Advertorial
Hidup Sendiri di Atas Gunung Tanpa Tetangga, Pasutri Lansia Harus Jalan Ratusan Meter Cari Air
Ngawen,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Potret menyedihkan dialami oleh warga Padukuhan Sumberan RT 03/RW 03, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen. Pasangan suami istri berusia lanjut yang tak memiliki anak itu harus mengisi masa tuanya di sebuah gubuk yang jauh dari waga.Tak ada listrik maupun akses memadai untuk menuju ke rumahnya. Namun kondisi pasangan tersebut seolah luput dari perhatian.
Adalah Marjuki dan Katinem, diusianya yang sudah masuk kepala 6 ini hanya hidup berdua di tengah hutan pegunungan. Selain tempat tinggalnya yang terbuat seadanya dari bambu yang berlubang, kondisi diperparah dengan tak adanya listrik yang mengalir ke gubuk itu. Bahkan untuk mengambil air saja, tubuh yang renta tersebut harus berjalan kaki sekitar 500 meter dengan medan yang sulit menuju sumber air.
“Ke tempat tetangga pun ribuan meter jauhnya. Ke jalan raya pun jaraknya sekitar 2 km,” kata Ketua Paguyuban Manunggaling Kwulo Tancep (MKT), Ngadio, Senin (16/04/2018).
Meski panas menyengat saat terik dan dingin menusuk tulang saat hujan, keduanya tak punya pilihan selain menempati gubuk yang dianggap tak layak tersebut. Setiap malam pasangan lansia ini hanya mengandalkan lampu teplok sebagai penerang untuk melawan gelapnya malam.
Untuk memenuhi kesehariannya, Marjuki harus berjuang mencari nafkah dengan menjual kayu bakar dan menawarkannya kepada tetangga dan warga lain yang membutuhkan. Namun, tidak setiap hari warga membutuhkan kayu bakarnya. Sehingga hasil yang didapat pun tak selalu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebab satu pikul kayu yang dijualnya, Marjuki hanya menjual dengan harga sekitar Rp 20 ribu saja. Itupun tidak setiap harinya dia terima. Paling tidak dalam satu minggu ia hanya bisa menjual 3 kali atau bahkan pernah hanya terjual 1 kali dalam seminggu. Uang tersebut tentu saja tidak cukup untuk membeli beras ataupun lauk pauk yang sehat dan bergizi. Oleh karenanya ketika ia tidak memiliki uang, hanyalah gaplek thiwul yang ia santap bersama istri tercintanya.
Merasa prihatin dengan kondisi kedua lansia itu, Paguyuban MKT yang dibentuk atas inisiasi warga Desa Tancep, Kecamatan Ngawen untuk bergerak di bidang sosial di desanya, memberikan bantuan sembako untuk sementara meringankan beban hidup keduanya.
"Sembako seadanya kita berikan untuk dapat dimanfaatkan simbah berdua. Adapun dananya ini hanya seadanya dari patungan anggota," kata Ketua MKT Ngadiyo.
Lebih lanjut dikatakan, MKT sendiri merupakan Paguyuban masyarakat peduli Desa Tancep dimana setiap dua bulan sekali memiliki agenda untuk memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkan dan tidak produktif, seperti lansia atau janda yang hidup seorang diri.
“Ini merupakan kali ke tujuh kami berbagi dengan warga kurang mampu. Untuk bantuan kepada Mbah Marjuki sudah kami serahkan Minggu kemarin. Semoga dengan bantuan sembako tersebut bisa membantu meringankan bebannya,” ucap dia.
-
Uncategorized3 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized2 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized4 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
-
Uncategorized3 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized4 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized3 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
-
Uncategorized3 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized3 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized3 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized3 minggu yang laluKemarau Panjang, 53 Kejadian di Gunungkidul Hanguskan 51 Hektare
