fbpx
Connect with us

Sosial

Jelang Idul Adha di Masa Pandemi, Peternak Keluhkan Alami Omset Terendah Sepanjang Sejarah

Published

on

Semanu,(pidjar.com)–Lesunya perekonomian karena pandemi berdampak pada berbagai sektor. Salah satu yang cukup terpukul adalah sektor peternakan yang mengalami penjualan jelang Idul Adha paling rendah sepanjang sejarah. Sejumlah pedagang hewan mengeluhkan penjualan hewan qurban di masa pandemi yang mengalami penurunan yang cukup drastis. Padahal, semestinya menjelang Idul Adha seperti saat ini para peternak dan penjual kambing yang meraup untung.

Peternak sekaligus penjual kambing asal Padukuhan Wareng, Kalurahan Semanu, Kepanewonan Semanu Sagiman (45) mengaku, tahun ini merupakan penjualan terburuknya selama beternak. Biasanya menjelang hari raya kurban, sudah banyak orderan yang masuk kepadanya. Sebagian besar kambing ia jual ke Jakarta.

“Ya karena banyak yang tidak bisa berkurban, makanya penjualan menurun drastis,” ucap Sagiman, Sabtu (18/07/2020).

Beruntung, tahun ini masih bisa menembus pasar di Cibitung, Bekasi. Pelanggan yang memesan sendiri sebagian besar merupakan perusahaan-perusahaan yang membeli kurban untuk dibagi-bagikan.

“Tapi alhamdulillah saya bisa masuk di Bekasi Cibitung kerjasama dengan karang taruna di sana. Dan saya bisa masuk bisa di lapak sana. Mudah-mudahan saya dari Wonosari ini sampai di Bekasi nggak ada halangan suatu apapun,” imbuh Sagiman.

Ia berharap wabah pandemi di seluruh Indonesia segera hilang sehingga kondisinya bisa pulih seperti tahun-tahun yang lalu. Sebab dengan adanya wabah covid19 ini, permintaan hewan qurban mengalami penurunan hingga 50 %.

Berita Lainnya  Hujan Lebat dan Angin Kencang, 2 Rumah Ringsek Tertimpa Pohon

“Tahun sebelumnya biasa mengirim 150 ekor ke Jakarta dan sekitarnya, tahun ini hanya mengirim 100 ekor,” kata Sagiman.

Meski bisa mengirim 100 ekor kambing di mana penurunan yang terjadi hanya 50 ekor dibandingkan dengan hari biasa, namun ia mengaku keuntungannya juga jauh berukurang. Harganya pun ia jual berbeda.

“Lha ngirim 100 sama 150 ekor itu ongkosnya sama,”keluhnya.

Saat ini kondisi di daerah langganannya belum membaik. Di mana masih banyak perusahaan-perusahaan dan selama ini menjadi langganannya yang tutup di mana karyawannya diliburkan.

Padahal, PT atau perusahaan-perusahaan di Jakarta dan sekitarnya memang menjadi langganan terbesar dirinya selama ini. Karena perusahaan tutup, maka banyak yang tidak menyelenggarakan penyembelihan hewan qurban.

Berita Lainnya  Kembali Targetkan Raih Adipura, Masyarakat Didorong Sadar Akan Sampah

“Keadaan di sana yang ada PTnya yang tutup langganan saya. Kalau perorangan cuma sedikit,”ujarnya.

Selain permintaan yang menurun, ia juga mengeluhkan adanya penurunan harga jual hewan qurbannya. Rata-rata harga jual perekornya turun Rp 200 ribu-Rp 500 ribu tergantung pada kondisi hewan qurban yang dijual.

Sekarang ia hanya menjual kambing di harga Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Padahal tahun lalu, ia pernah menjual kambing Rp 3,5 juta hingga Rp 4 juta per ekornya.

Terlebih, keuntungannya juga semakin berkurang karena harga beli dari para petani atau peternak justru naik. Belum lagi ongkos kirim sekarang justru mengalami kenaikan di mana ia harus merogoh kocek Rp 5 juta untuk mengirim 100 ekor kambing ke Cibitung dan Bekasi.

“Saya harus keluar biaya lagi untuk itu,” tutupnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler