Pendidikan
Gerutu Wali Murid, Galau Pikirkan Uang Seragam dan Sumbangan Saat Sekolah Masih Libur
Saptosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Selama masa pandemi ini, kegiatan belajar mengajar di sekolah praktis ditiadakan. Hal ini sudah terjadi sejak setahun terakhir. Para siswa belajar di rumah dengan menggunakan metode daring. Kebijakan ini diambil pemerintah guna mencegah penularan covid19 di lingkungan sekolah.
Sejumlah keluhan terus muncul dari kalangan wali murid berkaitan dengan kebijakan belajar di rumah ini. Banyak yang merasa metode ini kurang efektif bagi perkembangan para siswa. Keluhan lain muncul lantaran meski tidak ada kegiatan masuk di sekolah, namun sejumlah kewajiban tetap dibebankan kepada para wali murid. Diantara yang paling dikeluhkan adalah berkaitan dengan sumbangan sekolah serta pembelian seragam.
Salah seorang wali murid kelas 10 SMKN 1 Saptosari, Pur menuturkan, pada awal tahun ajaran lalu, ia mengaku harus merogoh kocek hingga ratusan ribu untuk membeli tiga jenis seragam sekolah, satu buah wearpack, satu seragam olahraga maupun berbagai atribut. Ia dan segelintir wali murid sendiri memilih untuk membeli secara mandiri bahan seragam lantaran harga yang lebih murah. Sementara sebagian besar lainnya, memilih untuk membeli secara kolektif melalui sekolah. Sebenarnya ia tidak masalah berkaitan dengan biaya tersebut lantaran merupakan kebutuhan utama siswa dalam sekolah. Namun yang membuatnya cukup keberatan, hingga saat ini, seragam untuk anaknya itu terhitung masih baru.
“Gimana mau dipakai, lha wong sekolahnya masih libur,” ujar ibu dua orang anak itu, saat diwawancarai pidjar-com-525357.hostingersite.com, Kamis (04/02/2021).
Selama ini, seragam sekolah yang terpakai hanya jenis abu-abu putih. Itupun menurutnya hanya dipakai tidak pasti sekali dalam sebulan. Sedangkan seragam lainnya, belum pernah sekalipun terpakai meski tahun ajaran 2020/2021 sudah berjalan lebih dari 1 semester.

Pur mengaku, selain uang seragam, pihak sekolah juga sudah memulai memberikan pembahasan mengenai sumbangan sukarela. Adapun jumlah sumbangan sendiri senilai Rp. 2,5juta. Kendati belum ada pembahasan dan surat edaran lanjutan berkaitan pembayaran, hal ini cukup membuat ibu yang bekerja serabutan tersebut cukup risau. Bisa dibilang dengan keadaan pandemi semacam ini, keuangannya cukup lesu.
“Ya saya cukup keberatan lah, sekolahnya juga masih dari rumah lho. Kok ya segala macam dimintai sumbangan sukarela. Katanya suka rela kok besarannya juga ditentukan,” jelasnya.
Ia sangat berharap ke depan, pihak sekolah bisa kembali mempertimbangkan kembali untuk membebankan biaya kepada wali murid. Situasi perekonomian yang masih belum stabil, dan juga kebijakan peliburan yang masih belum pasti seharusnya bisa menjadi pertimbangan utama.
“Tak semua wali memiliki kemampuan finansial yang sama. Harusnya untuk seragam jangan diwajibkan, kecuali kalau sudah ada kepastian kapan berangkat sekolah. Saat ini keadaan sedang susahnya, sumbangan sukarela juga jangan ditentukan dan kalau bisa jangan dipungut,” tandas Pur.
Senada dengan Pur, wali siswa SMAN 1 Playen, Dwi mengaku, hingga putrinya kelas 11, ia belum juga melunasi sumbangan sukarela. Ia mengaku, saat masuk menjadi siswa baru, pihak sekolah meminta sumbangan berkisar Rp. 2,6 juta.
“Terus awal kelas 11 kemarin ada pembahasan lagi, saya nggak bisa berbuat banyak, belum ada uang,” ujarnya.
Dwi berharap, pihak sekolah lebih bijak dalam menarik sumbangan kepada para wali siswa. Terutama di masa pandemi ini. Apalagi, kegiatan belajar mengajar di sekolah juga masih diliburkan.
“Pelajarannya kan online, seandainya sumbangan sukarela yang ditentukan itu untuk pengembangan sekolah, lha siapa yang mau pakai wong belajarnya saja online,” pungkas Dwi.
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized4 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized4 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized4 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang laluLansia Asal Ponjong Ditemukan Gantung Diri di Kandang
-
Uncategorized3 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized2 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized2 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized4 minggu yang laluDua SPPG di Gunungkidul Belum Kantongi SLHS
-
Uncategorized2 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
