Connect with us

Budaya

Di Wareng, Batu Diduga Fragmen Candi Jadi Bahan Saluran Irigasi

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Gunungkidul saat ini telah menjelma sebagai salah satu destinasi pariwisata utama khususnya di DIY hingga Jawa Tengah. Setiap tahunnya, lebih dari 3 juta wisatawan datang ke obyek-obyek wisata di Gunungkidul. Namun di balik boomingnya pariwisata, satu hal yang cukup menjadi perhatian adalah ketergantungan Kabupaten Gunungkidul terhadap obyek wisata alam, khususnya pantai.

Padahal, dengan segala pernak-perniknya, Gunungkidul tak hanya mempunyai keindahan panorama pantai semata. Ada cukup banyak sisi yang bisa digali untuk memperluas khasanah pariwisata. Salah satu hal yang mungkin bisa menjadi penunjang pariwisata adalah banyaknya peninggalan-peninggalan peradaban manusia masa lampau di Gunungkidul. Selain tentunya bisa ditawarkan menjadi obyek wisata minat khusus, peninggalan peradaban manusia masa lampau ini juga menarik untuk ditelisik. Meski hingga saat ini masih belum bisa berkembang sebagai khazanah pariwisata, Dinas Kebudayaan Gunungkidul terus berkomitmen dalam menjaga dan melestarikan cagar-agar budaya agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Pengetahuan masyarakat berkaitan dengan benda-benda bersejarah sendiri juga masih rendah. Sejumlah bebatuan yang diduga merupakan bekas peninggalan candi di beberapa wilayah justru kemudian oleh warga dijadikan sebagai bahan bangunan.

Berita Lainnya  Ramai-ramai Desakan Dari Pejabat Gunungkidul Untuk Buka Pariwisata, Ini Jawaban Menteri Sandiaga Uno

Kepala Bidang Warisan Budaya, Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Mantara, mengungkapkan, pihaknya sejauh ini telah menemukan beberapa kasus di mana bebatuan yang bersejarah tidak terlaporkan dan justru dimanfaatkan oleh masyarakat. Seperti yang terjadi di Wareng, Kapanewon Wonosari. Beberapa waktu lalu, tim dari Dinas Kebudayaan melakukan tinjauan lapangan di pekerjaan irigasi milik masyarakat setempat.

“Kita dilapori oleh Pemerintah Kalurahan Wareng perihal kemungkinan adanya batuan bekas candi yang ditemukan masyarakat. Tapi ini memang kejadian yang sudah cukup lama,” beber Agus, Rabu (16/06/2021) siang.

Saat dilakukan pengecekan, tim dari Dinas Kebudayaan menemukan bahwa bebatuan tersebut telah dipergunakan masyarakat untuk membuat saluran (irigasi). Menurut Agus, tim sendiri kesulitan untuk mengidentifikasi secara menyeluruh lantaran bebatuan tersebut telah tercampur dengan jenis batuan lain dalam bentuk bangunan. Sejumlah bebatuan sendiri juga sudah dalam kondisi hancur sehingga sulit diidentifikasi.

“Selain di Wareng juga kita temukan hal serupa di Gading, Kepanewon Playen. Kasusnya hampir sama,” papar dia.

Ia menambahkan, hal semacam ini bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat. Hal ini lantaran, untuk melakukan identifikasi bebatuan yang memiliki nilai sejarah memang tidak mudah. Apalagi saat ini, sebagian besar bebatuan yang ditemukan ini, sudah tidak dalam kondisi utuh. Untuk itu, pihaknya saat ini terus menggencarkan sosialisasi guna menambah pengetahuan masyarakat. Jangan sampai, kejadian semacam ini terulang kembali di kemudian hari.

Berita Lainnya  Tingkat Pengangguran Terbuka Gunungkidul 2,20 Persen, Terendah di DIY

Adapun beberapa hal yang mungkin bisa menjadi pedoman sederhana masyarakat bilamana menemukan bebatuan sebagai langkah identifikasi awal kemungkinan batu bersejarah adalah, bebatuan dengan bentuk memanjang dengan sisa-sisa bentuk pahatan wajah bisa jadi merupakan menhir. Adapun untuk jenis bahan bangunan masa lampau biasanya bentuk batu persegi dengan struktur yang bagus. Juga memiliki sejumlah lekukan yang biasa berfungsi untuk menggabungkan bebatuan tersebut.

“Saat menemukan benda yang seperti ini dan diduga peninggalan masa lampau, diharapkan masyarakat segera melapor ke Dinas Kebudayaan, pasti akan kita tindak lanjuti,” lanjutnya.

Gunungkidul sendiri memiliki kekayaan cagar budaya yang cukup besar. Setidaknya saat ini, sudah ada 130 obyek yang telah resmi ditetapkan sebagai cagar budaya di Gunungkidul. Menurut Agus, jenis cagar budaya di Gunungkidul sendiri cukup bervariasi yang meliputi, benda, struktur hingga bangunan.

Berita Lainnya  Ultimatum Bupati Soal Lelang Jabatan : Jangan Coba-Coba Main Suap

Adapun jumlah ini bisa bertambah seiring berkembangnya waktu mengingat masih cukup banyak obyek yang masih dalam proses penetapan maupun yang belum didaftarkan. Untuk bisa ditetapkan sebagai cagar budaya, memang setidaknya harus memenuhi sejumlah unsur-unsur yang telah ditetapkan.

“Minimal usianya 50 tahun, mempunyai nilai sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, serta kebudayaan untuk penguatan kepribadian bangsa,” beber Agus.

Seiring berkembangnya zaman, Agus menilai bahwa cagar-agar budaya saat ini dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah dalam bidang pariwisata. Dengan, berkembangnya teknologi, minat masyarakat memang sangat beragam. Dengan semakin banyak pilihan, tentu nantinya tingkat kunjungan pariwisata di Gunungkidul bisa lebih bervariasi dan bermuara pada terus meningkatnya tingkat kunjungan maupun length of stay.

Gunungkidul sendiri memiliki cerita panjang tentang peradaban manusia, khususnya saat zaman Megalithikum. Hal ini disebutnya merupakan ciri khas lantaran tidak banyak ditemui di Indonesia bahkan di dunia.

“Seperti di Goa Braholo, Rongkop, yang ditemukan tanda-tanya peradaban manusia zaman lampau. Ini adalah potensi yang harusnya bisa dimanfaatkan,” pungkasnya. (Roni)

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata14 jam yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata1 minggu yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis1 minggu yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Libur Sekolah, Obyek-obyek Wisata Mulai Dibanjiri Siswa Study Tour

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)-Libur sekolah tahun 2026 mulai menggerakkan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk juga di Gunungkidul. Saat...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Camping Syahdu di Pantai Watukodok

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)– Gunungkidul memamg menjadi gudangnya wisata alam di DIY. Bagaimana tidak, gugusan pantai selatan Kabupaten Gunungkidul menyuguhkan panorama pesisir...

Berita Terpopuler