fbpx
Connect with us

Uncategorized

Dipercaya Bertuah, Pohon Drini Banyak Diburu Hingga Punah

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Pantai Drini dulunya sangat identik dengan keberadaan tumbuhan Santigi (Pemphis Acidula) atau yang akrab disapa masyarakat sebagai pohon drini. Namun kini keberadaanya pun sudah sangat sulit ditemukan.

Hilangnya pohon Drini sendiri terjadi sejak beberapa tahun silam. Seiring dengan perkembangan zaman serta trend bonsai membuat tanaman itu laris diburu oleh masyarakat. Sayangnya, perburuan pohon drini sendiri cukup asal-asalan. Pasalnya tanaman yang dipercayai sebagai penangkal ular itu ramai diburu hingga akar-akarnya. Sehingga tanaman tersebut benar-benar punah.

Tanaman drini diyakini bertuah untuk keselamatan, anti black magic. Selain itu, rendaman kayu dalam air juga berkhasiat mengobati penyakit perut. Kayu yang kering akan berbau harum bila digosok dengan ujung jari. Kayu ini juga banyak dicari untuk pengobatan, karena langka maka harganya sangat mahal, biasanya pohon drini tumbuh di tanah kapur yang banyak mendapat angin laut atau sering terendam air laut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Agus Priyanto mengaku akan segera menindaklanjuti permasalahan hilangnya tanaman drini dari kawasan pantai. Ia mengaku, pelestarian drini yang hilang perlu menjadi perhatian.

“Terimakasih sudah mengingatkan, ini akan segera kami bahas untuk kemudian kami tindak lanjuti,” kata Agus, Minggu (30/09/2018).

Ia mengatakan, langkah yang akan diambil pertama kali pihaknya akan melakukan pengecekan serta di lapangan. Sebab saat ini pihaknya juga fokus dalam pengembangan tanaman-tanaman langka.

“Ini malah ibu bupati memulai di telaga kemuning ada 7 pohon langka kami upayakan kami diperintah menanam pohon langka-langka itu,” imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Giring, Kecamatan Paliyan yang kerap menangkarkan pohon drini mengatakan, keberadaan drini di wilayah pantai sendiri sudah dapat dikatakan hilang. Ia menyebut kepunahan Drini sendiri diakibatkan oleh tangan jahil yang mengambil keuntungan dari bisnis bonsai. Sebab menurutnya banyak oknum yang secara sengaja merusak alam.

“Sebenarnya bisa dicangkok, bijinya juga bisa. Tapi banyak yang tidak sabar sehingga mencabut seakar-akarnya. Itu, lho yang menyebabkan kepunahan,” kata Sigit.

Ia mengatakan, untuk kembang biak drini sendiri sebenarnya tidak begitu sulit. Namun demikian, memang membutuhkan ketekunan yang lebih. Ia berarap kepada pemerintah agar memperhatikan keberadaan tanaman ini. Terlebih di kawasan Pantai Drini yang merupakan icon dan mantan gudangnya pohon drini itu.(kelvian)

 

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler