fbpx
Connect with us

Sosial

Jelang Musim Pancaroba, Bencana-bencana Ini Perlu Diwaspadai

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Jelang musim pancaroba yang akan segera tiba, warga masyarakat Gunungkidul dihimbau mewaspadai sejumlah potensi bencana alam. Hal itu perlu dilakukan berkaca pada pengalaman pada akhir tahun 2018 lalu di mana terjadi rentetan bencana alam menerjang Gunungkidul.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, bencana alam yang wajib diwaspadai pada musim pancaroba adalah tanah ambles dan pohon tumbang akibat angin kencang.

Bencana tanah ambles sendiri memang menjadi fenomena yang paling mengkhawatirkan akibat kondisi geografis Gunungkidul yang merupakan batuan kapur atau karst.

“Lubang atau tanah amblas tersebut,semakin mudah terjadi saat ada pengaruh hujan atau air yang meresap ke celah-celah tanah. Biasanya terjadi pada permukaan tanah yang cekung,” kata Edy, Jumat (14/09/2018).

Edy mengungkapkan setidaknya pada saat musim hujan awal tahun 2018 ini, terjadi sedikitnya 20 kejadian tanah ambles yang tersebar di sejumlah kecamatan di Gunungkidul.

Edy mengatakan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, pihaknya saat ini telah memasang sejumlah papan peringatan di lokasi tanah ambles. Selain itu sejumlah titik juga dipasangi tali sebagai pembatas di lokasi tanah ambles tersebut.

“Biasanya untuk tanah ambles yang berukuran kecil, warga menutup sendiri dengan jerami atau dedaunan. Tetapi kami menghimbau agar tidak menutup dengan tumpukan sampah karena cukup berbahaya,” imbuh Edy.

Bencana lain yang juga diwaspadai adalah terkait dengan pohon tumbang. Peristiwa semacam ini memang sangat sering terjadi. Edy mengungkapkan, langkah pencegahan pohon tumbang yang bisa dilakukan adalah dengan cara pemangkasan pohon. Selama ini diakuinya, telah banyak warga mengajukan permohonan.

“Ada juga bencana banjir. Belajar dari bencana banjir akhir tahun lalu kami berharap masyarakat yang ada di sekitaran sungai untuk lebih waspada. Sebab tahun lalu air cukup luar biasa,” imbuh dia.

Sebelumnya terkait tanah ambles, Kepala Balai Pengawasan dan perijinan ESDM wilayah, Gunungkidul, Pramuji Reswandono mengatakan, Gunungkidul memiliki ekosistem kawasan karst. Hal itu berkaitan dengan banyaknya goa serta aliran sungai bawah tanah.

“Ekosistem kawasan karst kan pola sistemnya didapati aliran bawah tanah. Banyak sistem, akuifer, gua, celah-celahnya banyak berhubungan,” ujarnya.

Dia mengatakan karena banyak wilayah Karst di Gunungkidul terutama di Selatan tersebut, menyebabkan tidak ada sungai permukaan. Kebanyakan sungai berada di bawah tanah seperti di Kecamatan Semanu, Tepus, Rongkop, Girisubo, Purwosari, Panggang, Tanjungsari, Paliyan, sebagian Playen.

Kawasan karst di wilayah Gunungkidul sendiri, sifatnya memiliki rongga yang menuju aliran sungai bawah tanah.

“Batu gamping/ kawasan karst ketika kena air hujan akan ada pelarutan, lalu ketemu sungai bawah tanah,” katanya.

Jika rongga tersebut tidak berada di pemukiman tidak akan begitu membahayakan. Namun jika ada di sekitar pemukiman atau tempat aktivitas warga perlu segera ada tindakan.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler