fbpx
Connect with us

Sosial

Dari Jualan Belalang Goreng Dadakan, Pasutri Ini Bisa Umroh ke Tanah Suci

Published

on

Playen,(pidjar.com)–Profesi apapun jika ditekuni akan memberikan berkah. Pelajaran inilah yang mungkin bisa ditarik jika melihat pengalaman hidup dari pasangan suami istri, Sukir dan Suliani, warga Padukuhan Karangasem, Desa Mulo, Kecamatan Wonosari. Berkat ketekunannya dalam menjual makanan belalang goreng, perlahan tapi pasti, keduanya bisa memperbaiki perekonomian keluarga. Yang cukup membuat salut, baik Sukir dan Suliani tetap tak melupakan Allah yang memberi mereka berkah dengan menyisihkan sebagian pendapatannya untuk melaksanakan ibadah umroh. Pasangan ini baru pulang usai menjalankan ibadah Umroh di Mekkah pada 15 Februari 2018 silam.

Sudah sejak 2 tahun terakhir ini Sukir dan Suliani berjualan belalang goreng. Mereka membuka lapak di Jalan Jogja-Wonosari, tepatnya di kawasan Hutan Tleseh, Desa Gading, Kecamatan Playen. Lapak penjualan belalang Sukir dan Suliani sendiri dapat mudah dikenali. Berbeda dengan yang lainnya yang hanya menjual belalang yang telah matang, lapak belalang Sukir membuat inovasi dengan menggoreng belalang secara dadakan.

Ketelatenan dan inovasi ini berbuah manis, dagangan belalang goreng yang dijual Sukir serta Suliani laris manis. Setiap harinya, keduanya dapat meraih omset hingga ratusan ribu rupiah.

Ditemui di sela-sela kesibukannya pada Rabu (21/02/2018) siang tadi, Sukir mengungkapkan sudah sejak lama sengaja menabung dari hasil jualannya untuk menjalankan ibadah umroh. Setelah dengan tekun menyisihkan uang, baru pada awal Februari 2018 silam ia berangkat ke Tanah Suci. Menurutnya, tekadnya untuk umroh ini merupakan bentuk syukurnya kepada Allah atas berkah dan rezeki kepada dirinya. Sukir mengaku tak ada doa khusus, dirinya hanya mengucapkan syukur atas pemberian rejeki yang diterima, selamat Dunia, dan Akhirat.

"Yang paling penting itu kan di akhirat mas,"katanya.

Diungkapkan Sukir, berkah dari Allah tersebut memang layak untuk disyukuri jika melihat beratnya beban hidup yang harus dipikulnya ketika belum alih profesi sebagai penjual belalang goreng dadakan.

Sukir bercerita, awalnya dirinya merupakan buruh serabutan. Penghasilan yang tak menentu setiap bulannya menjadikannya harus cukup pontang-panting dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Akibat perekonomian yang memburuk tersebut, sang putra semata watang, Rahmat, bahkan harus putus sekolah lantaran keterbatasan biaya.

‘Sempat mencoba berbagai macam pekerjaan tapi tidak berhasil,” kenangnya.

Situasi kemudian berbalik ketika ia yang didukung istrinya mencoba peruntungan dengan berjualan belalang. Ide ini muncul setelah melihat laris manisnya makanan belalang yang saat ini tak hanya digemari masyarakat Gunungkidul, akan tetapi juga para wisatawan.

“Awalnya saya hanya mencari belalang di sekitar rumah dan kemudian diolah lalu dijual,” beber Sukir.

Omset penjualannya mulai meningkat seiring inovasi yang dilakukannya. Di lapak sederhana yang ia buat, ia dan istrinya langsung mengolah belalang dari mulai membersihkan belalang mentah hingga menggoreng.

Kesegaran belalang goreng dadakan ini ternyata banyak pembeli yang menyukainya. Alhasil puluhan toples belalang bisa terjual setiap harinya.

“Satu toples saya jual Rp25.000, per hari bisa menjual sekitar 20 sampai 40 toples,” ujarnya.

Omset yang melimpah ini sempat membuatnya kesulitan bahan baku. Lantaran stok belalang di Gunungkidul sudah tidak mencukupi, ia pun mencari hingga luar daerah. Biasanya ia mendapatkan pasokan belalang dari Kebumen dan Kulonprogo. Namun beberapa waktu lalu, ia juga sampai harus mendatangkan bahan baku dari Surabaya.

“Butuhnya per hari memang cukup banyak, sekitar 2 sampai 6 kilogram,” papar dia.

Belakangan ini, penjualan belalang tidak hanya dilakukan di lapaknya saja. Sang anak, Rahmat juga mulai membantu proses penjualan melalui online via media sosial. Hasilnya lebih dahsyat lagi karena pesanan bertubi-tubi datang bahkan tak hanya dari luar daerah saja melainkan sampai luar negeri.

“Mulai ada pesanan dari Hongkong, Malaysia, dan Singapura. Hasilnya ya lumayan, bisa digunakan anak saya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler