya ia tinggal bersama anak angkatnya.

Mitro dan Sutinah yang saat ini sudah tinggal serumah

Selepas pernikahan sah ini, raut bahagia terpancar dari keduannya. Yang terpenting bagi Mitro adalah di usia senjanya ini ada sosok perempuan yang menemani. Paling tidak setiap pagi ada yang membuatkan sarapan, minum, mencuci dan beberes rumah.

“Nak kulo niku mboten nuntut nopo-nopo kok, sik penting enten koncone sakniki. Gaweke wedang, sarapan lan nyapu (saya tidak menuntut apa-apa, yang penting sekarang ada temannya. Dibuatkan minuman, sarapan dan membersihkan rumah),” tambah dia di samping Sutinah yang tersipu.

Jumat (28/06/2019) siang tadi diadakan prosesi boyongan. Sutinah yang awalnya tinggal di Padukuhan Pencil kemudian diboyong ikut pindahan ke Padukuhan Widoro Lor bersama dengan Mitro yang saat ini menjadi suaminya. Meski tingga sederhana di rumah berdinding anyaman bambu, paling tidak kedua lansia ini ada yang memperhatikan dan memberi kasih sayang yang penuh.

Sementara itu, Kasi Pelayanan Desa Bendung, Sukirno membenarkan adanya warga Widoro Lor dan Pencil yang menikah di usia yang tak lazim atau sudah cukup tua. Lantaran tidak ada keluarga inti yang bisa menjadi wali, maka secara keseluruhan dipasrahkan pada wali hakim yang ada. Dari masyarakat setempat pun mendukung sepenuhnya pernikahan yang dilakukan oleh pasangan renta ini.

“Sepenuhnya masyarakat mendukung. Prosesnya cukup singkat, saya persiapkan syarat-syarat hari Selasa ditandatangani pak Kades dan Kamisnya mereka sudah sah jadi pasangan suami istri,” terangnya.

Pernikahan Mitro dan Sutinah ini bukanlah kali pertama warga Bendung menikah di usia lanjut usia. Beberapa tahun silam, menurut Sutikno juga sempat terjadi pernikahan di usia tua yang serupa.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala KUA Semin, ia merekomendasi pasangan ini untuk menikah meski usianya sudah lanjut lantaran berbagai hal baik sosial dan lainnya. Salah satu diantarannya adalah agar tidak terjadi fitnah di kalangan masyarakat.

“Prosesnya cepet kok, biar ndak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saja. Yang kakung juga masih semangat dan keduannya juga sama-sama suka, tidak ada unsur paksaan,” terang Harsono, Kepala KUA Semin.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler