fbpx
Connect with us

Budaya

Di Wareng, Batu Diduga Fragmen Candi Jadi Bahan Saluran Irigasi

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)–Gunungkidul saat ini telah menjelma sebagai salah satu destinasi pariwisata utama khususnya di DIY hingga Jawa Tengah. Setiap tahunnya, lebih dari 3 juta wisatawan datang ke obyek-obyek wisata di Gunungkidul. Namun di balik boomingnya pariwisata, satu hal yang cukup menjadi perhatian adalah ketergantungan Kabupaten Gunungkidul terhadap obyek wisata alam, khususnya pantai.

Padahal, dengan segala pernak-perniknya, Gunungkidul tak hanya mempunyai keindahan panorama pantai semata. Ada cukup banyak sisi yang bisa digali untuk memperluas khasanah pariwisata. Salah satu hal yang mungkin bisa menjadi penunjang pariwisata adalah banyaknya peninggalan-peninggalan peradaban manusia masa lampau di Gunungkidul. Selain tentunya bisa ditawarkan menjadi obyek wisata minat khusus, peninggalan peradaban manusia masa lampau ini juga menarik untuk ditelisik. Meski hingga saat ini masih belum bisa berkembang sebagai khazanah pariwisata, Dinas Kebudayaan Gunungkidul terus berkomitmen dalam menjaga dan melestarikan cagar-agar budaya agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Pengetahuan masyarakat berkaitan dengan benda-benda bersejarah sendiri juga masih rendah. Sejumlah bebatuan yang diduga merupakan bekas peninggalan candi di beberapa wilayah justru kemudian oleh warga dijadikan sebagai bahan bangunan.

Berita Lainnya  Kasus Aktif di Gunungkidul Tembus Ratusan, 10 Orang Pasien Covid19 Dirawat di Rumah Sakit

Kepala Bidang Warisan Budaya, Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Mantara, mengungkapkan, pihaknya sejauh ini telah menemukan beberapa kasus di mana bebatuan yang bersejarah tidak terlaporkan dan justru dimanfaatkan oleh masyarakat. Seperti yang terjadi di Wareng, Kapanewon Wonosari. Beberapa waktu lalu, tim dari Dinas Kebudayaan melakukan tinjauan lapangan di pekerjaan irigasi milik masyarakat setempat.

“Kita dilapori oleh Pemerintah Kalurahan Wareng perihal kemungkinan adanya batuan bekas candi yang ditemukan masyarakat. Tapi ini memang kejadian yang sudah cukup lama,” beber Agus, Rabu (16/06/2021) siang.

Saat dilakukan pengecekan, tim dari Dinas Kebudayaan menemukan bahwa bebatuan tersebut telah dipergunakan masyarakat untuk membuat saluran (irigasi). Menurut Agus, tim sendiri kesulitan untuk mengidentifikasi secara menyeluruh lantaran bebatuan tersebut telah tercampur dengan jenis batuan lain dalam bentuk bangunan. Sejumlah bebatuan sendiri juga sudah dalam kondisi hancur sehingga sulit diidentifikasi.

“Selain di Wareng juga kita temukan hal serupa di Gading, Kepanewon Playen. Kasusnya hampir sama,” papar dia.

Ia menambahkan, hal semacam ini bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat. Hal ini lantaran, untuk melakukan identifikasi bebatuan yang memiliki nilai sejarah memang tidak mudah. Apalagi saat ini, sebagian besar bebatuan yang ditemukan ini, sudah tidak dalam kondisi utuh. Untuk itu, pihaknya saat ini terus menggencarkan sosialisasi guna menambah pengetahuan masyarakat. Jangan sampai, kejadian semacam ini terulang kembali di kemudian hari.

Berita Lainnya  Program Pra Kerja Gelombang 11 Dibuka, Masyarakat Diajak Daftar

Adapun beberapa hal yang mungkin bisa menjadi pedoman sederhana masyarakat bilamana menemukan bebatuan sebagai langkah identifikasi awal kemungkinan batu bersejarah adalah, bebatuan dengan bentuk memanjang dengan sisa-sisa bentuk pahatan wajah bisa jadi merupakan menhir. Adapun untuk jenis bahan bangunan masa lampau biasanya bentuk batu persegi dengan struktur yang bagus. Juga memiliki sejumlah lekukan yang biasa berfungsi untuk menggabungkan bebatuan tersebut.

“Saat menemukan benda yang seperti ini dan diduga peninggalan masa lampau, diharapkan masyarakat segera melapor ke Dinas Kebudayaan, pasti akan kita tindak lanjuti,” lanjutnya.

Gunungkidul sendiri memiliki kekayaan cagar budaya yang cukup besar. Setidaknya saat ini, sudah ada 130 obyek yang telah resmi ditetapkan sebagai cagar budaya di Gunungkidul. Menurut Agus, jenis cagar budaya di Gunungkidul sendiri cukup bervariasi yang meliputi, benda, struktur hingga bangunan.

Berita Lainnya  Targetkan Jadi Kabupaten Layak Anak Pada 2025, Gunungkidul Masih Terganjal Infrastruktur

Adapun jumlah ini bisa bertambah seiring berkembangnya waktu mengingat masih cukup banyak obyek yang masih dalam proses penetapan maupun yang belum didaftarkan. Untuk bisa ditetapkan sebagai cagar budaya, memang setidaknya harus memenuhi sejumlah unsur-unsur yang telah ditetapkan.

“Minimal usianya 50 tahun, mempunyai nilai sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, serta kebudayaan untuk penguatan kepribadian bangsa,” beber Agus.

Seiring berkembangnya zaman, Agus menilai bahwa cagar-agar budaya saat ini dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah dalam bidang pariwisata. Dengan, berkembangnya teknologi, minat masyarakat memang sangat beragam. Dengan semakin banyak pilihan, tentu nantinya tingkat kunjungan pariwisata di Gunungkidul bisa lebih bervariasi dan bermuara pada terus meningkatnya tingkat kunjungan maupun length of stay.

Gunungkidul sendiri memiliki cerita panjang tentang peradaban manusia, khususnya saat zaman Megalithikum. Hal ini disebutnya merupakan ciri khas lantaran tidak banyak ditemui di Indonesia bahkan di dunia.

“Seperti di Goa Braholo, Rongkop, yang ditemukan tanda-tanya peradaban manusia zaman lampau. Ini adalah potensi yang harusnya bisa dimanfaatkan,” pungkasnya. (Roni)

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler