fbpx
Connect with us

Sosial

Kendala Besar Tangani Orang Dengan Gangguan Jiwa, Gunungkidul Hanya Miliki 1 Psikiater

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Keberadaan kaum Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) belum tertangani secara maksimal di Kabupaten Gunungkidul. Hal tersebut lantaran minimnya tenaga medis seperti psikiater ataupun psikolog untuk menangani para ODGJ tersebut. Gunungkidul sendiri saat ini hanya memiliki 1 psikiater.

Sekretaris Dinas Sosial Gunungkidul, Wijang Eka Aksara memaparkan, Dinas belum bisa mendapatkan data pasti terkait jumlah ODGJ di Gunungkidul. Menurut Wijang, hal ini lantaran ada beberapa kendala untuk melakukan pendataan. Diantaranya adalah para penyandang ODGJ dalam kategori berat biasanya memiliki mobilitas tinggi. Artinya, mereka berpindah-pindah tempat secara cepat lantaran linglung dan tak ingat lagi keberadaan rumahnya.

“Dengan mobilitas yang tinggi ini besar kemungkinan akan terjadi pengulangan-pengulangan pendataan. Hal ini yang membuat kami akhirnya sulit untuk mendata,” tutur Wijang Eka Aksara, Kamis (18/04/2019).

Terkait dengan penanganan ODGJ di Gunungkidul, Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja. Para petugas tersebut diarahkan untuk mengamankan para ODGJ yang tak terurus dan berkeliaran di jalanan. Setelah diamankan, para ODGJ itu akan mendapatkan penanganan berupa proses rehabilitasi yang menjadi kewenangan Dinsos DIY.

“Misalnya ODGJ ini mondar-mandir di jalan tidak berbusana, mereka kami ambil kemudian ranahnya Dinas Kesehatan untuk treatment kesehatan kalau mereka sembuh tugas Dinas Sosial untuk mengembalikan kepada masyarakat, bagaimana mereka bisa kembali menata hidup bekerja bersosial. Mereka kami data diajukan ke Dinas Sosial DIY untuk direhabilitasi nah nanti setelah selesai direhabilitasi yang mendampingi Dinas Sosial Kabupaten atau Kota,” urai Wijang.

Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul sendiri menurut Wijang memiliki tugas untuk memberikan pendidikan dan ketrampilan kepada ODGJ yang telah menjalani proses rehabilitasi tersebut agar bisa kembali ke kehidupan bermasyarakat. Tak hanya secara sosial saja, akan tetapi juga agar kemudian mereka memiliki ketrampilan dan bisa produktif.

Berita Lainnya  Bangkit Usai Kena PHK, Sugeng Sukses Lewat Budidaya Madu Lanceng Hingga Dipanggil Presiden ke Istana Negara

“Setiap proses rehabilitasi apapun pasti membutuhkan komunikasi ya agar lingkungan bisa kembali menerimanya. Biar penyandang ODGJ ini tidak kumat lagi dan menekuni potensinya. Kami akan dukung dan dampingi terus,” tutur Wijang.

Terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Priyanto mengatakan untuk penanganan ODGJ ini Kementrian Kesehatan memiliki Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Namun, terkait program ini, pihaknya memiliki kendala yang sangat besar mengingat hingga saat ini psikiater di Kabubaten Gunungkidul hanya ada satu tenaga saja. Jumlah psikiater yang ada ini tentunya jauh dari kata cukup untuk menangani para ODGJ.

“Kami tidak memiliki psikolog satupun. Hanya saja sementara ini layanan umum kami arahkan ke puskesmas baru nanti mendapat rujukan untuk di bawa ke RSUD. Mengingat psikiater hanya satu saja di Kabupaten Gunungkidul,” beber dia.

Dikatakan Priyanto, dalam penganan ODGJ pihaknya menerapkan sistem jemput bola. Ia mengatakan ODGJ harus ditangani serius dengan landasan Permenkes Nomor 4 Tahun 2019.

Berita Lainnya  Pendaftaran Nikah Melonjak di Bulan Syawal, Kemenag Gunungkidul Tunggu Arahan Pusat

“Di mana dalam aturan tersebut jelas dituliskan bahwa Orang Dalam Gangguan Jiwa harus mendapatkan Standar Pelayanan Minimal dengan cara pendataan dari desa-desa oleh Puskesmas di setiap kecamatan jumlah masyarakat yang mengalami ODGJ,” kata Priyanto.

Lebih lanjut ia menjelaskan, penyandang ODGJ diberikan pendampingan treatment kesehatan, karena masalahnya biasanya penyandang OGDJ membutuhkan perhatian secara khusus.

“Orang Dengan Masalah Kejiwaan apalagi Orang Dengan Gangguan Jiwa biasanya malu untuk mengakui kalau mereka sakit, makanya kami dampingi khusus ya sesuai SPM lah,” jelas Priyanto.

Sementara ini, mengingat minimnya tenaga medis di Kabupaten Gunungkiduk, dalam memberikan treatment kesehatan bagi OGDJ, Dinas Kesehatan bersama RSUD Wonosari merujuk pasien tersebut ke Rumah Sakit Grasia, Pakem, Sleman. (Ulfah)

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler