fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Hasil Panen Singkong di Gunungkidul Meleset Dari Target

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Kabupaten Gunungkidul terkenal akan potensi panen singkongnya yang kerap dijadikan gaplek dan dapat diolah menjadi berbagai makanan lainnya. Pemerintah sendiri pada tahun 2021 ini menargetkan panen singkong dapat mencapai 832 ribu ton. Namun kemudian, dalam penghitungan panen yang dilakukan, hasil panen singkong tahun ini masih belum mencapai target. Panen singkong di Gunungkidul masih sedikit meleset dari target yaitu pada angka 827.669 ton. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS Gunungkidul), luasan panen singkong pada tahun 2020 ini memang mengalami penurunan. Pada tahun 2018, lahan singkong adalah seluas 45,350 Hektare, kemudian pada tahun 2019 naik menjadi 45,816 Hektare, dan pada tahun 2020 turun menjadi 43,855 Hektare.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Yuwono Raharjo, mengungkapkan, luas tanam singkong di Gunungkidul saat ini mencapai 44.025 Hektare. Dari luasan tersebut, ditargetkan dapat menghasilkan panen singkong sebanyak 832 ribu ton. Namun dalam penghitungan yang dilakukan oleh pihaknya, panen singkong saat ini tak sesuai target awal yang ditentukan. Kekurangan target tersebut menurutnya terjadi karena beberapa hal di lapangan.

“Ada selisih sekitar 4.331 ton antara target dan hasil panennya,” ungkap Raharjo, Kamis (28/10/2021).

Menurutnya, penyebab hasil panen yang tak sesuai target salah satunya adalah semakin menyempitnya luas penanaman jagung oleh petani. Hal ini berdampak pada banyaknya singkong yang tidak ditanam. Selain itu, hasil panen singkong yang tak sesuai target juga dipengaruhi oleh jarak tanam batang singkong yang semakin melebar. Akibatnya, jumlah batang singkong yang ditanam di area lahan turut berkurang yang berdampak pada jumlah panen ynag dihasilkan.

Ia mencontohkan, pada tahun 2020 lalu, sebanyak 3.500 batang singkong dapat ditanam di lahan seluas satu hektare, namun pada tahun ini lahan seluas satu hektare hanya ditanami sekitar 2.500 batang saja.

Semakin melebarnya jarak tanam tersebut berdampak pada hasil panen singkong per hektarenya. Raharjo menyampaikan jika pada tahun 2020 hasil panen singkong per hektare dapat mencapai 22 ton. Namun pada tahun ini, setiap hektare lahan hasil panennya turun menjadi 18,8 ton.

“Produktifitas singkong masih bagus, dari segi harga juga bisa dibilang stabil. Singkong basah per kilo dihargai Rp. 1.200 dan untuk gaplek per kilonya Rp. 2.500,” urai Raharjo.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler